Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2009

Labeling

Bodoh sekali sih kamu, begitu saja salah, tidak bisa……

Aduh anak saya ini loh pemalu sekali……..

Dasar anak bandel……….

Beberapa orangtua pasti tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas, beberapa orangtua yang lain mungkin pernah mendengar (dan mengucapkan) versi-versi lain dari kalimat sejenis. Versi-versi lain itu bisa kalimat negatif seperti contoh-contoh di atas dan bisa juga kalimat-kalimat positif yang berisi pujian tentang kehebatan-kehebatan anaknya. Orangtua yang "sempurna" dan sulit menerima kesalahan dan kekurangan, mungkin akan lebih banyak mengatakan kalimat-kalimat negatif, orangtua yang "adil" mungkin pernah mengatakan kedua jenis kalimat tersebut tergantung keadaan anak, sementara orangtua lain yang selalu berpikir positif dan hanya mau melihat hal-hal positif pada anaknya mungkin hanya mengatakan kalimat-kalimat positif. Semua itu disebut sebagai labeling.

Labeling

Labeling adalah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia.Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu.

Dampak Terhadap Anak

Dalam teori labeling ada satu pemikiran dasar, dimana pemikiran tersebut menyatakan "seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian akan menjadi devian".Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut "anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel". Atau penerapan lain "anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh". Kalau begitu mungkin bisa juga seperti ini "Anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar".

Pemikiran dasar teori labeling ini memang yang biasa terjadi, ketika kita sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang sesuai dengan label yang kita berikan. Misalnya, seorang anak yang diberi label bodoh cenderung tidak diberikan tugas-tugas yang menantang dan punya tingkat kesulitan di atas kemampuannya karena kita berpikir "ah dia pasti tidak bisa kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia". Karena anak tersebut tidak dipacu akhirnya kemampuannya tidak berkembang lebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang akan menguatkan pendapat/label orangtua bahwa si anak bodoh. Lalu orangtua semakin tidak memicu anak untuk berusaha yang terbaik, lalu anak akan semakin bodoh. Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya, cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya. Dengan ia bertindak sesuai labelnya, orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. Hal ini menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan terus-menerus.

Dalam buku Raising A Happy Child, banyak ahli yang setuju, bahwa bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi. Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga, tidak dicintai akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko dan tetap saja tidak berprestasi.

Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseorang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya.

Saran Bagi Orangtua

Adalah penting bagi anak untuk merasa bahwa dirinya berharga dan dicintai. Perasaan ini diketemukan olehnya lewat respon orang-orang sekitarnya, terutama orang terdekat yaitu orangtua. Kalau respon orangtua positif tentunya tidak perlu dicemaskan akibatnya. Tetapi, adakalanya sebagai orangtua, tidak dapat menahan diri sehingga memberikan respon-respon negatif seputar perilaku anak. Walaupun sesungguhnya orangtua tidak bermaksud buruk dengan respon-responnya, namun tanpa disadari hal-hal yang dikatakan orangtua dan bagaimana orangtua bertindak, masuk dalam hati dan pikiran seorang anak dan berpengaruh dalam kehidupannya.

Beberapa saran bagi orangtua:

1. Berespon secara spesifik terhadap perilaku anak, dan bukan kepribadiannya. Kalau anak bertindak sesuatu yang tidak berkenan di hati, jangan berespon dengan memberikan label, karena melabel berarti menunjuk pada kepribadian anak, seperti sesuatu yang terberi dan tidak bisa lagi diperbaiki. Contoh: Kalau anak tidak berani menghadapi orang baru, jangan katakan "Aduh kamu pemalu sekali", atau "Jangan penakut begitu dong Nak", tetapi beresponlah "Tidak kenal ya dengan tante ini, jadi tidak mau menyapa. Kalau besok ketemu lagi, mau ya menyapa, kan sudah pernah kenalan". Kalau anak nakal (naughty), jangan katakan bahwa dia nakal tapi katakan bahwa perilakunya salah (misbehave). Anak-anak sering berperilaku salah, selain karena mereka memang belum mengetahui semua hal yang baik-buruk; benar-salah; boleh-tidak boleh, mereka juga suka menguji batas-batas dari orangtuanya. Misalnya, kakak merebut mainan adik, katakan "Kakak, merebut mainan orang lain itu salah, tidak boleh begitu. Kalau main sama adik gantian ya" (dan bukan mengatakan "Kakaaaaak, nakal sekali sih merebut mainan adiknya"). Dengan demikian tidak ada pesan negatif yang masuk dalam pikiran anak, dan bahkan anak didorong untuk mau bertindak benar di waktu berikutnya.

2. Gunakan label untuk kepentingan pribadi orangtua. Sebenarnya melabel tidak selamanya buruk, asalkan label tersebut digunakan orangtua untuk dirinya sendiri, agar lebih memahami dinamika perilaku anak. Misalnya, "Anakku A lebih bodoh daripada anakku B". Tapi label tersebut tidak dikatakan di depan anak, "A kamu itu kok lebih bodoh ya daripada adikmu si B". Dengan mengetahui dinamika anak lewat label yang ada dalam pikiran orangtua sendiri, hendaknya orangtua menggunakan label tersebut untuk menyusun strategi selanjutnya, agar kekurangan anak diperbaiki. Misalnya, setelah mengetahui A lebih bodoh daripada B, maka orangtua memberikan lebih banyak waktu untuk mengajarkan sesuatu dan mempersiapkan diri untuk lebih sabar jika menghadapi A.

3. Menarik diri sementara jika sudah tidak sabar. Adakalanya orangtua sudah tidak sabar dan inginnya melabel anak, misalnya "Heeeeh kamu goblok banget sih, 1 + 1 saja tidak bisa-bisa". Jika kesabaran sudah diambang batas, sebelum kata-kata negatif keluar, ada baiknya orangtua menarik diri sementara dari anak, time off. Katakan pada anak, "Papa sudah lelah, mungkin kamu juga sudah lelah. Kita istirahat dulu, nanti belajar lagi sama-sama. Siapa tahu setelah istirahat kita berdua lebih berkonsentrasi dan semangat belajar".

Bagaimana cara orangtua berbicara dan menanggapi kekurangan-kekurangan anak akan sangat berpengaruh bagi anak sepanjang hidupnya. Oleh karena itu orangtua harus sangat berahti-hati dan mempertimbangkan secara matang apa yang akan diucapkan kepada anaknya. Mulutmu harimaumu, begitulah kata pepatah, yang dalam hal ini mulut orangtua bisa menjadi harimau bagi anak. Penting sekali orangtua selalu berkata-kata positif tentang anak, agar anak jadi berpikir positif tentang dirinya dan bertumbuh dengan harga diri yang tinggi dan perasaan dicintai dan diterima.

Oleh: Martina Rini S. Tasmin, SPsi.
Sumber: http://www.e-psikologi.com/anak/160502.htm

Minggu, 09 November 2008

Apakah Anak Saya Bermasalah ?

Kegelisahan Orang Tua

Apakah anak saya bermasalah? Pertanyaan itu sering sekali terdengar diucapkan oleh para orang tua, terutama para Ibu. Umumnya mereka khawatir karena anak-anak mereka dinilai “berbeda” dengan rekan-rekan mereka. Entah dari prestasinya, sikap dan perilakunya, sifatnya, sampai dengan fisiknya. Jeli sekali pengamatan para orang tua, jika sudah menyangkut perbedaan pada anak-anaknya. Selanjutnya, orang tua cenderung berpikir “anak saya membutuhkan terapi” Artikel ini, tidak mengajak pembaca untuk mengenal ciri-ciri anak bermasalah, namun mengajak pembaca untuk memahami, dari mana munculnya keresahan tersebut.

Fakta versus persepsi pribadi

Tidak semua perbedaan yang kita lihat pada anak merupakan hal yang negatif, dan tidak semua juga positif. Orang tua seringkali lupa, bahwa ada faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi perbedaan setiap anak.

a. Faktor biologis & genetika (keturunan)

b. Faktor pola asuh

c. Faktor lingkungan

d. Faktor pendidikan

e. Faktor pengalaman (perjalanan dan pengalaman hidup sehari-hari)

Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang memiliki kondisi persis sama, bahkan kakak beradik atau anak kembar sekali pun, mengalami kondisi yang berbeda ketika mereka tumbuh dan dibesarkan. Intinya, tak ada satu manusia pun di dunia yang segala sesuatunya sama persis.

Tidak setiap perbedaan berdampak destruktif, negatif atau pun patologis. Tergantung dari kaca mata yang melihatnya :

1. Orientasi fisiologis

Tuhan menciptakan manusia, dengan berbagai variasi dan keunikannya. Semua itu memperindah manusia itu sendiri. Namun, manusia sendiri lah yang seringkali terlalu ikut campur tangan dalam merekayasa dirinya. Misalnya, melakukan operasi plastik supaya wajahnya sama seperti artis penyanyi idolanya. Padahal, perbedaan itu dimaksudkan untuk menandai ke-khas-an setiap manusia. Tuhan sudah memikirkan jauh ke depan, agar manusia tidak membutuhkan kode, nomer urut atau pun abjad untuk membedakan diri mereka satu dengan yang lainnya. Manusia bukan produk pabrikan. Jadi, tidak heran jika anak punya tampang dan penampang yang berbeda-beda, hasil sintesa antara orang tua plus, karya seni & rancangan rencana Tuhan – serta dipengaruhi proses tumbuh kembang.

Kelainan fisik – orang bilang “cacat”, sesungguhnya tidak dapat dikatakan sebagai sebuah kekurangan sang manusia itu. Sebab, kepenuhan dan kesempurnaan manusia, tidak bisa hanya dilihat dari kesempurnaan fisik, melainkan dari totalitas sebagai manusia – lahir dan batin. Tiadanya satu unsur di dalam fisiknya, menandakan adanya elemen lain yang menyempurnakan totalitas kemanusiaannya. Hanya, sayangnya – orang sering berfokus pada kekurangan dan lupa akan elemen lain yang Tuhan sudah “tanamkan” untuk menyempurnakan manusia ciptaan yang dikasihiNya.

Demikian juga dengan perbedaan fisik anak-anak. Banyak kombinasi unsur yang mempengaruhi perbedaan itu, baik unsur keturunan, gizi maupun faktor “latihan” fisik selama tumbuh kembang anak. Jika orang tua menginginkan anaknya sama persis dengan anak lain yang dianggap “ideal”, maka segala sesuatunya (kondisi fisik dan psikologis calon orang tua, termasuk nenek kakek yang melahirkan orang tua, sifat dan karakter, ciri fisiologis, kondisi rumah tangga, makanan dan gizi, dsb) harus sama persis jauh sebelum masa konsepsi. Apakah mungkin ?

Kita para orang tua yang sering kali terlalu panik ketika melihat kecepatan perkembangan anak kita berbeda dari yang lain. Bahkan, sangat cemas ketika melihat perbedaan fisik anak (anak kita lebih kurus atau lebih pendek dari temannya) dan lupa – bahwa perbedaan itu juga disebabkan oleh perbedaan kita, para orang tua. Orang tua sering mudah menyalahkan anak dan menganggap anaknya “tidak pandai”, malas, terlambat, terbelakang, lembek, lemah, jelek, dsb – dan akhirnya mendorong / menuntut anak untuk cepat-cepat menyaingi – minimal menjadi seperti ukuran ideal orang tua. Memang, dampak positifnya, bisa jadi ada perbaikan gizi dan perbaikan kegiatan untuk pengembangan fisik. Tapi, negatifnya, orang tua terlalu melihat pada hasil akhir dan lupa – luput melihat keajaiban kecil yang terjadi setiap saat di masa perkembangan anak, sesuai dengan proses kematangan (fisik-fisiologis) anak mereka sendiri. Orang tua jadi tidak menghargai upaya anak, dan tidak menghargai campur tangan Tuhan yang membantu tumbuh kembang anak karena orang tua terlampau ngotot dan fokus pada hasil.

2. Orientasi psikologis

Manusia senang sekali menilai dan membandingkan segala sesuatu, sepertinya tidak pernah menemukan titik temu antara kepuasan, keinginan ideal dengan kenyataan. Masalahnya, jika yang dinilai dan dibicarakan adalah “manusia” dan manusia itu adalah “anak”, persoalan sering jadi rumit. Anak adalah ibarat sebuah diamond – berlian, yang terdiri dari ratusan – bisa lebih – irisan, sudut, facets. Setiap sinar yang masuk, akan menghasilkan dimensi warna tersendiri. Dan, tidak ada diamond yang secara alami, memiliki irisan yang sama persis.

Pribadi, identitas dan diri seorang anak, akan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor di atas (pola asuh, dsb) dan faktor di atas juga sangat bervariasi dan berbeda derajatnya satu sama lainnya. Contoh : pola asuh orang tua, mempengaruhi sifat, karakter kepribadian anak. Pola asuh orang tua, pada dasarnya merupakan sintesa – hasil dinamika dua pribadi (ayah dan ibu) dalam mengasuh, mendidik dan menghadapi anak. Jika hendak diperdalam lagi, pribadi ayah yang menghasilkan pola sikap tertentu terhadap anak – juga hasil dari pola asuh orang tua sang ayah.

Jadi, ketika ada orang tua mempertanyakan : “kenapa ya kok sifat anak saya seperti itu?” sebenarnya, yang pertama kali harus dilakukan, adalah bercermin pada diri sendiri dan kilas balik ke belakang – bagaimana ayah dan ibu kita (dan kepribadian mereka) mempengaruhi pembentukan kepribadian kita para orang tua sehingga seringkali tanpa sadar kita lah yang mengarahkan anak untuk mengembangkan sifat-karakter-kebiasaan-perilaku dan segala sesuatu – seperti diri kita, bahkan, sedapat mungkin lebih sempurna dari diri kita. Kita lupa, bahwa anak – punya jalur, jalan hidup, panggilan hidup dan pribadi dan identitas nya sendiri, misi hidup yang berbeda dari orang tua, yang di-desain khusus sebelum dirinya menjelajah dunia. Orang tua, tanpa sadar menjadikan anaknya extended version.

Masalahnya kemudian, ketika anak tidak berkembang sesuai dengan “buku panduan”, orang tua lantas buru-buru mendiagnosa bahwa anaknya punya masalah, kelainan atau pun kelemahan yang harus segera di atasi dengan cara di - treatment. Padahal, orang tua sekali lagi lupa, bahwa mereka menggunakan acuan persepsi diri subyektif – plus ambisi pribadi, dalam menilai, mengukur perkembangan kejiwaan dan pribadi anak. Yang kasihan, ketika anak mengalami masalah, misalnya masalah emosional (resah, jadi pendiam, atau pemarah, mudah menangis, sulit mengendalikan emosi, dsb) – orang tua hanya melihatnya secara parsial, bahwa “anak saya bermasalah” dan “anak saya membutuhkan treatment”. Orang tua seringkali lupa, bahwa anak – dan reaksinya, antara lain merupakan hasil sintesa dari 2 kepribadian, pola sikap dan karakter orang tua yang berbeda, termasuk dan tersangkut pula di dalamnya masalah kejiwaan sang orang tua. Jadi, jika anak kita terlihat memiliki masalah emosional, jangan tergesa-gesa untuk mendapatkan instant treatment buat anak. Karena, ibarat sehelai daun menguning, maka bukan daun itu sendiri yang menyebabkannya, melainkan kesatuan sistem pohon turut serta dalam proses “penguningan”. Artinya, periksa dulu diri kita masing-masing, dan kemudian periksa hubungan kita dengan pasangan dan dengan anak. Segala sesuatu berawal dari situ, khususnya untuk masalah emosional – non medis / physiologis (misal, kelainan otak).

Sebelum kita menganggap anak kita bermasalah, lebih baik kita evaluasi beberapa hal terlebih dahulu :

a. Apa yang sedang terjadi di dalam keluarga

Apakah ada perubahan dalam keluarga sehingga merubah tatanan, kebiasaan atau pun stabilitas keluarga.

b. Apakah yang sedang dialami anak di sekolah

Apakah ada masalah, tantangan atau kesulitan yang dihadapi anak di sekolah

c. Bagaimakah pola komunikasi di rumah, antara orang tua dan antara anak dengan orang tua?

Pola komunikasi akan turut mempengaruhi kondisi kejiwaan anak, secara langsung dan tak langsung. Anak yang terbiasa mengekspresikan diri apa adanya, memiliki freedom to be and to fail environment, akan lebih rileks dalam menghadapi kesulitan karena dia bisa membicarakannya pada orang tua, tanpa dibayangi rasa takut, malu atau pun merasa bersalah karena dirinya tak mampu memenuhi harapan orang tua

d. Bagaimakah sifat kita masing-masing sebagai orang tua?

Dan bagaimana pola pemecahan masalah yang biasa kita lakukan ?

Bercerminlah pada diri sendiri. Apakah ada kesamaan ciri, pola, elemen antara orang tua dengan anak – karena anak tanpa sadar juga belajar dari dan meniru orang tua

e. Apakah yang ingin diungkapkan anak melalui permasalahannya?

Setiap masalah yang terjadi, mengajarkan kita sebuah nilai kehidupan. Kalau kita hanya terfokus pada dampaknya (seringkali dampaknya pada diri kita – para orang tua, yakni : rasa malu kalau anaknya “ketinggalan”, “bermasalah” dsb), kita jadi luput mengambil pelajaran dan “pesan” yang harusnya kita dapatkan dari masalah yang sedang menimpa anak maupun diri kita. Misalnya, anak resah, gelisah, sulit konsentrasi, mudah marah dan menangis, sulit kerja sama dengan temannya di kelas – alih-alih melihat apa yang ingin diungkapkannya melalui “unspoken language”, orang tua sering buru-buru mencari orang yang bisa “menyembuhkan” atau “mengembalikan” anak mereka ke kondisi “normal”. Tapi, ketika orang tua juga diminta untuk terlibat secara aktif, bahkan ikut “di-therapy”, kontan saja mereka menolak karena merasa “tidak bermasalah” dan hanya “anak saya yang bermasalah”.

Jika demikian, orang tua akan sulit memahami permasalahan yang sesungguhnya, bahkan mungkin sekali – tidak ingin tahu permasalahan yang sesungguhnya, jika mereka lah yang harus “dikutak katik”, harus self-healing. Siap-siap saja untuk menghadapi masalah demi masalah yang kurang lebih serupa dengan intensitas yang semakin tinggi – hanya karena tidak menangkap “pesan” kehidupan yang harus dipahami supaya memperoleh kehidupan yang lebih berkualitas dan anak-anak yang lebih sehat jasmani dan rohani

Oleh Jacinta F. Rini

sumber: http://www.e-psikologi.com/anak/060106.htm

Tak Salah