<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826</id><updated>2011-10-08T07:26:05.997+07:00</updated><category term='Ekonomi'/><category term='sosiologi'/><category term='sejarah'/><category term='Psikologi'/><category term='Manajemen'/><category term='Arkeologi'/><category term='Hukum'/><category term='Gender'/><category term='Pendidikan'/><category term='sains dan teknologi'/><category term='Filsafat'/><category term='Matematika'/><category term='Psikologi Pendidikan'/><category term='Antropologi'/><category term='Komunikasi'/><category term='sastra'/><title type='text'>kumpulan tugas makalah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>163</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-2878677591250293464</id><published>2011-01-10T13:34:00.000+07:00</published><updated>2011-01-10T13:34:53.859+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Proposal Penelitian Kualitatif (Skripsi)</title><content type='html'>ImagePenelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistic-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya. Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan cirri-ciri naturalistic yang penuh keotentikan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Format Proposal Penelitian Kualitatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Konteks Penelitian atau Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini memuat uraian tentang latar belakang penelitian, untuk maksud apa peelitian ini dilakukan, dan apa/siapa yang mengarahkan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Fokus Penelitian atau Rumusan Masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fokus penelitian memuat rincian pernyataan tentang cakupan atau topik-topik pokok yang akan diungkap/digali dalam penelitian ini. Apabila digunakan istilah rumusan masalah, fokus penelitian berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dalam penelitian dan alasan diajukannya pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan ini diajukan untuk mengetahui gambaran apa yang akan diungkapkan di lapangan. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan harus didukung oleh alasan-alasan mengapa hal tersebut ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan-alasan ini harus dikemukakan secara jelas, sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang holistik, induktif, dan naturalistik yang berarti dekat sekali dengan gejala yang diteliti. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan setelah diadakan studi pendahuluan di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan penelitian merupakan sasaran hasil yang ingin dicapai dalam penelitian ini, sesuai dengan fokus yang telah dirumuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Landasan Teori&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan teori dimanfaatkan sebagai pemandu agar fokus penelitian sesuai dengan kenyataan di lapangan. Selain itu landasan teori juga bermanfaat untuk memberikan gambaran umum tentang latar penelitian dan sebagai bahan pembahasan hasil penelitian. Terdapat perbedaan mendasar antara peran landasan teori dalam penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Dalam penelitian kuantitatif, penelitian berangkat dari teori menuju data, dan berakhir pada penerimaan atau penolakan terhadap teori yang digunakan; sedangkan dalam penelitian kualitatif peneliti bertolak dari data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan penjelas, dan berakhir dengan suatu “teori”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kegunaan Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini ditunjukkan kegunaan atau pentingnya penelitian terutama bagi pengembangan ilmu atau pelaksanaan pembangunan dalam arti luas. Dengan kata lain, uraian dalam subbab kegunaan penelitian berisi alasan kelayakan atas masalah yang diteliti. Dari uraian dalam bagian ini diharapkan dapat disimpulkan bahwa penelitian terhadap masalah yang dipilih memang layak untuk dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Metode Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab ini memuat uraian tentang metode dan langkah-langkah penelitian secara operasional yang menyangkut pendekatan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, prosedur pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Pendekatan dan Jenis Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian II peneliti perlu menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, dan menyertakan alasan-alasan singkat mengapa pendekatan ini digunakan. Selain itu juga dikemukakan orientasi teoretik, yaitu landasan berfikir untuk memahami makna suatu gejala, misalnya fenomenologis, interaksi simbolik, kebudayaan, etnometodologis, atau kritik seni (hermeneutik). Peneliti juga perlu mengemukakan jenis penelitian yang digunakan apakah etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, ekologis, partisipatoris, penelitian tindakan, atau penelitian kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.&amp;nbsp; Kehadiran Peneliti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian ini perlu disebutkan bahwa peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus pengumpul data. Instrumen selain manusia dapat pula digunakan, tetapi fungsinya terbatas sebagai pendukung tugas peneliti sebagai instrumen. Oleh karena itu, kehadiran peneliti di lapangan untuk penelitian kualitatif mutlak diperlukan. Kehadiran peneliti ini harus dilukiskan secara eksplisit dalam laopran penelitian. Perlu dijelaskan apakah peran peneliti sebagai partisipan penuh, pengamat partisipan, atau pengamat penuh. Di samping itu perlu disebutkan apakah kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti oleh subjek atau informan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.&amp;nbsp; Lokasi Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian lokasi penelitian diisi dengan identifikasi karakteristik lokasi dan alasan memilih lokasi serta bagaimana peneliti memasuki lokasi tersebut. Lokasi hendaknya diuraikan secara jelas, misalnya letak geografis, bangunan fisik (jika perlu disertakan peta lokasi), struktur organisasi, program, dan suasana sehari-hari. Pemilihan lokasi harus didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan kemenarikan, keunikan, dan kesesuaian dengan topik yang dipilih. Dengan pemilihan lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal yang bermakna dan baru. Peneliti kurang tepat jika megutarakan alasan-alasan seperti dekat dengan rumah peneliti, peneliti pernah bekerja di situ, atau peneliti telah mengenal orang-orang kunci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.&amp;nbsp; Sumber Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini dilaporkan jenis data, sumber data, da teknik penjaringan data dengan keterangan yang memadai. Uraian tersebut meliputi data apa saja yang dikumpulkan, bagaimana karakteristiknya, siapa yang dijadikan subjek dan informan penelitian, bagaimana ciri-ciri subjek dan informan itu, dan dengan cara bagaimana data dijaring, sehingga kredibilitasnya dapat dijamin. Misalnya data dijaring dari informan yang dipilih dengan teknik bola salju (snowball sampling).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif harus digunakan dengan penuh kehati-hatian. Dalam penelitian kualitatif tujuan pengambilan sampel adalah untuk mendapatkan informasi sebanyak mungkin, bukan untuk melakukan rampatan (generalisasi). Pengambilan sampel dikenakan pada situasi, subjek, informan, dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Prosedur Pengumpulan Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bagian ini diuraikan teknik pengumpulan data yang digunakan, misalnya observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Terdapat dua dimensi rekaman data: fidelitas da struktur. Fidelitas mengandung arti sejauh mana bukti nyata dari lapangan disajikan (rekaman audio atau video memiliki fidelitas tinggi, sedangkan catatan lapangan memiliki fidelitas kurang). Dimensi struktur menjelaskan sejauh mana wawancara dan observasi dilakukan secara sistematis dan terstruktur. Hal-hal yang menyangkut jenis rekaman, format ringkasan rekaman data, dan prosedur perekaman diuraikan pada bagian ini. Selain itu dikemukakan cara-cara untuk memastikan keabsahan data dengan triangulasi dan waktu yang diperlukan dalam pengumpulan data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Analisis Data&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian analisis data diuraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis transkrip-transkrip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar peneliti dapat menyajikan temuannya. Analisis ini melibatkan pengerjaan, pengorganisasian, pemecahan dan sintesis data serta pencarian pola, pengungkapan hal yang penting, dan penentuan apa yang dilaporkan. Dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan selama dan setelah pengumpulan data, dengan teknik-teknik misalnya analisis domain, analisis taksonomis, analisis komponensial, dan analisis tema. Dalam hal ini peneliti dapat menggunakan statistik nonparametrik, logika, etika, atau estetika. Dalam uraian tentang analisis data ini supaya diberikan contoh yang operasional, misalnya matriks dan logika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Pengecekan Keabsahan Temuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini memuat uraian tentang usaha-usaha peneliti untuk memperoleh keabsahan temuannya. Agar diperoleh temuan dan interpretasi yang absah, maka perlu diteliti kredibilitasnya dengan mengunakan teknik-teknik perpanjangan kehadiran peneliti di lapangan, observasi yang diperdalam, triangulasi(menggunakan beberapa sumber, metode, peneliti, teori), pembahasan sejawat, analisis kasus negatif, pelacakan kesesuaian hasil, dan pengecekan anggota. Selanjutnya perlu dilakukan pengecekan dapat-tidaknya ditransfer ke latar lain (transferrability), ketergantungan pada konteksnya (dependability), dan dapat-tidaknya dikonfirmasikan kepada sumbernya (confirmability) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Tahap-tahap Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini menguraikann proses pelaksanaan penelitian mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya, sampai pada penulisan laporan.&lt;br /&gt;7. Daftar Rujukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.&amp;nbsp; nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.&amp;nbsp; tahun penerbitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.&amp;nbsp; judul, termasuk subjudul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.&amp;nbsp; kota tempat penerbitan, dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.&amp;nbsp; nama penerbit.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-2878677591250293464?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/2878677591250293464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=2878677591250293464' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/2878677591250293464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/2878677591250293464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2011/01/proposal-penelitian-kualitatif-skripsi.html' title='Proposal Penelitian Kualitatif (Skripsi)'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-6812483503878626330</id><published>2009-12-22T15:23:00.000+07:00</published><updated>2009-12-22T15:24:12.270+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Matematika'/><title type='text'>Menyelesaikan Soal Cerita Dengan Model Matematika</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menyelesaikan soal cerita (penerapan dari system persamaan linear dua variabel), perlu dibuatkan model matematika. Model matematika merupakan terjemahan soal cerita dalam bentuk persamaan matematika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Langkah-langkahnya :&lt;br /&gt;1. Simak soal cerita dengan baik, kemudian nyatakan variabel yang belum diketahui dalam x dan y.&lt;br /&gt;2. Buatlah persamaannya.&lt;br /&gt;Contoh 1 :&lt;br /&gt;Diketahui keliling sebuah persegi panjang adalah 60 cm. jika panjang dan lebarnya memiliki selisih 6 cm, buatlah model matematikanya !&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Misal : panjang = x cm dan lebarnya = y cm.&lt;br /&gt;Keliling :                                                           selisih :&lt;br /&gt;2p + 2l = K                                                    p – l = 6&lt;br /&gt;2x + 2y = 60                                                  x – y = 6 ………………………….(2)&lt;br /&gt;  x + y = 30…………….(1)&lt;br /&gt;model matematikanya x + y = 30 dan x – y = 6.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan soal cerita&lt;br /&gt;Contoh :&lt;br /&gt;Harga 3 mangkuk bakso dan 3 gelas es the Rp. 15.000,00 dan 4 mangkuk bakso dan 3 gelas es teh harganya Rp. 19.000,00. Tentukan harga 1 mangkuk bakso dan 1 gelas es teh?&lt;br /&gt;Jawab :&lt;br /&gt;Misal : Harga  1 mangkuk bakso adalah x,&lt;br /&gt;      Harga 1 gelas es teh adalah y.&lt;br /&gt;Maka, model matematika system persamaan linearnya:&lt;br /&gt;3x + 3y = 15.000&lt;br /&gt;4x + 3y = 19.000&lt;br /&gt;Model ini dapat diselesaikan dengan cara eliminasi dan substitusi.&lt;br /&gt;Eliminasi y :&lt;br /&gt;3x + 3y = 15.000&lt;br /&gt;4x + 3y = 19.000&lt;br /&gt;-x           = - 4000&lt;br /&gt;x            = 4000&lt;br /&gt;substitusikan x = 4000 ke persamaan 3x + 3y = 15.000.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-6812483503878626330?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/6812483503878626330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=6812483503878626330' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/6812483503878626330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/6812483503878626330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2009/12/menyelesaikan-soal-cerita-dengan-model.html' title='Menyelesaikan Soal Cerita Dengan Model Matematika'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-1587164751625509834</id><published>2009-03-15T18:02:00.000+07:00</published><updated>2009-03-15T18:03:07.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Pendidikan'/><title type='text'>Psikonaliasis</title><content type='html'>Psikonaliasis disebut-sebut sebagai kekuatan pertama dalam aliran psikologi. Aliran ini pertama kali dikembangkan pada tahun 1890-an oleh Simund Freud, seorang ahli neurologi yang berhasil menemukan cara-cara pengobatan yang efektif bagi pasien-pasien yang mengalami gangguan gejala neurotik dan histeria melalui teknik pengobatan eksperimental yang disebut abreaction, sebuah kombinasi antara teknik hipnotis dengan katarsis, yang dia pelajari dari senior sekaligus sahabatnya, Dr. Josef Breuer. Bersama-sama dengan Breuer, Freud menangani pasien-pasien dengan gangguan histeria yang menjadi bahan bagi tulisannya, :”Studies in Histeria”. Kerjasamanya dengan Jean Martin Charcot, dokter syaraf terkenal di Perancis, dia banyak menggali tentang gejala-gejala psikosomatik dari pasien-pasien yang mengalami gangguan seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Freud berhasil mengembangkan teori kepribadian yang membagi struktur mind ke dalam tiga bagian yaitu : consciousness (alam sadar), preconsciousness (ambang sadar) dan unconsciousness (alam bawah sadar). Dari ketiga aspek kesadaran, unconsciousness adalah yang paling dominan dan paling penting dalam menentukan perilaku manusia (analoginya dengan gunung es). Di dalam unsconscious tersimpan ingatan masa kecil, energi psikis yang besar dan instink. Preconsciousness berperan sebagai jembatan antara conscious dan unconscious, berisi ingatan atau ide yang dapat diakses kapan saja. Consciousness hanyalah bagian kecil dari mind, namun satu-satunya bagian yang memiliki kontak langsung dengan realitas. Freud mengembangkan konsep struktur mind tersebut dengan mengembangkan “mind apparatus”, yaitu yang dikenal dengan struktur kepribadian Freud dan menjadi konstruknya yang terpenting, yaitu id, ego dan super ego. Id adalah struktur paling mendasar dari kepribadian, seluruhnya tidak disadari dan bekerja menurut prinsip kesenangan, tujuannya pemenuhan kepuasan yang segera. Ego berkembang dari id, struktur kepribadian yang mengontrol kesadaran dan mengambil keputusan atas perilaku manusia. Superego, berkembang dari ego saat manusia mengerti nilai baik buruk dan moral. Superego merefleksikan nilai-nilai sosial dan menyadarkan individu atas tuntuta moral. Apabila terjadi pelanggaran nilai, superego menghukum ego dengan menimbulkan rasa salah. Ego selalu menghadapi ketegangan antara tuntutan id dan superego. Apabila tuntutan ini tidak berhasil diatasi dengan baik, maka ego terancam dan muncullah kecemasan (anxiety). Dalam rangka menyelamatkan diri dari ancaman, ego melakukan reaksi defensif /pertahanan diri. Hal ini dikenal sebagai defense mecahnism yang jenisnya bisa bermacam-macam, seperti : identifikasi, proyeksi, fiksasi, agesi regresi, represi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Psikoanalisis dari Freud semakin terus berkembang, Alfred Adler (1870-1937), sebagai pengikut Freud yang berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut dengan Individual Psychology. Konsep utama Adler adalah organ inferiority. Berangkat dari teorinya tentang adanya inferiority karena kekurangan fisik yang berusaha diatasi manusia, ia memperluas teorinya dengan menyatakan bahwa perasaan inferior adalah universal. Setiap manusia pasti punya perasaan inferior karena kekurangannya dan berusaha melakukan kompensasi atas perasaan ini. Kompensasi ini bisa dalam bentuk menyesuaikan diri ataupun membentuk pertahanan yang memungkinkannya mengatasi kelemahan tersebut. Selanjutnya, Adler juga membahas tentang striving for superiority, yaitu dorongan untuk mengatasi inferiority dengan mencapai keunggulan. Dorongan ini sifatnya bawaan dan merupakan daya penggerak yang kuat bagi individu sepanjang hidupnya. Adanya striving for superiority menyebabkan manusia selalu berkembang ke arah kesempurnaan. Teorinya ini yang membuat Adler memiliki pandangan lebih optimis dan positif terhadap manusia serta lebih berorientasi ke masa depan dibandingkan Freud yang lebih berorientasi ke masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carl Gustav Jung (1875-1961), salah seorang murid Freud yang kemudian berhasil mengembangkan teorinya sendiri yang disebut Analytical Psychology. Jung menekankan pada aspek ketidakadaran dengan konsep utamanya, collective unconscious. Konsep ini sifatnya transpersonal, ada pada seluruh manusia. Hal ini dapat dibuktikan melalui struktur otak manusia yang tidak berubah. Collective unconscious terdiri dari jejak ingatan yang diturunkan dari generasi terdahulu, cakupannya sampai pada masa pra-manusia. Misalnya, cinta pada orangtua, takut pada binatang buas,dan lain-lain. Collective unconscious ini menjadi dasar kepribadian manusia karena didalamnya terkandung nilai dan kebijaksanaan yang dianut manusia. Ide-ide yang diturunkan atau primordial images disebut sebagai archetype, yang terbentuk dari pengalaman yang berulang dalam kurun waktu yang lama. Ada beberapa archetype mendasar pada manusia, yaitu persona, anima, shadow, self. Archetype inilah yang menjadi isi collective unconsciousness. (Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga saat ini di Amerika Serikat tercatat sekitar 35 lembaga pelatihan Psikoanalisis yang telah terakreditasi oleh American Psychoanalytic Association dan terdapat lebih dari 3.000 lulusannya yang menjalankan praktik psikoanalisis. Pemikiran psikoanalisis tidak hanya berkembang di Amerika di hampir seluruh belahan Eropa dan belahan dunia lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teori yang dihasilkan dari kalangan psikoanalisis, diantaranya : (1) teori konflik; (2) psikologi ego; (3) teori hubungan-hubungan objek; (4) teori struktural; dan sebagainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kontroversi yang menyertainya, psikoanalisis merupakan salah satu aliran psikologi yang telah berhasil menguak sisi kehidupan manusia yang tidak bisa diamati secara inderawi. Psikoanalisis telah mengantarkan pelopornya, yaitu Sigmund Freud sebagai salah satu tokoh psikologi yang paling populer di Amerika pada abad ke-20.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hana Panggabean, 2007, http://rumahbelajarpsikologi.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wikipedia. 2007. Psychoanalysis. http://en.wikipedia.org/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-1587164751625509834?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/1587164751625509834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=1587164751625509834' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/1587164751625509834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/1587164751625509834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2009/03/psikonaliasis.html' title='Psikonaliasis'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-4422576692277703828</id><published>2009-03-15T18:01:00.000+07:00</published><updated>2009-03-15T18:02:01.575+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Pendidikan'/><title type='text'>Behaviorisme</title><content type='html'>Behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang meyakini bahwa untuk mengkaji perilaku individu harus dilakukan terhadap setiap aktivitas individu yang dapat diamati, bukan pada peristiwa hipotetis yang terjadi dalam diri individu. Oleh karena itu, penganut aliran behaviorisme menolak keras adanya aspek-aspek kesadaran atau mentalitas dalam individu. Pandangan ini sebetulnya sudah berlangsung lama sejak jaman Yunani Kuno, ketika psikologi masih dianggap bagian dari kajian filsafat. Namun kelahiran behaviorisme sebagai aliran psikologi formal diawali oleh J.B. Watson pada tahun 1913 yang menganggap psikologi sebagai bagian dari ilmu kealaman yang eksperimental dan obyektif, oleh sebab itu psikologi harus menggunakan metode empiris, seperti : observasi, conditioning, testing, dan verbal reports.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori utama dari Watson yaitu konsep stimulus dan respons (S-R) dalam psikologi. Stimulus adalah segala sesuatu obyek yang bersumber dari lingkungan. Sedangkan respon adalah segala aktivitas sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat sederhana hingga tingkat tinggi. Watson tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu perilaku dan perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan sangat penting. Pemikiran Watson menjadi dasar bagi para penganut behaviorisme berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori-teori yang dikembangkan oleh kelompok behaviorisme terutama banyak dihasilkan melalui berbagai eksperimen terhadap binatang. Berikut ini disajikan beberapa teori penting yang dihasilkan oleh kelompok behaviorisme:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.&lt;br /&gt;    * Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.&lt;br /&gt;    * Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.&lt;br /&gt;    * Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Operant Conditioning menurut B.F. Skinner&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.&lt;br /&gt;    * Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reber (Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Social Learning menurut Albert Bandura&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-4422576692277703828?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/4422576692277703828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=4422576692277703828' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/4422576692277703828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/4422576692277703828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2009/03/behaviorisme.html' title='Behaviorisme'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-8253655040609609397</id><published>2009-03-15T18:00:00.000+07:00</published><updated>2009-03-15T18:01:26.639+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Pendidikan'/><title type='text'>psikologi humanistik</title><content type='html'>Psikologi humanistik merupakan salah satu aliran dalam psikologi yang muncul pada tahun 1950-an, dengan akar pemikiran dari kalangan eksistensialisme yang berkembang pada abad pertengahan. Pada akhir tahun 1950-an, para ahli psikologi, seperti : Abraham Maslow, Carl Rogers dan Clark Moustakas mendirikan sebuah asosiasi profesional yang berupaya mengkaji secara khusus tentang berbagai keunikan manusia, seperti tentang : self (diri), aktualisasi diri, kesehatan, harapan, cinta, kreativitas, hakikat, individualitas dan sejenisnya.&lt;br /&gt;Kehadiran psikologi humanistik muncul sebagai reaksi atas aliran psikoanalisis dan behaviorisme serta dipandang sebagai “kekuatan ketiga “ dalam aliran psikologi. Psikoanalisis dianggap sebagai kekuatan pertama dalam psikologi yang awal mulanya datang dari psikoanalisis ala Freud yang berusaha memahami tentang kedalaman psikis manusia yang dikombinasikan dengan kesadaran pikiran guna menghasilkan kepribadian yang sehat. Kelompok psikoanalis berkeyakinan bahwa perilaku manusia dikendalikan dan diatur oleh kekuatan tak sadar dari dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan psikologi yang kedua adalah behaviorisme yang dipelopori oleh Ivan Pavlov dengan hasil pemikirannya tentang refleks yang terkondisikan. Kalangan Behavioristik meyakini bahwa semua perilaku dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal dari lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengembangkan teorinya, psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik-beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Dalam hal ini, James Bugental (1964) mengemukakan tentang 5 (lima) dalil utama dari psikologi humanistik, yaitu: (1) keberadaan manusia tidak dapat direduksi ke dalam komponen-komponen; (2) manusia memiliki keunikan tersendiri dalam berhubungan dengan manusia lainnya; (3) manusia memiliki kesadaran akan dirinya dalam mengadakan hubungan dengan orang lain; (4) manusia memiliki pilihan-pilihan dan dapat bertanggung jawab atas pilihan-pilihanya; dan (5) manusia memiliki kesadaran dan sengaja untuk mencari makna, nilai dan kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa ahli psikologi yang telah memberikan sumbangan pemikirannya terhadap perkembangan psikologi humanistik. Sumbangan Snyggs dan Combs (1949) dari kelompok fenomenologi yang mengkaji tentang persepsi. Dia percaya bahwa seseorang akan berperilaku sejalan dengan apa yang dipersepsinya. Menurutnya, bahwa realitas bukanlah sesuatu yang yang melekat dari kejadian itu sendiri, melainkan dari persepsinya terhadap suatu kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pemikiran Abraham Maslow (1950) yang memfokuskan pada kebutuhan psikologis tentang potensi-potensi yang dimiliki manusia. Hasil pemikirannya telah membantu guna memahami tentang motivasi dan aktualisasi diri seseorang, yang merupakan salah satu tujuan dalam pendidikan humanistik. Morris (1954) meyakini bahwa manusia dapat memikirkan tentang proses berfikirnya sendiri dan kemudian mempertanyakan dan mengoreksinya. Dia menyebutkan pula bahwa setiap manusia dapat memikirkan tentang perasaan-persaannya dan juga memiliki kesadaran akan dirinya. Dengan kesadaran dirinya, manusia dapat berusaha menjadi lebih baik. Carl Rogers berjasa besar dalam mengantarkan psikologi humanistik untuk dapat diaplikasian dalam pendidikan. Dia mengembangkan satu filosofi pendidikan yang menekankan pentingnya pembentukan pemaknaan personal selama berlangsungnya proses pembelajaran dengan melalui upaya menciptakan iklim emosional yang kondusif agar dapat membentuk pemaknaan personal tersebut. Dia memfokuskan pada hubungan emosional antara guru dengan siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan epistemiloginya, teori-teori humanistik dikembangkan lebih berdasarkan pada metode penelitian kualitatif yang menitik-beratkan pada pengalaman hidup manusia secara nyata (Aanstoos, Serlin &amp; Greening, 2000). Kalangan humanistik beranggapan bahwa usaha mengkaji tentang mental dan perilaku manusia secara ilmiah melalui metode kuantitatif sebagai sesuatu yang salah kaprah. Tentunya hal ini merupakan kritikan terhadap kalangan kognitivisme yang mengaplikasikan metode ilmiah pendekatan kuantitatif dalam usaha mempelajari tentang psikologi.&lt;br /&gt;Sebaliknya, psikologi humanistik pun mendapat kritikan bahwa teori-teorinya tidak mungkin dapat memfalsifikasi dan kurang memiliki kekuatan prediktif sehingga dianggap bukan sebagai suatu ilmu (Popper, 1969, Chalmers, 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil pemikiran dari psikologi humanistik banyak dimanfaatkan untuk kepentingan konseling dan terapi, salah satunya yang sangat populer adalah dari Carl Rogers dengan client-centered therapy, yang memfokuskan pada kapasitas klien untuk dapat mengarahkan diri dan memahami perkembangan dirinya, serta menekankan pentingnya sikap tulus, saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Rogers menyakini bahwa klien sebenarnya memiliki jawaban atas permasalahan yang dihadapinya dan tugas konselor hanya membimbing klien menemukan jawaban yang benar. Menurut Rogers, teknik-teknik asesmen dan pendapat para konselor bukanlah hal yang penting dalam melakukan treatment atau pemberian bantuan kepada klien.&lt;br /&gt;Selain memberikan sumbangannya terhadap konseling dan terapi, psikologi humanistik juga memberikan sumbangannya bagi pendidikan alternatif yang dikenal dengan sebutan pendidikan humanistik (humanistic education). Pendidikan humanistik berusaha mengembangkan individu secara keseluruhan melalui pembelajaran nyata. Pengembangan aspek emosional, sosial, mental, dan keterampilan dalam berkarier menjadi fokus dalam model pendidikan humanistik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_education&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://en.wikipedia.org/wiki/Humanistic_psychology&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://rumahbelajarpsikologi.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-8253655040609609397?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/8253655040609609397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=8253655040609609397' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/8253655040609609397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/8253655040609609397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2009/03/psikologi-humanistik.html' title='psikologi humanistik'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-3115161711514552858</id><published>2009-03-15T17:59:00.000+07:00</published><updated>2009-03-15T18:00:29.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi Pendidikan'/><title type='text'>Memahami Perilaku Individu</title><content type='html'>Salah satu tugas utama guru adalah berusaha mengembangkan perilaku peserta didiknya. Dalam hal ini, Abin Syamsuddin Makmun (2003) menyebutkan bahwa tugas guru antara lain sebagai pengubah perilaku peserta didik (behavioral changes). Oleh itu, agar perilaku peserta didik dapat berkembang optimal, tentu saja seorang guru seyogyanya dapat memahami tentang bagaimana proses dan mekanisme terbentuknya perilaku para peserta didiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami perilaku individu dapat dilihat dari dua pendekatan, yang saling bertolak belakang, yaitu: (1) behaviorisme dan (2) holistik atau humanisme. Kedua pendekatan ini memiliki implikasi yang luas terhadap proses pendidikan, baik untuk kepentingan pembelajaran, pengelolaan kelas, pembimbingan serta berbagai kegiatan pendidikan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Behaviorisme&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Behaviorisme memandang bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan penguatan (reinforcement) dengan mengkondisikan atau menciptakan stimulus-stimulus (rangsangan) tertentu dalam lingkungan. Behaviorisme menjelaskan mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya perilaku individu dapat digambarkan dalam bagan berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S &gt; R atau S &gt; O &gt; R&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;S = stimulus (rangsangan); R = Respons (perilaku, aktivitas) dan O=organisme (individu/manusia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena stimulus datang dari lingkungan (W = world) dan R juga ditujukan kepadanya, maka mekanisme terjadi dan berlangsungnya dapat dilengkapkan seperti tampak dalam bagan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;W &gt; S &gt; O &gt; R &gt; W&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan lingkungan (W = world) di sini dapat dibagi ke dalam dua jenis yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Lingkungan objektif (umgebung=segala sesuatu yang ada di sekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).&lt;br /&gt;   2. Lingkungan efektif (umwelt=segala sesuatu yang aktual merangsang organisme karena sesuai dengan pribadinya sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri organisme dan ia meresponsnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku yang berlangsung seperti dilukiskan dalam bagan di atas biasa disebut dengan perilaku spontan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh : seorang mahasiswa sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa panas, secara spontan mahasiswa tersebut mengipas-ngipaskan buku untuk meredam kegerahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan kelas yang panas merupakan lingkungan (W) dan menjadi stimulus (S) bagi mahasiswa tersebut (O), secara spontan mengipaskan-ngipaskan buku merupakan respons (R) yang dilakukan mahasiswa. Merasakan ruangan tidak terasa gerah (W) setelah mengipas-ngipaskan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan perilaku sadar dapat digambarkan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;W &gt; S &gt; Ow &gt; R &gt; W&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh : ketika sedang mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan di ruangan kelas yang terasa agak gelap karena waktu sudah sore hari ditambah cuaca mendung, ada seorang mahasiswa yang sadar kemudian dia berjalan ke depan dan meminta ijin kepada dosen untuk menyalakan lampu neon yang ada di ruangan kelas, sehingga di kelas terasa terang dan mahasiswa lebih nyaman dalam mengikuti perkuliahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan kelas yang gelap, waktu sore hari, dan cuaca mendung merupakan lingkungan (W), ada mahasiswa yang sadar akan keadaan di sekelilingnya (Ow), –meski di ruangan kelas terdapat banyak mahasiswa namun mereka mungkin tidak menyadari terhadap keadaan sekelilingnya–. berjalan ke depan, meminta ijin ke dosen, dan menyalakan lampu merupakan respons yang dilakukan oleh mahasiswa yang sadar tersebut (R), suasana kelas menjadi terang dan mahasiswa menjadi lebih menyaman dalam mengikuti perkuliahan merupakan (W).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, masih ada dua unsur penting lainnya dalam diri setiap individu yang mempengaruhi efektivitas mekanisme proses perilaku yaitu receptors (panca indera sebagai alat penerima stimulus) dan effectors (syaraf, otot dan sebagainya yang merupakan pelaksana gerak R).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengambil contoh perilaku sadar tadi, mahasiswa yang sadar (Ow) mungkin merasakan penglihatannya (receptor) menjadi tidak jelas, sehingga tulisan dosen di papan tulis tidak terbaca dengan baik. Menggerakkan kaki menuju ke depan, mengucapkan minta izin kepada dosen, tangan menekan saklar lampu merupakan effector.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Mekanisme Pembentukan Perilaku Menurut Aliran Holistik (Humanisme)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Holistik atau humanisme memandang bahwa perilaku itu bertujuan, yang berarti aspek-aspek intrinsik (niat, motif, tekad) dari dalam diri individu merupakan faktor penentu untuk melahirkan suatu perilaku, meskipun tanpa ada stimulus yang datang dari lingkungan. Holistik atau humanisme menjelaskan mekanisme perilaku individu dalam konteks what (apa), how (bagaimana), dan why (mengapa). What (apa) menunjukkan kepada tujuan (goals/incentives/purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu. How (bagaimana) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai tujuan (goals/incentives/pupose), yakni perilakunya itu sendiri. Sedangkan why (mengapa) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how), baik bersumber dari diri individu itu sendiri (motivasi instrinsk) maupun yang bersumber dari luar individu (motivasi ekstrinsik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku individu diawali dari adanya kebutuhan. Setiap individu, demi mempertahankan kelangsungan dan meningkatkan kualitas hidupnya, akan merasakan adanya kekurangan-kekurangan atau kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya. Dalam hal ini, Maslow mengungkapkan jenis-jenis kebutuhan-individu secara hierarkis, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. kebutuhan fisiologikal, seperti : sandang, pangan dan papan&lt;br /&gt;   2. kebutuhan keamanan, tidak dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual&lt;br /&gt;   3. kebutuhan kasih sayang atau penerimaan&lt;br /&gt;   4. kebutuhan prestise atau harga diri, yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status&lt;br /&gt;   5. kebutuhan aktualisasi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Stranger (Nana Syaodih Sukmadinata,2005) mengetengahkan empat jenis kebutuhan individu, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Kebutuhan berprestasi (need for achievement), yaitu kebutuhan untuk berkompetisi, baik dengan dirinya atau dengan orang lain dalam mencapai prestasi yang tertinggi.&lt;br /&gt;   2. Kebutuhan berkuasa (need for power), yaitu kebutuhan untuk mencari dan memiliki kekuasaan dan pengaruh terhadap orang lain.&lt;br /&gt;   3. Kebutuhan untuk membentuk ikatan (need for affiliation), yaitu kebutuhan untuk mengikat diri dalam kelompok, membentuk keluarga, organisasi ataupun persahabatan.&lt;br /&gt;   4. Kebutuhan takut akan kegagalan (need for fear of failure), yaitu kebutuhan untuk menghindar diri dari kegagalan atau sesuatu yang menghambat perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan-kebutuhan tersebut selanjutnya menjadi dorongan (motivasi) yang merupakan kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu aktivitas, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kebutuhan yang serupa muncul kembali maka pola mekanisme perilaku itu akan dilakukan pengulangan (sterotype behavior), sehingga membentuk suatu siklus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan motif individu, untuk keperluan studi psikologis, motif individu dapat dikelompokkan ke dalam 2 golongan, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Motif primer (basic motive dan emergency motive); menunjukkan kepada motif yang tidak pelajari, dikenal dengan istilah drive, seperti : dorongan untuk makan, minum, melarikan diri, menyerang, menyelamatkan diri dan sejenisnya.&lt;br /&gt;   2. Motif sekunder; menunjukkan kepada motif yang berkembang dalam individu karena pengalaman dan dipelajari, seperti : takut yang dipelajari, motif-motif sosial (ingin diterima, konformitas dan sebagainya), motif-motif obyektif dan interest (eksplorasi, manipulasi. minat), maksud dan aspirasi serta motif berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari indikator-indikatornya, yaitu : (1) durasi kegiatan; (2) frekuensi kegiatan; (3) persistensi pada kegiatan; (4) ketabahan, keuletan dan kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; (5) devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; (6) tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; (7) tingkat kualifikasi prestasi atau produk (out put) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; (8) arah sikap terhadap sasaran kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri individu akan didapati sekian banyak motif yang mengarah kepada tujuan tertentu. Dengan beragamnya motif yang terdapat dalam individu, adakalanya individu harus berhadapan dengan motif yang saling bertentangan atau biasa disebut konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk konflik tersebut diantaranya adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   1. Approach-approach conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat, dikehendaki serta bersifat positif.&lt;br /&gt;   2. Avoidance-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih dan semua alternatif motif sama-sama kuat namun tidak dikehendaki dan bersifat negatif.&lt;br /&gt;   3. Approach-avoidance conflict; jika individu dihadapkan pada dua motif atau lebih, yang satu positif dan dikehendaki dan yang lainnya motif negatif serta tidak dikehendaki namun sama kuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang individu dihadapkan pada bentuk-bentuk motif seperti dikemukakan di atas tentunya dia akan mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan dan sangat mungkin menjadi perang batin yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan holistik, disebutkan bahwa dalam rangka memenuhi kebutuhan dalam dirinya, setiap aktivitas yang dilakukan individu akan mengarah pada tujuan tertentu. Dalam hal ini, terdapat dua kemungkinan, tercapai atau tidak tercapai tujuan tersebut. Jika tercapai tentunya individu merasa puas dan memperoleh keseimbangan diri (homeostatis). Namun sebaliknya, jika tujuan tersebut tidak tercapai dan kebutuhannya tidak terpenuhi maka dia akan kecewa atau dalam psikologi disebut frustrasi. Reaksi individu terhadap frustrasi akan beragam bentuk perilakunya, bergantung kepada akal sehatnya (reasoning, inteligensi). Jika akal sehatnya berani mengahadapi kenyataan maka dia akan lebih dapat menyesuaikan diri secara sehat dan rasional (well adjustment). Namun, jika akal sehatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, perilakunya lebih dikendalikan oleh sifat emosinalnya, maka dia akan mengalami penyesuaian diri yang keliru (maladjusment).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk perilaku salah suai (maldjustment), diantaranya : (1) agresi marah; (2) kecemasan tak berdaya; (3) regresi (kemunduran perilaku); (4) fiksasi; (5) represi (menekan perasaan); (6) rasionalisasi (mencari alasan); (7) proyeksi (melemparkan kesalahan kepada lingkungan); (8) sublimasi (menyalurkan hasrat dorongan pada obyek yang sejenis); (9) kompensasi (menutupi kegagalan atau kelemahan dengan sukses di bidang lain); (10) berfantasi (dalam angan-angannya, seakan-akan ia dapat mencapai tujuan yang didambakannya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah peran guru untuk sedapat mungkin membantu para peserta didiknya agar terhindar dari konflik yang berkepanjangan dan rasa frustasi yang dapat menimbulkan perilaku salah-suai. Sekaligus juga dapat memberikan bimbingan untuk mengatasinya apabila peserta didik mengalami konflik yang berkepanjangan dan frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih jelasnya, di bawah ini akan dikemukakan contoh terbentuknya perilaku berdasarkan pendekatan holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena gagal mengikuti mengikuti testing pada salah satu Fakultas di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration), dan setelah mempertimbangkan segala sesuatunya (moralitas), secara sukarela Arjuna memutuskan untuk melanjutkan pada salah program studi yang ada di FKIP UNIKU (sublimasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan yang merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti para mahasiswa, sejak awal dia sudah menyadari bahwa dia kekurangan pengetahuan, sikap dan keterampilannya dalam bidang Psikologi Pendidikan sehingga dia menyadari Psikologi Pendidikan merupakan kebutuhan bagi dirinya (need felt) dalam rangka mencapai tujuan-tujuannya (goals/incentives).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tujuan jangka pendeknya, dengan berbekal kesadaran diri bahwa dia memiliki potensi dalam bidang psikologi pendidikan, dia berharap dapat memperoleh kemampuan baru berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang berhubungan dengan psikologi pendidikan, yang diperolehnya dari setiap pertemuan tatap muka dengan dosen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan jangka menengah, pada akhir semester dia berharap lulus mata kuliah Psikologi Pendidikan dengan mendapatkan nilai A (kebutuhan harga diri). Selain itu, nanti pada saat mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL), dia berharap dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai untuk jangka panjang, dia benar-benar berharap dapat menjadi guru yang efektif dan kompeten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan dan tujuan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam bidang psikologi pendidikan, memperoleh kesuksesan belajar dengan mendapatkan nilai A, memperoleh kesuksesan dalam mengikuti Program Praktek Lapangan (PPL), keinginan menjadi guru yang efektif dan kompeten kemudian berkembang menjadi dorongan yang kuat dalam dirinya (motivasi intrinsik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan dia senantiasa aktif bertanya dan mengemukakan pendapatnya tentang materi yang disampaikan, membaca dan mengkaji buku-buku psikologi pendidikan yang diwajibkan dan dianjurkan oleh dosen. Setiap tugas yang diberikan diselesaikan dengan sebaik-baiknya dan tepat waktu. Dia juga sangat menyukai diskusi tentang psikologi pendidikan dengan teman-temannya di luar kelas (perilaku instrumental).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat aktivitas dan kesungguhannya dalam mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia memperoleh pengetahuan yang luas, sikap yang positif dan memiliki keterampilan yang bisa dibanggakan dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi. Pada akhir semester, dia memperoleh nilai terbaik di kelasnya, pada saat PPL dia termasuk mahasiswa praktikan yang disukai oleh peserta didiknya, bahkan kepala sekolahnya meminta dia untuk menjadi guru di sekolah menjadi tempat prakteknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dia selesai kuliah dia menjadi guru di sebuah sekolah, para peserta didik sangat menyenangi dia karena dia sangat dekat dan akrab dengan peserta didiknya. Begitu juga, rekan-rekan seprofesinya sangat hormat dan kagum atas kinerjanya sebagai guru. Pada saat mengikuti lomba pemilihan guru berprestasi tingkat kabupaten, dia berhasil meraih sebagai juara pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sangat mensyukuri atas segala keberhasilannya, baik ketika selama menjadi mahasiswa maupun setelah menjadi guru (homeostatis). Bagi dirinya, Perkuliahan Psikologi Pendidikan telah mendasari dia menjadi seorang yang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astrajingga rekan seangkatan Arjuna. Dia bercita-cita menjadi seorang ekonom, karena gagal mengikuti mengikuti testing pada Fakultas Ekonomi di Perguruan Tinggi ternama melalui jalur UMPTN (frustration), kemudian dia dipaksa orang tuanya untuk melanjutkan pada salah satu program studi di FKIP UNIKU (motivasi ekstrinsik/substitusi), sehingga selama kuliah, dia belum menemukan apa tujuan kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak begitu berminat mengikuti perkuliahan mata kuliah kependidikan, termasuk mata kuliah Psikologi Pendidikan (kurang merasakan adanya kebutuhan dan kekurangan motivasi). Pikirannya selalu terganggu bahwa seolah-olah dia sedang kuliah pada Fakutas Ekonomi di Perguruan Tinggi yang diidam-idamkannya dan dia merasa seolah-olah bakal menjadi Ekonom (fantasi). Dia sering tidak masuk kuliah, sekalipun dia masuk kuliah hanya sebatas takut dimarahi oleh dosen yang bersangkutan dan takut dinyatakan tidak lulus (kebutuhan rasa aman). Tugas-tugas yang diberikan dosen pun jarang dikerjakan, kalaupun dikerjakan hanya alakadarnya dan selalu telat disetorkan. Dia dihadapkan pada perang batin antara terus melanjutkan studi yang tidak sesuai dengan cita-citanya atau keluar dari kuliah dengan resiko orang tua akan marah besar terhadap dirinya (conflict).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu semester mengikuti perkuliahan Psikologi Pendidikan, dia hanya memperoleh sebagian kecil saja pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang psikologi pendidikan dan pada akhirnya dia dinyatakan tidak lulus dan terpaksa harus mengikuti remedial. Sambil menangis (regresi), dia menyalahkan dosen bahwa dosennya tidak becus mengajar (proyeksi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.&lt;br /&gt;Calvin S. Hall &amp; Gardner Lidzey (editor A. Supratiknya). 2005. Teori-Teori Psiko Dinamik (Klinis) : Jakarta : Kanisius&lt;br /&gt;Depdiknas, 2004. Dasar Standarisasi Profesi Konseling. Jakarta : Bagian Proyek Peningkatan Tenaga Akdemik Dirjen Dikti&lt;br /&gt;——— 2003. Pedoman Penyelenggaraaan Program Percepatan Belajar SD, SMP dan SMA. Jakarta : Dirjen Dikdasmen.&lt;br /&gt;E. Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep,Karakteristik dan Implementasi.Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;———. 2004. Implementasi Kurikulum 2004; Panduan Pembelajaran KBK. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;Gendler, Margaret E. 1992. Learning &amp; Instruction; Theory Into Practice. New York : McMillan Publishing.&lt;br /&gt;H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.&lt;br /&gt;Hurlock, Elizabeth B. 1980. Developmental Phsychology. New York : McGraw-Hill Book Company&lt;br /&gt;Moh. Surya. 1997. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran. Bandung PPB - IKIP Bandung.&lt;br /&gt;Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo.&lt;br /&gt;Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung&lt; : P.T. Remaja Rosdakarya.&lt;br /&gt;National Board for Professional Teaching Standards. 2002 . Five Core Propositions. NBPTS Home &lt;nhttp://nbpts.org/ standards/fivecore.html&gt;. (Accessed, 31 Oct 2002).&lt;br /&gt;Prayitno, dkk. 2004. Pedoman Khusus Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Depdiknas.&lt;br /&gt;———-, dkk. 2004. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Rineka Cipta.&lt;br /&gt;Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta&lt;br /&gt;SudarwanDanim. 2002. Inovasi Pendidikan : Dalam Upaya Meningkatkan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung : Pustaka Setia.&lt;br /&gt;Sugiharto.(2005. Pendekatan dalam Konseling (Makalah). Jakarta : PPPG&lt;br /&gt;Sumadi Suryabrata. 1984. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Rajawali.&lt;br /&gt;Sunaryo Kartadinata.2003. Inventori Tugas Perkembangan. Bandung : Lab. PPB-UPI Bandung&lt;br /&gt;Suyanto dan Djihad Hisyam. 2000. Refleksi dan Reformasi Pendidikan Indonesia Memasuki Millenium III. Yogyakarta : Adi Cita.&lt;br /&gt;Syamsu Yusuf LN.2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-3115161711514552858?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/3115161711514552858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=3115161711514552858' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/3115161711514552858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/3115161711514552858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2009/03/memahami-perilaku-individu.html' title='Memahami Perilaku Individu'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-3518075747591541486</id><published>2009-02-01T15:29:00.000+07:00</published><updated>2009-02-01T15:30:55.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Psikologi'/><title type='text'>Labeling</title><content type='html'>Bodoh sekali sih kamu, begitu saja salah, tidak bisa……&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh anak saya ini loh pemalu sekali……..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar anak bandel……….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa orangtua pasti tidak asing dengan kalimat-kalimat di atas, beberapa orangtua yang lain mungkin pernah mendengar (dan mengucapkan) versi-versi lain dari kalimat sejenis. Versi-versi lain itu bisa kalimat negatif seperti contoh-contoh di atas dan bisa juga kalimat-kalimat positif yang berisi pujian tentang kehebatan-kehebatan anaknya. Orangtua yang "sempurna" dan sulit menerima kesalahan dan kekurangan, mungkin akan lebih banyak mengatakan kalimat-kalimat negatif, orangtua yang "adil" mungkin pernah mengatakan kedua jenis kalimat tersebut tergantung keadaan anak, sementara orangtua lain yang selalu berpikir positif dan hanya mau melihat hal-hal positif pada anaknya mungkin hanya mengatakan kalimat-kalimat positif.  Semua itu disebut sebagai labeling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labeling&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Labeling adalah proses melabel seseorang. Label, menurut yang tercantum dalam A Handbook for The Study of Mental Health, adalah sebuah definisi yang ketika diberikan pada seseorang akan menjadi identitas diri orang tersebut, dan menjelaskan orang dengan tipe bagaimanakah dia.Dengan memberikan label pada diri seseorang, kita cenderung melihat dia secara keseluruhan kepribadiannya, dan bukan pada perilakunya satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak Terhadap Anak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teori labeling ada satu pemikiran dasar, dimana pemikiran tersebut menyatakan "seseorang yang diberi label sebagai seseorang yang devian dan diperlakukan seperti orang yang devian akan menjadi devian".Penerapan dari pemikiran ini akan kurang lebih seperti berikut "anak yang diberi label bandel, dan diperlakukan seperti anak bandel, akan menjadi bandel". Atau penerapan lain "anak yang diberi label bodoh, dan diperlakukan seperti anak bodoh, akan menjadi bodoh". Kalau begitu mungkin bisa juga seperti ini "Anak yang diberi label pintar, dan diperlakukan seperti anak pintar, akan menjadi pintar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran dasar teori labeling ini memang yang biasa terjadi, ketika kita sudah melabel seseorang, kita cenderung memperlakukan seseorang sesuai dengan label yang kita berikan. Misalnya, seorang anak yang diberi label bodoh cenderung tidak diberikan tugas-tugas yang menantang dan punya tingkat kesulitan di atas kemampuannya karena kita berpikir "ah dia pasti tidak bisa kan dia bodoh, percuma saja menyuruh dia". Karena anak tersebut tidak dipacu akhirnya kemampuannya tidak berkembang lebih baik. Kemampuannya yang tidak berkembang akan menguatkan pendapat/label orangtua bahwa si anak bodoh. Lalu orangtua semakin tidak memicu anak untuk berusaha yang terbaik, lalu anak akan semakin bodoh. Anak yang diberi label negatif dan mengiyakan label tersebut bagi dirinya, cenderung bertindak sesuai dengan label yang melekat padanya.  Dengan ia bertindak sesuai labelnya, orang akan memperlakukan dia juga sesuai labelnya. Hal ini menjadi siklus melingkar yang berulang-ulang dan semakin saling menguatkan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Raising A Happy Child, banyak ahli yang setuju, bahwa bagaimana seseorang memandang dan merasakan dirinya sendiri akan menjadi dasar orang tersebut beradaptasi sepanjang hidupnya. Anak yang memandang dirinya baik akan mendekati orang lain dengan rasa percaya dan memandang dunia sebagai tempat yang aman, dan kebutuhan-kebutuhannya akan terpenuhi. Sementara anak yang merasa dirinya tidak berharga, tidak dicintai akan cenderung memilih jalan yang mudah, tidak berani mengambil resiko dan tetap saja tidak berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang (termasuk anak-anak) pengalaman mendapatkan label tertentu (terutama yang negatif) memicu pemikiran bahwa dirinya ditolak. Pemikiran bahwa dirinya ditolak dan kemudian dibarengi oleh penolakan yang sesungguhnya, dapat menghancurkan kemampuan berinteraksi, mengurangi rasa harga diri, dan berpengaruh negatif terhadap kinerja seseorang dalam kehidupan sosial dan kehidupan kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saran Bagi Orangtua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah penting bagi anak untuk merasa bahwa dirinya berharga dan dicintai. Perasaan ini diketemukan olehnya lewat respon orang-orang sekitarnya, terutama orang terdekat yaitu orangtua. Kalau respon orangtua positif tentunya tidak perlu dicemaskan akibatnya. Tetapi, adakalanya sebagai orangtua, tidak dapat menahan diri sehingga memberikan respon-respon negatif seputar perilaku anak. Walaupun sesungguhnya orangtua tidak bermaksud buruk dengan respon-responnya, namun tanpa disadari hal-hal yang dikatakan orangtua dan bagaimana orangtua bertindak, masuk dalam hati dan pikiran seorang anak dan berpengaruh dalam kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saran bagi orangtua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Berespon secara spesifik terhadap perilaku anak, dan bukan kepribadiannya. Kalau anak bertindak sesuatu yang tidak berkenan di hati, jangan berespon dengan memberikan label, karena melabel berarti menunjuk pada kepribadian anak, seperti sesuatu yang terberi dan tidak bisa lagi diperbaiki. Contoh: Kalau anak tidak berani menghadapi orang baru, jangan katakan "Aduh kamu pemalu sekali", atau "Jangan penakut begitu dong Nak", tetapi beresponlah "Tidak kenal ya dengan tante ini, jadi tidak mau menyapa. Kalau besok ketemu lagi, mau ya menyapa, kan sudah pernah kenalan". Kalau anak nakal (naughty), jangan katakan bahwa dia nakal tapi katakan bahwa perilakunya salah (misbehave). Anak-anak sering berperilaku salah, selain karena mereka memang belum mengetahui semua hal yang baik-buruk; benar-salah; boleh-tidak boleh, mereka juga suka menguji batas-batas dari orangtuanya. Misalnya, kakak merebut mainan adik, katakan "Kakak, merebut mainan orang lain itu salah, tidak boleh begitu. Kalau main sama adik gantian ya" (dan bukan mengatakan "Kakaaaaak, nakal sekali sih merebut mainan adiknya"). Dengan demikian tidak ada pesan negatif yang masuk dalam pikiran anak, dan bahkan anak didorong untuk mau bertindak benar di waktu berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.      Gunakan label untuk kepentingan pribadi orangtua. Sebenarnya melabel tidak selamanya buruk, asalkan label tersebut digunakan orangtua untuk dirinya sendiri, agar lebih memahami dinamika perilaku anak. Misalnya, "Anakku A lebih bodoh daripada anakku B". Tapi label tersebut tidak dikatakan di depan anak, "A kamu itu kok lebih bodoh ya daripada adikmu si B".  Dengan mengetahui dinamika anak lewat label yang ada dalam pikiran orangtua sendiri, hendaknya orangtua menggunakan label tersebut untuk menyusun strategi selanjutnya, agar kekurangan anak diperbaiki. Misalnya, setelah mengetahui A lebih bodoh daripada B, maka orangtua memberikan lebih banyak waktu untuk mengajarkan sesuatu dan mempersiapkan diri untuk lebih sabar jika menghadapi A.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.      Menarik diri sementara jika sudah tidak sabar. Adakalanya orangtua sudah tidak sabar dan inginnya melabel anak, misalnya "Heeeeh kamu goblok banget sih, 1 + 1 saja tidak bisa-bisa". Jika kesabaran sudah diambang batas, sebelum kata-kata negatif keluar, ada baiknya orangtua menarik diri sementara dari anak, time off.  Katakan pada anak, "Papa sudah lelah,  mungkin kamu juga sudah lelah. Kita istirahat dulu, nanti belajar lagi sama-sama. Siapa tahu setelah istirahat kita berdua lebih berkonsentrasi dan semangat belajar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara orangtua berbicara dan menanggapi kekurangan-kekurangan anak akan sangat berpengaruh bagi anak sepanjang hidupnya. Oleh karena itu orangtua harus sangat berahti-hati dan mempertimbangkan secara matang apa yang akan diucapkan kepada anaknya. Mulutmu harimaumu, begitulah kata pepatah, yang  dalam hal ini mulut orangtua  bisa menjadi harimau bagi anak. Penting sekali orangtua selalu berkata-kata positif tentang anak, agar anak jadi berpikir positif tentang dirinya dan bertumbuh dengan harga diri yang tinggi dan perasaan dicintai dan diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Martina Rini S. Tasmin, SPsi.&lt;br /&gt;Sumber: http://www.e-psikologi.com/anak/160502.htm&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-3518075747591541486?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/3518075747591541486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=3518075747591541486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/3518075747591541486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/3518075747591541486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2009/02/labeling.html' title='Labeling'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-2789252021479365012</id><published>2008-11-15T20:37:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:39:01.917+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Sekitar Sosiologi Budaya "Malas" dan "Rajin" di Nusantara</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;0. Sekerat Catatan Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada omongan di Maluku-net menyambar        beta pung telinga, bunyinya seakan di Maluku orang        malas-malas. disambung lagi dengan sindiran halus yang        hinggap di pancaindera, agaknya dianggap perlu        transmigrasi orang dari Pulau Jawa agar sedikit memberi        contoh rajin kerja kepada "inlander-inlander". Mendengar        orang pada sibuk memperdebatkan siapa malas dan siapa        perlu diajar itu, beta juga jadi asik mau ikut kasih        bunyi. Tahu-tahu, unek-unek yang terkumpul itu makin        menjulur panjang, akhirnya berbab-bab yang sekarang        menyusul dibawah ini. Silahkan kawan-kawan Maluku-net        memeriksa beberapa jumput hasil pengamatan beta        berkenaan dengan sosiologi sejarah daripada gejala "malas"        dan "rajin" di tanahair kita ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Adapun sebelum menyelami seluk-beluk hal "malas",        perlu terlebih dahulu menyingkirkan satu salah paham:        Transmigrasi orang Jawa dan Madura ke pulau-pulau        seberang, sejak akhir abad ke-19 sampai sekarang, belum        pernah dilakukan untuk "mengajar" penduduk setempat        lebih rajin kerja, dan juga belum pernah berakibatkan        hasil yang demikian. Transmigrasi pada jaman penjajahan        dilakukan karena di seberang ada kekurangan tenaga buruh.        Transmigrasi pada jaman Republik dilakukan terutama        karena di Jawa kebanyakan penduduk, dan di sana-sini        mungkin juga untuk memenuhi kebutuhan tenaga buruh. Nah,        setelah membuat catatan ini, kembalilah kita ke soal "malas".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;1. Kebangkitan Nasional dan Masalah "Malas"&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada awal abad ke-20 ini, kaum        intellektuil Jawa mulai memikirkan masalah memajukan        kebudayaan Jawa dan Indonesia pada umumnya, agar tidak        ketinggalan dengan derap langkah kemajuan sedunia. Ini,        sebagaimana umum sudah mengetahui, mulai dengan        surat-surat R.A. Kartini, sampai dengan penegakan        organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Pada waktu itu        juga, Kaum intelektuil Jawa mulai membanding-bandingkan        sifat orang di negeri-negeri industri yang beritanya        rajin-rajin itu, dengan apa yang oleh orang Eropa        dijuluk "indolensi" (a.k.a. "kemalasan") daripada "Asiatics"        yang pribumi di negeri-negeri jajahannya. Agak bingung        juga mereka, dan timbullah tulisan-tulisan seperti        karangan Tjokroamiprodjo (1902) yang judulnya sebagai        berikut: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Zijn de Javanen lui? welke         wegen moet men inslaan om de Javanen voor         achteruitgang te behoeden!&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Adakah orang Jawa itu malas? Jalan apakah harus         ditempuh untuk menjaga orang Jawa jangan sampai         mengalami kemunduran"               &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penulis-penulis Belandapun turut heboh, lihat        misalnya risalah dalam &lt;i&gt;Indische gids&lt;/i&gt; &lt;b&gt;25&lt;/b&gt;:285-286        (1903)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bertanyalah kita, bukan? Apakah ada dua pulau Jawa?        Yang satu rakyatnya malas-malas saja, yang lain        orang-orangnya boleh dikirim ke Maluku mengajar penduduk        sini berajin kerja?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan makin tumbuh dan mendewasanya gerakan nasional,        masalahnya kemudian disorot dari segi lain: Benarkah "cara        hidup Barat" yang banting tulang adu jarum dari pagi        sampai malam itu lebih mujur daripada "cara ketimuran"        yang cukup dengan seperlunya saja, sesuai dengan adat        dan kebiasaan, dan lebih memberat kepada gotong-royong        dan hidup berukun tetangga tanpa keras bersaing saling        memperebutkan rejeki? Perumusan yang tuntas dapat        misalnya kita temukan dalam satu terbitan karya Bung        Hatta (1936), di mana dapatlah kita baca: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Orang Barat sangat         mengemoekakan hasil. Hasil ditaroknja dimoeka, laloe         ia berichtiar mentjapai hasil jang sebesar-besarnja         jang dikehendakinja itoe dengan membanting tenaganja         jang ada. ... &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Orang Timoer mengemoekakan tenaga. Tenaga         ditaroknja dimoeka, dan dengan tenaga jang paling         sedikit terpakai hendak ditjapainja hasil jang         sebesar-besarnja. Ia sedikit mempergoenakan tenaga,         sebab itoe hasil jang moengkin ditjapainja dengan         tenaga jang sedikit itoe sedikit poela djoemlahnja.&lt;/i&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Adapun bersamaan waktu terbit roman        Takdir Alisjahbana berjudul &lt;i&gt;Lajar Terkembang&lt;/i&gt; (Alisjahbana        1936) di mana kita bisa baca kata-kata seperti berikut:       &lt;/span&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kelebihan orang Barat bagi         meréka itoe ialah keindahan pakaian, rapi dan         mahalnja perabot roemah, bibir dan koekoe jang         bertjat dan sepandjang hari berkeliaran naik auto.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah ada dua cara hidup Barat? Yang        satu ditiru pemuda-pemuda perlente kita yang suka pasang        aksi santai-santai kebarat-baratan dengan berpembawaan        rileks (pardon: relax), dan yang satu lagi siang malam        membanting segenap tenaga, mengejar "rat-race"        persaingan maut?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Alangkah akan herannya almarhum Bung        Hatta, sekira beliau sempat membaca satu artikel dalam        "Times magazine" sekitar 4 tahun yang lampau, yang        memberitakan situasi persaingan antar-peranakan di        Amerika Serikat sebagai berikut: Peranakan Asia di        Amerika ternyata jauh lebih rajin dan tekun bekerja dan        belajar, dibandingkan dengan rekan-rekan WASP, sehingga        makin menduduki prosen bagian dalam kegiatan di        perguruan tinggi dan dalam ekonomi yang melebihi prosen        bagian masing-masing sebagai golongan penduduk. Juga di        beberapa negeri Eropa, dua dasawarsa terakhir ini makin        tampak kecenderungan antara pengusaha yang lebih suka        mengerjakan buruh asal Asia daripada buruh pribumi,        karena yang tersebut pertama katanya lebih tekun bekerja        dan setia kepada perusahaan, dan tidak begitu giat        memikirkan cuti akan datang mau kemana atau        mempersoalkan hak-hak bebas kerja untuk ini atau itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Apakah ada dua ketimuran? Yang antuk-antuk "biar        lambat asal selamat", "aksi-aksi bau terasi", dan satu        lagi yang seperti semut tak kenal lelah?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Marilah kita mengolah lebih dalam sedikit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;2. Dari Mana Datangnya Sifat "Rajin"        Buruh Negeri-negeri Barat?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada abad ke-17 dan ke-18,        pemimpin-pemipin di negeri Inggeris merasa kewalahan.        Manufaktur Inggeris paling jitu di dunia menghasilkan        kain wol dengan peralatan produktif yang serba moderen (dan        mahal), tapi apa daya, buruh Inggeris serba lamban dan        pemalas, dianggapnya. Bagaimana jalan keluarnya?        Dibuatlah Undang-undang liwat parlemen, supaya        tanah-tanah desa (commons) diswastakan. Tanah tempat        angon domba itu kemudian tutuplah bagi para petani        penggembala domba (yang bulunya diperuntuk produksi wol)        yang tidak bebas lagi mengangonkan dombanya di bekas        tanah desa itu. Makin banyak yang bangkrut, mengungsi ke        kota mencari sumber nafkah yang baru. Terjadilah        persaingan antara buruh dan gelandangan yang        memperebutkan tempat kerja di pabrik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Leluasalah majikan pabrik dalam suasana ini untuk        berangsur-angsur menyekrup jam kerja dari 6 jam sehari        menjadi 8 jam, 10 jam, 12 jam, disana-sini bahkan lebih        dari 14 jam sehari. Untung saja masih ada Gereja, maka        buruh masih bisa mempertahankan satu hari bebas setiap        pekan, pada hari Ahad. Anak-anak dari umur 8 tahun atau        lebih mudapun terpaksa bekerja berjam-jam di pabrik, tak        beda dengan di manufaktur-manufaktur permadani di        Kashmir. Pemerasan yang berlebih-lebihan itu kian        merusak kesehatan rakyat, dan taraf persekolahannya juga        merosot. Timbullah pada waktu itu pepatah Inggeris yang        terkenal, bahwa "all work and no play, did not make Jack        Horner a good boy". Akhirnya, agar tidak sampai        mengalami senjata makan tuan, majikan-majikan mengurangi        pemerasan buruh sehingga terjadi keseimbangan antara        usahawan dan serikat buruh yang menjamin kelanggengan        persediaan tenaga buruh yang sehat dan ahli, dengan        keintensifan kerja yang memanfaatkan tenaga tersebut        secara optimal. Demikianlah sejarahnya buruh Inggeris        yang "malas" berubah menjadi buruh Inggeris yang "rajin".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jangan dikira bahwa ini satu gejala yang khas "Barat".        Pada tahun 1871 cetuslah Revolusi Meiji di Jepang, yang        segera menghapuskan struktur-struktur feodal yang kolot,        agar membangun satu negara beperekonomian moderen. Salah        satu langkah terpenting yalah reforme pemilikan tanah        pada tahun 1873, yang membatalkan hak-milik tuan-tuan        tanah feodal atas tanah sewa dan memindahkan tanah        tersebut menjadi milik petani yang mengerjakannya.        Seperti halnya di Inggeris, terjadilah persaingan antar        petani, yang menghasilkan arus petani bangkrut yang        mengungsi ke kota secara terus-menerus. Dalam        dasawarsa-dasawarsa berikut, terjaminlah persediaan        tenaga buruh di kota-kota untuk industrialisasi Jepang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiada beda dengan itulah strategi usahawan Belanda        akan memanfaatkan tenaga kerja Jawa untuk        kebutuhan-kebutuhannya di Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;3. Bagaimana Orang Belanda Membuat        Orang Jawa "Rajin"?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Politik kolonial Belanda dalam        mengatur ekonomi Indonesia sepanjang dua abad terakhir        ditandai oleh perselisihan prinsipiil antara golongan        konservatif dan golongan liberal. Ini didahului oleh        politik VOC yang konservatif, yang pada dasarnya tidak        mencampuri susunan ekonomi setempat, biar betapa        kolotnya jua, melainkan cukup dengan menundukkan        raja-raja setempat dan mengharuskannya membayar upeti        berupa rempah-rempah dan lain hasil bumi yang        mendatangkan laba bagi VOC. Seorang bekas pegawai tinggi        VOC yang berpikiran liberal pernah mengasiati politik        tersebut secara kritis sebagai berikut (van Hogendorp        1799): &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Het Leenroerige Systhema, daar         Europa zoo vele eeuwen onder gezugt heeft en daar         nog nimmer eenig Land onder gebloeid heeft, was over         geheel Java onder derzelver Vorsten ingevoerd, en         toen de Maatschappij meester der stranden is         geworden, heeft ze de zaaken zoo gelaten als ze ze         gevonden heeft.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Sistim feodal, yang pernah berabad-abad lamanya         Eropa berkesah dibawahnya, dan yang belum adalah         satu negeripun pernah makmur lantarannya itu, sudah         diterapkan di seluruh Jawa oleh raja-raja negeri itu,         dan ketika Kompeni mendapat kekuasaan di rantau         negeri itu, dibiarkannyalah keadaan itu tetap         seperti sebermula." &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penghasilan tenaga produksi yang kolot        itu tidak seimbang dengan kenaikan ongkos administrasi,        militer, dan pengangkutan, maka akhirnya bangkrutlah VOC        gara-gara politik ekonomi yang konservatif itu kira-kira        200 tahun yang lalu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Golongan liberal Belanda        bersekutu dengan Napoleon Bonapart dengan perhitungan,        tentara Perancis bisa mengusir raja dinasti Oranje-Nassau        yang konservatif, dan membantu mendirikan republik di        negeri Belanda. Demikianlah jadinya, Perancis menduduki        Belanda, raja lari ke London, Belanda medjadi republik        dan mengirim Daendels untuk memerintah di Indonesia.        Disinipun diterapkannya reforme liberal, orang non-pribumi        untuk pertama kali diperbolehkan menyewa ataupun membeli        tanah untuk dijadikan perkebunan. Bangsawan Indonesia        secara formil disederajatkan kedudukannya dengan orang        Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi pemerintahan Daendels tidak lama umurnya.        Napoleon kalah di Waterloo, raja Belanda kembali naik        tahta. Indonesia di perintah oleh gubernur-jenderal        konservatif, van der Capellen, yang segera meniadakan        reforme-reforme liberal tersebut di atas. Tanah yang        pernah disewakan atau dijual kepada orang non-pribumi        dikembalikan, dan bangsawan-bangsawan Jawa diharuskan        mengembalikan uang sewa atau harga jual tanah yang        pernah diperolehnya itu dengan bunga yang        berlebih-lebihan. Kewalahan mereka akan membayar bunga        itulah yang menjadi latar belakang sampai berkobarnya        pemberontakan Diponegoro. Tidak kebetulan, Pangeran        Diponegoro banyak diagung-agungkan oleh penulis Belanda        abad ke-19 yang dari golongan liberal. Akibat perang di        Jawa itu, keuangan pemerintahan kolonial yang toh sudah        sarat oleh hutangnya yang besar itu malah makin defisit,        akhirnya van der Capellen diganti.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Penggantinya, du Bois de Gisignies, melakukan        percobaan terakhir akan membuktikan, bahwa dalam zaman        perekonomian kapital dan industri pabrik, ekonomi        Indonesia masih bisa dibuat berpenghasilan positif        dengan tetap mendasar pada tatacara konservatif.        Eksperimen ini terkenallah dalam sejarah Indonesia        dengan istilah "cultuurstelsel", penanaman paksa        hasil-hasil bumi yang mendatangkan laba besar dengan        mempertahankan organisasi pengaturan dan pengawasan        produksi menurut cara feodal ataupun pra-feodal        tradisional setempat. Administrasi Belanda cuma tahu        terima hasil bumi sesuai penugasan semula yang harus        dipenuhi oleh bangsawan-bangsawan pribumi, tak peduli        bagaimana caranya mereka-mereka ini terpaksa memeras        rakyatnya agar kuota hasil bumi terpenuhi. Pada tahun        1849-1850, terjadilah malapetaka bencana kelaparan di        Jawa Tengah. Hiruk-pikuklah golongan liberal Belanda,        menyalahkan politik konservatif sebagai sebab malapetaka        tersebut. Ke setiap pelosok Negeri Belanda        disebar-sebarkanlah cerita-cerita yang merawan hati        tentang anak-anak di Pulau Jawa yang mati kelaparan.        Berhasillah pemerintahan konservatif ditumbangkan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Golongan liberal mendapat mayoritas di parlemen        Belanda, "cultuurstelsel" dihapuskan. Berangsur-angsur        terjadi reforme-reforme yang setapak demi setapak        meniadakan monopoli negara atas perdagangan        berbagai-bagai hasil bumi, membatalkan kuota-kuota        penghasilan paksa dan sebagainya. Yang paling penting        adalah undang-undang yang memungkinkan tanah desa        sedikit demi sedikit dijadikan tanah swasta, den        kemungkinan bagi orang non-pribumi menyewa tanah guna        mengadakan perkebunan. Luas total tanah desa dan tanah        milik bangsawan kian berkurang, luas tanah milik swasta        kian bertambah. Terjadilah apa yang kita sudah kenal        dari sejarah Inggeris dan Jepang di atas tadi, hanya        saja dengan skala lebih kecil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pemerintah Belanda yang liberalpun tidak berani        menerapkan prinsip perekonomian pasaran bebas yang        liberal benar, melainkan akhirnya berkompromi dengan        golongan konservatif. Undang-undang 1870 hanya memberi        lowongan terbatas untuk proses yang kita kenal dari        Inggeris dan Jepang itu. Mangapa begitu? Sederhana saja:        diswastakannya tanah desa secara total dikhawatirkan        tidak saja akan berkonsekuensi ada banyak petani        bangkrut menjadi tenaga buruh, melainkan juga ada petani        yang menang saingan, menjadi tani majikan besar dengan        kapitalnya sendiri, bisa mengadakan perkebunan ataupun        pabrik pengolahan hasil-hasil bumi. Kaum liberal Belanda        hanya memerlukan banyak-banyak buruh Jawa, tetapi tidak        menghendaki kelahiran lapisan usahawan swasta agraria        Jawa. Karena peran majikan perkebunan telah        ditetapkannya bagi dirinya sendiri, bagi tuan-tuan        perkebunan dari Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam kompromi tersebut, golongan konservatif Belanda        seakan-akan mempertahankan kepribadian tradisional        suku-suku bangsa Indonesia dengan cara-cara produksi        yang pra-industriil, berdasarkan relasi tuan ningrat /        tani hamba, atau gusti / tani desa, ataupun relasi yang        lebih kuno lagi. Gerakan nasional Indonesia mula-mula        jujur polos menghargai apa yang disangkanya keikhlasan        Belanda mempertahankan segi-segi tertentu kepribadian        kebudayaan tradisional yang dianggapnya bersifat khas "ketimuran"        itu. Maka, dengan bermaksud baik, kompromi undang-undang        agraria 1870 antara liberal dan konservatif Belanda itu        azas-azasnya dilanggengkan dalam pasal 33 sub 3        Undang-Undang Dasar 1945 RI: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bumi dan air dan kekayaan alam         yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan         dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di Korea Selatan dan di Taiwan,        sebaliknya, pemerintah melakukan reforme agraria secara        konsekuen, dan pembangunan industri kedua negeri        tersebut nyata benar hasilnya. Beta tidak mau tutup mata        akan kekerasan-kekerasan otoriter yang pernah dilakukan        oleh pemerintah negeri-negeri tersebut. Tapi kita jangan        lupa, Inggeris yang kononnya serba demokratis itupun        pernah mengenal tangan besi dalam menindak rakjatnya,        dan tidak kebetulan di Inggerispun pada tahun 1848        terjadi pemberontakan terhadap kelaliman pemerintah.        Amerika Serikat sendiripun, yang tiada taranya        bereputasi demokrasi liberal, pada 2-3 dasawarsa        terakhir abad ke-19 digoncangi pemberontakan buruh,        lebih-lebih lagi setelah tanah peternakan yang masih        bebas lalu habis, dan pemilik-pemilik tanah yang tidak        sempat haknya disahkan lalu dirampas tanahnya oleh        majikan-majikan besar yang punya koneksi politik. Ada        seorang Inggeris, lupa beta siapa, yang pernah berkata,        kalau kagum akan kemegahan piramide-piramide Mesir Kuno,        jangan lupa pula akan ratusan ribu budak yang mati        kehabisan tenaga, di paksa dengan pecut untuk menghela        batu-batu yang besar lagi berat itu. Negeri-negeri        industri moderenpun, kemegahannya terbangun atas        tulang-tulang "budak-budak" jaman awal mula kapitalisme,        yang dipaksa dengan kekerasan untuk belajar be-"rajin".        &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi, untuk lebih lengkap lagi mengulas masalah "rajin/malas"        di negeri kita sendiri, perlulah mengolah lebih jauh        lagi ke dalam sejarahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;4. Asal Mula Memasyarakatnya Budaya        Kerja "Rajin"&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Manusia di bola bumi ini pada dasarnya        sama semua, tak pandang apakah kulit putih, hitam,        kuning, ataupun sawo matang, tak pandang pula apakah        Timur, Barat, Utara, Selatan, tengah atau pinggir. Di        mana-mana terdapat orang yang gemuk dan yang kurus, yang        tekanan darah tinggi dan yang tidak, dsb., termasuk juga        yang berbakat ini atau itu, demikianpun yang kodrat        kecenderungan individunya gesit atau lamban, rajin atau        malas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terlepas daripada semua itu masih terdapat budaya        kerja, yang mana bisa khas sendiri di setiap negeri.        Ekonomi perputaran modal berbeda dengan cara-cara        ekonomi terdahulu, karena cara ini berakibat langsung        terjadinya saingan sengit di satu pasaran bebas, di mana        modal kapital yang kalah cepat putarnya akan tertelan        atau tersingkir oleh yang lain. Cara produksi kapital        tidak membutuhkan pecut seperti di Mesir Kuno kemarin,        untuk memaksa lakon-lakonnya giat bekerja. Cara baru        tersebut, terutama pada taraf mula perkembangannya, bisa        membuat baik buruh maupun mandor serta para atasan agar        perlu sendiri berajin serajin-rajinnya, cukup dengan        paksaan gaib daripada hubungan ekonomi. Tidak seorangpun        diharuskan rajin, kalau tidak keberatan berakhir sebagai        gelandangan di serokan tepi jalan. Paksaan halus tapi        keras ini sama saja, apakah itu di negeri Inggeris atau        di Jepang, di Amerika atau di Pulau Jawa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jadi, agaknya, bukan asal Timur atau Baratlah yang        melahirkan etik kerja rajin di negeri industri (omong-omong,        "industri" arti asalnya tidak lain daripada "kerajinan"),        melainkan watak ekonomi negeri itu sebagai negeri        industri, baik yang di Barat maupun yang di Timur. Dalam        bab ke-2 kita sudah sempat menyaksikan merambatnya        budaya rajin ke lapisan luas penduduk yang menjadi buruh        pabrik. Sekarang, marilah kita ikuti sumber mula cara        ekonomi yang berdalihkan rajin kerja itu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada abad ke-16, kapal-kapal Sepanyol yang membawa        pulang harta emas dari Benua Baharu itu lazimnya tidak        langsung menuju bandar pangkalan di mana harta kerukan        masing-masing peserta kena pajak bea-cukai, melainkan        mampir dulu ke Tanah-tanah Rendah yang sekarang menjadi        Nederlan dan Flandria (Belgia Utara), tetapi waktu itu        masih jajahan Sepanyol. Disini, harta kekayaan dari        Benua Baharu itu dibayarkan untuk hasil tekstil yang        luks. Makmurlah pusat-pusat kerajinan tangan tekstil        Tanah-tanah Rendah, daya ekonominya akhirnya demikian        ampuh, sampai mampu berontak dan memperjuangkan        kemerdekaan negerinya dari kekuasaan Sepanyol.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bersamaan waktu, ikatan niaga gabungan kota-kota        dagang Jerman yang terkenal dengan nama Hansa, yang        kegiatannya menyebar luas mencakup Rusia di Timur,        Skandinavia di Utara, dan negeri Inggeris di Barat,        menjadi terlalu makmur benar. Berontaklah kota-kota        dagang pesisir terhadap kaisar di Wina, terkobarlah        Perang Seratus Tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Inggeris tak jauh ketinggalan. Setelah berhasil        menangkis serangan "Armada" Sepanyol, bebaslah        kapal-kapal Inggeris menjelajahi laut sampai ke        rantau-rantau Benua Baharu. Harta rampasan membantu        memodali kerajinan tekstil dalam negeri. Terjadilah        pemberontakan, tentara parlemen di bawah pimpinan        Cromwell menjatuhkan raja dari tahta.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di Perancis, perkembangannya sedikit terhambat.        Pertumbuhan daya ekonomi "wangsa ketiga" (yaitu yang        dalam masyarakat Hindu dinamakan Waisya) yang mencakup        pedagang, ahli-ahli pelbagai kerajinan, dsb., tidak        ketiban rejeki pemodalan luar biasa seperti di        negeri-negeri tetangga tersebut diatas. Maka kaum        Hugenot yang termasuk wakil-wakil lapisan tersebut        sampai ditindas dengan bengis oleh monarki. Tapi biar        lambat, akhirnya cetus pula dengan Revolusi yang paling        terkenal dari segala revolusi di Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ikhtisar singkat dan terlalu dipersenderhana ini        tentu saja memberi gambaran yang terlalu mekanis, tetapi        cukuplah untuk memperjelaskan gejala yang beta maksud di        sini, yang tentunya semata bagaikan seutas benang dalam        rumit pertalian perkembangan sejarah Eropa pada        peralihan dari Zaman Pertengahan ke Zaman Baharu den        kelanjutannya sampai ke ambang pintu Zaman Moderen.        Adapun dari penjelasan-penjelasan itu timbullah        pertanyaan: Apa hubungannya antara kemakmuran yang        didasari perniagaan dan hasil kerajinan tangan di satu        pihak, dan pemberontakan anti-feodal di negeri-negeri        itu di lain pihak? Dan penting lagi bagi tema diskusi        ini: Apa hubungannya dengan pemunculan etik kerja rajin        yang membudaya?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada semua negeri tersebut, kenaikan kemakmuran "wangsa        ketiga" ("wangsa pertama" yalah wangsa imamat, yaitu "Brahmana"        Hindu, "wangsa kedua" yalah wangsa ningrat, yaitu "Satria"        Hindu) menimbulkan suatu krisis etik. Terjadilah        persaingan dua lapisan kaya, ningrat dan waisya (terlebih        khususnya lagi, bagian waisya yang yogyalah kiranya kita        namakan lapisan prajawan, yaitu yang Bahasa Belandanya        "burger", Bahasa Perancisnya "bourgeois"). Dalam wangsa        ningrat, makin tinggi kelahirannya, makin boleh        memamerkan kemewahan. Dalam wangsa waisya, makin ahli        tangannya, dan makin rajin kerjanya, serta makin hemat        orang berumahtangga, maka makin berhasillah usahanya,        makin besarlah hartanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Etik kaum ningrat dasarnya beroyal-royalan,        menghambur-hambur kekayan, memamerkan keleluasaan        memeras petani hamba dan waisya prajawan yang        menghasilkan dasar kemakmuran gusti-gusti ningratnya.        Etik waisya prajawan berdasakan ketekunan bekerja dan        kehematanan berumahtangga. Kedua etik atau budaya        penghidupan ini tercermin pula dalam dua etik moral,        yaitu moral bangsawan ningrat yang serba membolehkan        sampai-sampai menghampiri kecabulan di satu pihak (istilah        Jawanya "abangan"), dan moral ketat puritanisme daripada        kaum prajawan, yang banyak membatas dan melarang di        pihak lain (Jawanya "putihan"). Demikianpun, keduanya        itu mencermin sebagai dua budaya kesenian, yaitu        kesenian gaya Barok dan Rokoko yang mewah dan boros pada        pihak tersebut pertama, dan kesenian yang cermat, tegas,        dan teliti pencorakannya pada pihak yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sangat penting lagi pencerminan dalam bidang agama.        Agama Serani dalam Jaman Pertengahan, akibat pengaruh        kekuasaan feodalisme, makin terkikis watak semulanya        sebagai agama kaum tertindas di Jaman Romawi, dan makin        dihinggapi ciri-ciri penampilan feodal dengan segala        pemameran kemewahan, dan diningrat-ningratkannya        kedudukan warga imamat Gereja yang bahkan secara resmi        di sebut "pangeran-pangeran Gereja". Kenaikan kedudukan        kaum prajawan mengakibatkan gerakan reforme Gereja yang        akhirnya menghasilkan agama Protestan. Maka berjelmalah        perjuangan prajawan melawan ningrat di negeri Belanda        itu sebagai perang agama Serani Protestan Belanda (Gereformeerde        Kerk) melawan agama Serani Non-Protestan Sepanyol.        Dengan adanya dua mazhab Serani ini, maka Gereja Non-Protestan        yang tidak cukup lagi sekedar disebut agama Serani itu        lazimlah dinamakan agama Katolik jadinya. Di Jermanpun,        Perang Seratus Tahun itu perang antara pesisiran yang        Protestan dengan kekaisaran yang Katolik. Dari sinilah        asalnya, sosiolog Jerman yang terkenal, Max Weber,        menamakan etik kerja rajin dan hidup cermatnya "wangsa        ketiga" atau waisya prajawan itu "etik Protestan".        Gerakan Hugenot Perancis tersebut di atas itupun satu        mazhab Protestan, dan juga mementingkan kerja rajin        hidup cermat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Catatan: mohon yang bersangkutan jangan merasa        tersinggung oleh beta yang memakai istilah "Serani",        karena istilah "Kristen" yang pada dasarnya lebih tepat        ini di Indonesia penggunaannya sudah lazim untuk        mengartikan mazhab Protestan. Demikianpun mohon para        penganut agama Katolik janganlah moganya merasa diserang,        karena keliru benarlah kalau keterangan di atas dianggap        membolehkan mazhab-mazhab agama dengan mudah saja diberi        tanda merek "progresif" atau "reaksioner". Saling kait        antara keagamaan dan pergerakan masyarakat masih banyak        seluk-beluknya lagi, yang belum terurai di atas.        Begitupun, beta membuat istilah "prajawan", karena        istilah "borjuis" di Indonesia dihinggapi praanggapan        negatif, sampai-sampai orang samakan artinya dengan "reaksioner").&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;5. Pernahnya Orang Jawa Menjadi "Rajin"        Sendiri&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Adapun, kalau manusia itu dasarnya        sama saja di semua pelosok bola Bumi, pastilah gejala "etik        Protestan"-nya Max Weber itu bisa timbul di mana-mana,        tidak terbatas pada benua Eropa, dan begitupun juga        tidak terbatas pada kawasan yang beragama Serani. Khusus        berkaitan dengan sejarah kebudayaan Jawa, simpulan ini        bolehlah rupanya dikatakan pernah terbukti kebenarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kenegaraan pertama yang pernah rajalela di kepulauan        Nusantara itu berwujudkan negara "thalassokrasi" ("kuasa        laut") Melayu pada jaman Yawadwipa (abad ke-2 seb.M. s.d.        abad ke-7 M.) dan Sriwijaya (abad ke-7 s.d. ke-13 M.).        Bangunan kenegaraan "kuasa laut" ini kiranya terdiri        dari pusat berupa kerajaan Melayu yang rajanya dianggap        ampuh dan sakti, yang dikelilingi oleh suku-suku yang        taraf perkembangan ekonominya relatif sederhana. Yang        ini terbagi atas suku-suku pedalaman yang mendatangkan        barang-barang hasil bumi bagi pusat, dan suku-suku orang        laut yang menjadi pelaut-pelaut yang tangkas serta "bajak        laut" yang ganas yang tunduk kepada raja Melayu di pusat.        Bentuk kenegaraan ini berkelebihan bisa menguasai        kawasan yang luas dengan tenaga sendiri yang minimal,        karena alat-alat pertahanan praktis disediakan oleh        keseluruhan suku-suku yang dikuasai itu sendiri.        Kelemahannya, di bidang pertahanan, yalah lama sekali        mengumpul tenaga, sehingga kurang berdaya menghadapi        penyerangan tiba-tiba (misalnya serangan dari Kerajaan        Cola di India Selatan). Kelemahan yang lebih penting        lagi: sumber pendapatan utama yalah perdagangan yang        melalui perairan yang dikuasai, sehingga produksi        materiil sendiri kurang dipentingkan, dan tanggungjawab        atas pengembangannya semata-mata berada di tangan        suku-suku yang dikuasai.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Masa keagungan bentuk kenegaraan tersebut yalah jaman        Kerajaan Yawadwipa, sedangkan masa Kerajaan Sriwijaya        sudah ditandai oleh suatu persaingan terus-menerus        dengan satu bentuk kenegaraan baru, yang bersandar pada        susunan ekonomi yang lebih efektif, yang berkembang di        Tanah Jawa. Di sini, mulai paling lambat pada abad ke-8        M., berkembanglah susunan ekonomi feodal dengan bentuk        kenegaraannya yang bersesuaian, seperti yang cukup        dikenal dari sejarah Eropa. Lengkaplah keadaan di Jawa        itu dengan raja yang dikitari feode-feodenya ("mandala"),        pendasaran ekonomi produksi pada petani desa, adanya        lapisan "orang bebas" (bandingkan "yeoman" di Inggeris),        tukang-tukang dan juru-juru keahlian yang berikatan        tertentu dibawah naungan raja, suatu susunan imamat atau        kependetaan dengan tanah sumber pendapatannya sendiri,        birokrasi administratif, herarki militer, golongan        pedagang dan puhawang (juragan kapal). Cara perekonomian        feodal yang berkembang di sini tidak saja menjamin        swasembada sandang dan pangan, tapi bahkan menimbulkan        kelebihan untuk diekspor. Penanjakan persediaan        sandang-pangan mengakibatkan kenaikan konsentrasi        penduduk. Jumlah penduduk dan potensi produksi yang        tinggi merupaka dasar yang mantap untuk keampuhan        angkatan laut dan angkatan darat. Bentuk kenegaraan        feodal di Jawa ini unggullah terhadap kenegaraan "kuasa        laut" tersebut semula, sehingga mendapat hegemoni di        Nusantara dengan kemenangan Raja Kertanegara dalam        Perang "Pamalayu", yang lalu disambung dengan masa        kejayaan Kerajaan Majapahit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak jauh berbeda dengan di Eropa seperti yang sudah        dilukiskan di atas, maka dibawah naungan Kerajaan        Majapahitpun berkembanglah perniagaan yang kemudian        mendiri sebagai inti pertumbuhan budaya kerja rajin. Di        Nusantara, perkembangannya menyerupai yang di        negeri-negeri Eropa yang mendapat sumber rejeki tambahan.        Di Nusantara, sumber rejeki yang berlebihan ini yalah        monopoli perdagangan rempah-rempah berdasarkan        dirahasiakannya jalan pelayaran ke sumber cengkih dan        pala di Maluku Utara. Tetapi pada lain pihak,        perkembangannya belum sempat mencapai taraf        menghablurnya segolongan prajawan tersendiri, melainkan        mungkin lebih menyerupai perkembangan di negara-negara        kecil Italia Zaman Renaissance (khususnya Genua dan        Venecia), dengan kurang tegasnya perpisahan antara        bangsawan keuangan atau bangsawan dagang, dengan        bangsawan ningrat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Walaupun demikian, pertentangan kepentingan antara        kedua pihak yang kemakmurannya diandalkan pada dasar        ekonomi yang berlainan itu makin meruncing, disebabkan        oleh penghasilan luarbiasa dari perdagangan        rempah-rempah. Sebagaimana halnya di Eropa, maka dua        budaya cara ekonomi, yaitu yang satunya yang        mengandalkan perdagangan dan keahlian teknik, dan yang        satunya lagi yang mengandalkan kelahiran ningratnya ("bobot"        yang berdasarkan "bibit") itu, mencermin pula dalam dua        agama tersendiri, yaitu agama Islamnya pusat-pusat        perdagangan di pesisir, dan agama Hindunya Kerajaan        Majapahit. Perjuangan antara Kesultanan Demak dan        Kerajaan Majapahit, sebagaimana kita ketahui, berakhir        dengan kemenangan Demak (Dalam buku-buku sejarah, orang        terlalu mementingkan peran Kesultanan Malaka sebagai        wakil utama gerakan Islam, akan tetapi, pewarisan        kesultanan-kesultanan Malaka / Johor / Riau-Lingga        hanyalah ekor-ekornya kontinuitas dinastik Kerajaan        Sriwijaya, dan masih tetap mencerminkan bentuk        kenegaraan "kuasa laut" yang sudah ketinggalan zaman;        Malaka hanya bisa berdiri berkat kedudukannya sebagai        "buffer-state" antara kawasan pengaruh dinasti Ming dan        Kerajaan Majapahit; Unsur aktif gerakan dagang Islam di        Malaka terpusat pada pedagang-pedagang peranakan Arab,        Parsi, Hindustani, Culia, Tionghoa, dan orang Jawa yang        tidak sedikit di Malaka itu, bukan pada bangsawan Melayu,        maka tidak kebetulan pula Malaka mudah jatuh ke tangan        Portugis).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Persamaan perjuangan antara gerakan yang beragama        Islam dengan kerajaan Hindu Majapahit itu dengan        kisah-kisah sejarah Eropa telah pertama kali diekspos (dengan        perumusan yang agak terlalu ekstrim) oleh van Leur        (1934) sebagai berikut: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Wil men een (in de         consequenties, dit zij toegegeven, gevaarlijk) beeld         gebruiken tot beter begrip van de historische         positie van den Islam in het Indonesië der         civilisation brahmanique, zoo zou men kunnen zeggen         dat de Islam een Calvinistisch zendelingschap van         eenvoudige predikers (eenvoudig als de eerste         Calvinistische missionarissen in N. Europa) is, zich         richtend tegen een Roomsch-Katholieke hiërarchie der         Indisch-Indonesische hiërocratie: Datheen, Hembyse,         tegen Granvelle;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Apabila kita memakai satu umpamaan (yang, perlu         kami akui, kensekuensinya bisa berbahaya) untuk         lebih sempurna memahami peran agama Islam di         Indonesia masa kebudayaan kebrahmanaan [= Hindu],         maka bolehlah dikatakan bahwa agama Islam merupakan         misi sending Kalvinisme [satu mazhab Protestan yang         terkenal watak puritanismenya] yang diwujudkan oleh         pendeta-pendeta bersahaja (bersahaja seperti para         missionaris Kalvinis yang pertama di Eropa Utara),         yang menantangi herarki Katolik Romawinya aparatir         herarkis Indonesia Hindiawi [= Hindu]: ibarat         Datheen dan Hembyse melawan Granvelle" &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang dimaksud dengan tiga nama tersebut        terakhir yalah (1) Pieter van Daeten (a.k.a. Pieter        Datheen) dan (2) Jan van Hembyse (a.k.a. Imbize), dua        pemimpin Kalvinis Flandria yang merubuhkan pemerintahan        Katolik wakil Kerajaan Sepanyol di kota Gent (kota kini        di Belgia) pada tahun 1577, dan (3) Mahauskup Antoine        Perrenot de Granvelle yang diangkat oleh Philip II Raja        Sepanyol sebagai penasihat utama regen Sepanyol di        Tanah-tanah Rendah. Jadi, van Leur ini praktis        menyamakan peran Wali Songo di Jawa dengan        pahlawan-pahlawan Protestan pemberontakan nasional        Belanda melawan Sepanyol.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bertanyalah kita, bukan?        benarkah budaya pesisiran dengan agama Islamnya itu juga        mewujudkan etik kerja rajin? Untuk itu, marilah kita        periksa keterangan-keterangan yang dapat kita peroleh        dari saksi-saksi Eropa masa itu. Pertama-tama, marilah        kita amati tingkat keahlian teknik orang Jawa. Dalam        karya besar Joao de Barros berjudul "Da Asia" (deretan        II, jilid VI, bab VII) yang terbit tahun 1533        diterangkan bahwa De Albuquerque melepas dari Malaka        pada tahun 1511 dengan empat kapal ... &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"termasuk satu kapal jung         rampasan yang awaknya orang Jawa melulu, yang di         antaranya banyak tukang kayu, juru dempul, dan juru         alat mekanik, yang dinilai tinggi sekali keahliannya         oleh Afonso de Albuquerque, karena orang-orang Jawa         ini ahli-ahli besar segala kejuruan pelayaran [&lt;i&gt;grandes         homens deste mister do mar&lt;/i&gt;]" &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kemahiran orang Jawa dan orang Melayu        dalam bidang perkapalan memang sangat mempesonakan orang        Portugis, karena kapal-kapal jung itu ternyata jauh        lebih besar daripada kapal-kapal Portugis, dan        lambungnya bahkan tidak mempan ditembaki dengan        meriam-meriam yang terdapat pada kapal Portugis (lihat        misalnya uraian tuntas Manguin1980). Kapal terbesar yang        pernah dibangun di Indonesia pra-kolonial yalah jung        yang berpenyisihan air 1000 ton yang turun gelanggang di        Jepara pada tahun 1513.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tetapi, mari kita kembali lagi        kepada de Barros yang menerangkan selanjutnya, bahwa        pada tahun 1513, Pati Unus yang ketika itu masih putra        mahkota Kesultanan Demak dan berjabat sebagai Adipati        Jepara, berangkat dengan 90 kapal untuk menyerang Malaka        ... &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"membawa 12.000 orang dengan         banyak sekali meriam yang dibuat di Jawa, karena         mereka itu ahli-ahli besar pengecoran dan segala         macam pengolahan besi, dan keahlian lain yang         terdapat di Hindia [&lt;i&gt;grandes homens de fundição e         de todo lavramento de ferro, e outras que houveram         da India&lt;/i&gt;]". &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sayangnya, hanya cuplikan-cuplikan saja        daripada kedua kutipan di atas ini yang beta tahu teks        Portugisnya yang asli, sedangkan sisanya beta kutip        berdasarkan terjemahan Perancis dari Ferrand (1918).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      Mengenai meriam yang orang Jawa dikatakan mahir        membuatnya itu, kita dapat lagi seorang saksi Eropa.        Musafir Jerman bernama Elias Hesse, yang pernah        mendatangi Banten pada tahun 1683, mencatat beberapa        kesannya tentang peninggalan-peninggalan masa lampau        Banten sebagai berikut (Hesse 1690): &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Die Stadt Bantam anbelanget,         ist dieselbe längst dem See-Strand mit einer hohen         Mauer, aus gebackenen Steinen, sammt Streich-Wehren         und an einigen Orthen mit Bollwercken, worauff         schwehres Geschüß gepflantzet, befestiget, und ist         dieses Geschütz von guten Metall gegossen,         ungeachtet nun dasselbe mehrentheils unbrauchbar, so         ist mir doch auf der Bint Caragante solch         vortrefflich und einig köstlich Metall-Geschütz         gezeigt worden, welches denen in Europa wenig         nachgeben sol;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Mengenai kota Banten, maka yang ini ini         dipertahankan sepanjang pantai laut oleh         tembok-tembok tinggi daripada batu bata, disertai         bendungan-bendungan pantai dan di beberapa tempat         dengan perkubuan yang di atasnya dipasang         meriam-meriam berat, maka adalah meriam ini terbuat         dari coran logam yang baik, dan adapun sebagian         besarnya sekarang tidak terpakai lagi, maka diatas         perkotaan Karang Hantu adalah aku diperlihatkan         meriam logam terlalu unggul lagi istimewa benar         mutunya, yang tiada seberapalah alahnya dengan yang         di Eropa;" &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Yang penting disini yalah meriam-meriam        berat yang terdapat di perkubuan-perkubuan tersebut        pertama. Sedangkan meriam di Karang Hantu itu, yang        sampai sekarang masih di sana, dan oleh penduduk        setempat diberi nama "Ki Amuk", penyelidikan belakangan        menunjukkan bahwa si-pembuat meriam itu orang Islam        mazhab Syi'ah, sehingga boleh jadi meriam itu diimpor        dari negeri Parsi, mengingat orang Islam di Jawa umumnya        termasuk mazhab Sunnah (lihat K.C. Crucq 1930).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      Bahwasanya orang Indonesia (dan Malaysia) sendiri juga        membuat meriam-meriam berat seperti di perkubuan yang        diberitakan oleh Elias Hesse itu, jelas misalnya dari        meriam berat buatan orang Melayu yang dilukiskan oleh        C.O. Blagden (1941) dan oleh Amin Sweeney (1971).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Terlepas dari itu, di Jawa sendiri teknik pembuatan        meriam maju terus, sampai pada pembuatan meriam yang        diisi dari pangkal (Inggeris: breech-loader; Belanda:        achterlader), seperti yang sudah disinyalir oleh A.B.        Cohen Stuart (1873).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini kita baru melihat kemahiran juru-juru keahlian        Jawa masa itu. Demikianpun terdapat kesaksian penulis        Eropa yang melukiskan pembawaan orang-orangnya, yang        beda sekali dengan pembawaan lemah-lembut dan banyak "enggeh"-nya        sebagaimana orang Eropa suka menggambarkan orang Jawa di        masa penjajahan. Berikut ini kisah musafir Portugis        Odoardo Barbosa yang pernah datang di Malaka sebelum        direbutnya kota itu oleh de Albuquerque pada tahun 1511,        melukiskan sifat-sifat orang Jawa di Malaka itu dari        segi penglihatan seorang Portugis: Orang Jawa itu        katanya &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"satu bangsa yang sangat cerdas,         tangkas berakal bulus dalam segala upayanya, terlalu         jahat serta licik benar, jarang jujur omongannya,         senantiasa siap melakukan perbuatan jahat, dan         selalu rela mempertaruhkan nyawa." &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini dikutip dari terjemahan Belandanya        P.J. Veth (1875). Tentu perlu dimengerti, bahwa pendapat        negatif Odoardo Barbosa ini sangat terpengaruh oleh        pengalaman pahitnya bertawar-menawar dengan pedagang        Jawa (kalau lukisan ini kita bacakan kepada orang Jawa        masa sekarang yang tidak tahu-menahu asal tulisan itu,        tidakkah disangkanya ini cerita tentang orang Padang,        mengingat pengalaman pahit yang serupa?). Dari        keterangan Barbosa itu tampaklah satu gambaran orang        Jawa masa itu yang sangat dinamis aktif, dengan siasat        dagang yang unggul, membuat orang kewalahan dan "penasaran"        menghadapinya. Alangkah beda, rupanya, ciri-ciri orang        Jawa masa Kesultanan Demak itu dengan ciri-cirinya yang        diberitakan orang di kemudian hari.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;(Catatan:        sebagaimana catatan mengenai mazhab-mazhab Protestan dan        Katolik pada akhir bab terdahulu, maka berkenaan dengan        perjuangan antara Demak dan Majapahitpun tidak ilmiahlah        memasang tanda merek global "progresif" dan "reaksioner"        pada agama Islam dan Hindu. Di bawah ini akan tampak        benarlah kekeliruan simpulan terburu-buru yang demikian        itu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;6. Bagaimana Orang Belanda Membuat        Orang Jawa "Malas"?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sesungguhnya, judul bab ini kurang        tepat, karena bukan orang Belandalah yang merombak        kembali proses sosial-ekonomi yang baru kita ikuti dalam        bab yang lalu. Tetapi, akhirnya berperan jugalah mereka        itu, maka judul bab ini beta buat begini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Riwayat revolusi yang memuncak dalam kemenangan Demak        terhadap Majapahit sungguh malang. Baru saja menang,        pergerakan dagang Islam di Indonesia kehilangan basis        ekonominya yang sebermula memberinya momentum jaya itu.        Lenyap monopoli Indonesia atas perdagangan rempah-rempah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sejak abad ke-14, pedagang-pedagang dan pelau-pelaut        peranakan Tionghoa makin aktif mengambil bagian dalam        perdagangan tersebut, yang lalu diikuti kapal-kapal        Tionghoa Dinasti Ming dari Kanton. Kegiatan ini        sungguhpun tidak terlalu merugikan pergerakan Islam,        melainkan justru sebaliknya. Yang paling memegang        peranan dalam kegiatan Tionghoa baik yang peranakan,        maupun yang dari Kanton itu yalah orang Tionghoa        beragama Islam yang bahkan bersekutu dengan pergerakan        dagang Islam pribumi pada umumnya, dan dengan Demak pada        khususnya. Lagi pula, pedagang-pedagang Tionghoa        terutama mengangkut rempah-rempah untuk pasaran Tionghoa,        sedangkan sumber penghasilan pokok perdagangan        rempah-rempah Indonesia yalah pasaran Barat, dari India        sampai dengan Eropa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Akan tetapi mulai abad ke-16 makin giatlah        orang-orang Portugis yang mengenal jurusan pelayaran ke        Halmahera dari nakhoda Melayu itu mencampuri perdagangan        rempah-rempah. Tikaman yang gawat benar bagi pergerakan        dagang Islam itu yalah penaklukan Malaka, yang seakan        menutupi ambang pintu Baratnya Nusantara. Perdagangan        Islam masih menyingkir, menyusur pantai Barat Sumatra,        sehingga mendatangkan sedikit kemakmuran ke Aceh, Tanah        Minangkabau, Bangkahulu, dan Banten, tetapi ini tidak        bisa memulihkan kejayaan perdagangan Islam kembali.        Keadaan ini memungkinkan pewaris-pewaris tradisi feodal        Majapahit mengadakan "comeback" atau "restorasi" dengan        dihancurkannya Demak dan didirikannya Mataram (yang baru).        Kebakaran perpustakaan Demak yang habis tak bersisa        dalam pada itu termasuk salah satu musibah terbesar        dalam sejarah kebudayaan negeri kita. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mataram itu juga beragama Islam, karena, hasil        kejayaan Demak dulu maka Pulau Jawa hampir seluruhnya        menjadi Islam. Tetapi keagamaan Islam Mataram bukan lagi        Islam prajawan atau putihan seperti yang diajarkan Wali        Songo dan Kesultanan Demak, melainkan perwujudan agama        Islam yang feodal. Walaupun bersepuh Islam, kenegaraan        yang dipulihkan kembali oleh Mataram banyak kesamaannya        dengan Majapahit, begitupun dalam budaya kerjanya. Pulih        kembali pula iklim keraton yang sering terdapat pada        bangunan-bangunan negara feodal atau despotis berkawasan        luas yang sudah sangat berusia, yaitu yang dikenal dalam        ilmu politik dengan istilah "byzantinisme", karena        diibaratkan iklim istana pada Kerajaan Romawi Timur        (Byzantium).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Saksi kita pada kali ini yalah petugas VOC Rijklof        van Goens yang beberapa kali mendatangi keraton Mataram        pada pertengahan abad ke-17 (van Goens 1666): &lt;/span&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Om de nature der Javaenen         kortelijck uyt te beelden, heeft men maer te seggen         dat de gebreecken ende ondeugden in haer soo         volkomen zijn datmen weynigh deughden daer tegen         weet te vinden, sy zijn ongelooffelijck geveynst om         hun quaet met schijn van goet te bedecken, seer         wispelturigh, ende traegh in haer voornemen: seer         trots, hoovaerdigh, en ambitieus. Twee heeren         malkanderen op straetgemoetende sullen hun gesicht         smadelijck d'een van d'ander wenden, een yder sich         inbeeldende de grootste te wesen: onmatigh brandende         van gierigheyt, ende daerom seer diefachtigh: seer         luy tot den arbeyt nochtans uyt vreese seer willigh         als haer 't selve door dwangh opgeleyt wert van een         meerderen daer onder sy bescheyden zijn:&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Kalau akan memberi gambaran akhlak orang Jawa         secara singkat, cukuplah diutarakan bahwa segala         cacat dan keburukannya itu demikian menyeluruhnya         sehingga sedikitlah kebajikan yang dapat ditemukan         padanya, dengan kepalsuan yang tiada terbayangkanlah         diseliputinya kejahatannya dengan kesan kebaikan,         gonta-ganti pendiriannya, dan lamban mereka itu         dalam upayanya; terlalu congkak, tinggihati, dan         ambisius. Dua tuan yang berpapasan di jalanan         terlalu menghinalah sama-sama membuang muka,         masing-masing menganggap dirinya sulung; meluap-luap         nafsunya tak tahu ukuran, maka dari itupun seperti         pencuri sifatnya; malas benar akan setiap pekerjaan,         namun oleh karena takut maka rela benarlah kalau         pekerjaan itu diharuskan kepadanya oleh suruhan         atasannya." &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tiada sangsi lagi, kiasan ini        berlebih-lebihan sekali, terutama karena seorang petugas        VOC yang terbiasa dengan etik kerja "Protestan" yang        sangat mementingkan disiplin itu pasti menggambarkan        tikus seakan gajah kalau berhadapan dengan suasana        feodal di istana Mataram. Lagi pula, yang berhasil        diteliti akhlaknya olehnya dan dilukiskannya disini itu        tentu bukan masyarakat Jawa pada umumnya, melainkan        bagian yang ditemuinya, yaitu yang terdapat di dalam        keraton. Adapun, gambar lukisan van Goens ini dan yang        dikisahkan oleh Barbosa tadi, walaupun sama-sama dibuat        dengan beriktikad antipati, jelas menunjukkan dua wujud        "orang Jawa" yang berbeda. Yang satu, yang ditemui oleh        Barbosa pada zaman Demak, menyoloklah dengan kuatnya        berupaya, sedangkan yang dialami oleh van Goens setelah        keruntuhan Demak itu bersifat lamban dan palsu.        Kelicikan yang dituduhkan kepada yang pertama yalah        kelihaian bertawar selagi saling hadap-menghadapi,        sedangkan yang dicelakan kepada yang lainnya yalah        kelicikan berintrik diam-diam di balik punggung.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kita        juga jangan terperosok masuk liang kesesatan lain,        mengkhayalkan situasi moral Kesultanan Demak serba        ideal, hanya gara-gara segala buktinya terbakar habis        bersama perpustakaan Demak. Sekiranya dugaan yang sudah        diutarakan di atas, bahwa taraf perkembangan di Demak        ada sedikit-banyak persamaannya dengan Venecia di        Italia, maka di sinipun intrik-mengintrik dalam        lingkungan kaum berkuasa pasti tidak kurang asyiknya.        Tapi buat apalah kita cari jauh-jauh, kalangan VOC        sendiripun banyak intrik-intrik interennya yang tercatat        dalam sejarah. Adapun. satu pengamatan ilmiah tidak akan        objektiflah, kalau terbawa nafsu memberi penilaian moral        subjektif terhadap lakon-lakon adegan yang akan ditata        itu. Tiada satu masyarakat moderenpun yang kalangannya        yang berkuasa, baik dalam herarki kekuasaan politiknya        maupun dalam struktur saling pengaruh ekonominya, itu        tidak sibuk dengan intrik-mengintrik. Yang tampak beda        di sini, yalah keramaian sikut-menyikut antara        lakon-lakon bangsawan dan usahawan yang memperebutkan        tempat yang dianggapnya layak bagi dirinya di atas        panggung ekonomi-politik yang dinamis dan memajukan        kemakmuran umum pada pihak yang satu, dan keasyikan        saling daya-memperdayai dalam rangka menduduki tempat        yang paling enak dalam remang-remang kehidupan istana        yang sepi sebal tiada mendatangkan manfaat seberapapun        untuk umum pada pihak yang lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Nah, sebagaimana kita lihat di atas, bukan orang        Belandalah yang menghentikan perkembangan etik kerja        rajin pergerakan dagang Islam atau Pesisiran di        Indonesia itu, melainkan pada kedatangannya mereka sudah        menemukan aturan feodal lama pulih kembali, dengan        sekedar sepuh Islam. Peran penting Belanda yang pertama        dalam hal ini, yaitu pada masa VOC, yalah dipeliharanya        keadaan feodal ini dan dicegahnya pengaruh dari etik        kerja rajin Protestan Belanda terhadap penghidupan        sukubangsa pribumi di Nusantara. Malah, sisa-sisa        kekuasaan etik kerja rajin pesisiran Islam itu        diperanginya, karena mengenalnya sebagai saingan        utamanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah Demak jatuh, tradisi pesisiran masih bertahan        di Sulawesi Selatan di bawah naungan Kerajaan Gowa,        begitupun di Indonesia bagian Timur dibawah naungan        Tidore. Setapak demi setapak, basis basis ini jatuh.        Yang berhasil agak selamat, berkat siasat berakomodasi        dalam suasana kekuasaan VOC itu yalah terutama orang        Bugis, kemudian lagi, juga orang Madura. Kapal-kapal        dagang Bugis (dan Makassar), begitupun kapal dagang        Madura, tetap giat mengarungi laut-laut kepulauan        Nusantara sampai pada hari ini juga. Dipertahankannya        sikap dinamis aktif orang Bugis terlebih tampak lagi        dalam perebutan kekuasaan di Kesultanan Riau, di mana        kedudukan Raja Muda di pegang oleh orang Bugis yang        praktis memegang kekuasaan de fakto. Kelompok lain yang        mulanya juga menjadi saingan Belanda yang ampuh yalah        kelompok peranakan Tionghoa. Tetapi yang inipun kemudian        dibuat "jinak" oleh VOC setelah peristiwa 1740.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maka, menjelang reforme-reforme ekonomi liberal        pertengahan abad ke-19, moral ekonomi di Jawa sungguh        menyedihkan. Beginilah kesan orang Eropa melihatnya pada        waktu itu, membandingkan orang Jawa yang sudah lama        dijajah dengan orang Bali yang baru saja kalah perang        dengan Belanda (Zollinger 1845): &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dat echter het Balinesche volk         in kennis het Javaansche vooruit is, bewijst mijns         inziens de landbouw, welke op Balie met meer zorg         behandeld wordt dan op Java (ik spreek hier slechts         van den vrijen landbouw), de industrie, veel         schooner weven, die fraaijere verwen der gewevene         stoffen, en fraaijer wapons en sieraden dan op Java;         dat bewijzen ook nog, de bedrevenheid in het lezen         en schrijven, die onder de Balinezen meer inheemsch         moet zijn dan onder de Javanen; kunst in het         algemeen en de bouwkunst in het bijzonder, die op         Balie is staande gebleven en wel op den trap van de         gezonkene Hindoesche periode op Java.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;                 &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Bahwasanya orang Bali lebih maju dari pada orang         Jawa itu terbukti, pada penglihatan kami, dari         pertaniannya, yang dikerjakan di Bali dengan lebih         telaten daripada di Jawa (kami bicara semata-mata         mengenai pertanian bebas), kerajinan tangannya,         tenunannya yang lebih indah, warna kain citanya yang         lebih menarik, persenjataan dan perhiasannya yang         lebih bagus; terbukti pula itu dari kepandaian         membaca dan menulis yang di kalangan orang Bali itu         lebih terbiasa mestinya, daripada di kalangan orang         Jawa; begitupun dari kesenian pada umumnya dan seni         bangun pada khususnya, yang di Bali masih berdiri         terus, yaitu pada tingkatan zaman Hindu yang telah         tenggelam di Jawa." &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tak jauh dari kesan pendeta Zollinger itu        keterangan daripada van Hoëvell (1854) tentang orang        Bali: &lt;/span&gt;       &lt;/div&gt;&lt;dl style="text-align: justify;"&gt;&lt;dd&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ze zijn zoowel ligchamelijk         als geestelijk eene veel krachtiger en energiker         natie dan de Javanen en begaafd met vele deugden,         die deze laatsten in de jongste eeuwen hebben         verloren.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;dd&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Baik dari segi jasmani maupun segi rohani,         mereka itu merupakan bangsa yang lebih kuat dan         berdaya daripada orang Jawa, dan merekapun diberkati         dengan pelbagai kebajikan, yang pada yang tersebut         terakhir sudah kehilangan dalam abad-abad terakhir         ini." &lt;/span&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Masih banyak lagi saksi-saksi yang bisa        kita kutip di sini, yang memberi gambaran yang terlalu        menyedihkan tentang kemerosotan kebudayaan Jawa selama        kekuasaan VOC dan masa pemerintahan konservatif parohan        pertama abad ke-19. Yang menarik pada kedua kutipan di        atas ini yalah, bahwa penulis-penulisnya nyata benar        tidak mencela sifat-sifat orang Jawa masa itu secara        rasialis, melainkan sama-sama menegaskan bahwa keadaan        positif yang disaksikannya di Bali itu tiada lain dengan        yang mereka anggap pernah juga terdapat di Jawa pada        suatu masa yang silam. Sambil lalu bolehlah kita        parhatikan di sini, alangkah sesatnya kalau di atas tadi        sampai-sampai kita simpulkan bahwa agama Hindu itu "reaksioner"        cuma gara-gara perjuangan Demak Islam melawan Majapahit        Hindu.        &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sedangkan menjelang pertengahan abad ke-19 keadaan        perkembangan kebudayaan di Jawa memang katastrofal.        Keruntuhan sistim kenegaraan feodal di Eropa pada babak        terakhirnya terutama disebabkan oleh merapuhnya golongan        ningrat. Dengan menanjaknya peran prajawan, maka segala        keahlian dalam kebudayaan masyarakat yang bersangkutan        memusat di tangan prajawan. Raja-raja membanggakan        santai kehidupannya, di mana segala beban tugas-tugas        kewajiban pemerintahan telah disuruhkan kepada "orang        bawahan" untuk memikulnya. Etik ningrat pada taraf        terakhirnya itu yalah, bahwa hidup santai-santai dan        malas itulah ciri orang "atasan", sedangkan keahlian dan        kecerdasan itu dianggapnya ciri orang "bawahan". Akibat        pandangan yang khas feodal ini, maka dalam perjuangan        antara ningrat dan prajawan, raja-raja itu cuma        mentereng gemerlapan luarnya saja, tetapi tiada berbecus        apa-apa isinya, sedangkan segala kepandaian mengatur        negara terpusat di tangan prajawan yang telah "dibebankan"        dengan urusan-urusan tersebut oleh raja-raja itu sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Di Jawa, dan di Indonesia pada umumnya, terjadi "pembagian        kerja" yang serupa. Dengan takluknya raja-raja kepada        VOC, tanggungjawab politik dan pertahanan pindah        ketangan VOC. Raja-raja itu tidak lagi memikul risiko        pemerintahan, melainkan semata-mata disisakan        tanggungjawab memeras rakyatnya sendiri agar memenuhi        kuota upeti yang harus dibayar kepada VOC. Raja-raja        cangkokan VOC ini tinggal menyambung kehidupan sebagai        benalu (parasit) sebagaimana pernah dilukiskan oleh        Douwes Dekker / Multatuli dalam romannya "Max Havelaar".        Hasil pemerintahan kolonial seabad lebih, kebudayaan        Jawa merosot seperti yang sudah diperbandingkan dengan        keaadan di Bali oleh penulis-penulis Belanda yang sudah        dikutip diatas. Lapisan ningrat Jawa permulaan abad        ke-19 sebagian besarnya butahuruf, apalagi penduduk        biasa rakyat melata. Hanya satu lapisan tipis prajawan        pribumi yang masih sisa berupaya dalam sela-sela ekonomi        yang masih luput dari monopoli-monopoli Belanda itulah,        yang masih memelihara unsur-unsur hidup dinamis pribumi        Jawa, bersama beberapa gelintir ningrat yang berakhlak        dinamis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Survey pemerintah pada tahun 1819 dan pada tahun 1831        sama-sama menunjukkan bahwa di luar Benteng Batavia,        tingkat persekolahan di Jawa sangat minimal, dan        apa-apanya yang ada itupun hanyalah berkat kegiatan        segelintir guru-guru Islam yang mutu pengajarannya        walaupun dengan segala upayanya pada masa itu pastilah        sudah tidak seperti pada masa Wali Songo (lihat van der        Chijs 1864).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan beralihnya kekuasaan pemerintahan Belanda ke        tangan golongan liberal pada pertengahan abad ke-19,        maka politik kolonial terhadap tatacara ekonomi di        Indonesiapun ternyata banting setir. Tetapi, sebagaimana        telah kita catat dalam bab 3, perombakan tatacara        ekonomi itu tidak konsekuen, melainkan dibatasi        sedimikian rupa, sehingga lahir lapisan luas buruh Jawa,        tanpa terjadinya lapisan baru usahawan Jawa (terlepas        dari yang sudah ada terutama dalam bidang perdagangan).        Perombakan ini memajukan etik kerja rajin secara timpang.        Bukan satu lapisan atasan (pedagang, juru kerajinan dan        keahlian, prajawan, usahawan) yang besar seperti di        Eropa jaman industrialisasilah yang mula-mula        kejangkitan budaya rajin dan cermat itu, melainkan        lapisan bawahanlah yang ditulari (secara paksa) dengan        budaya kerja tersebut. Jadi, apabila di Eropa kemarin,        prajawan pribumi berbudaya kerja rajin, kemudian memaksa        golongan luas petani lantaran bangkrut terus menjadi        buruh rajin. Di Indonesia akhir abad ke-19, adalah        prajawan asing yang membuat hal itu terhadap petani        pribumi, sedangkan bangsawan feodal pribumi tetap menak        tidak usah berkenalan langsung dengan budaya kerja rajin.        (Prajawan pribumi yang berbudaya rajin tidak        berkesempatan berkembang, sehingga tidak mungkin        memegang peran yang menentukan pada masa itu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Prajawan pribumi di Jawa yang tiada seberapa        jumlahnya itu tidak diam saja, dan adalah karsanya yang        penting dalam berbagai-bagai kejadian dalam kehidupan        politik dan kebudayaan, misalnya dalam penegakan Sarekat        Dagang Islam, dalam perkembangan gerakan Muhammadiah,        dalam pendatangan pikiran-pikiran reformisme Islam dari        negeri-negeri Mesir dan Turki. Mengingat bahwa ada        kecenderungan dalam politik pemerintahan kolonial untuk        lebih banyak membolehkan kepada penduduk pribumi yang        beragama Protestan, maka boleh jugalah kita sebut disini        peran prajawan yang Protestan, yang mencermin pula dalam        karsa politik, misalnya dalam kegiatan Sam Ratulangi        dengan majalah "Nationale Commentaren"-nya.        Gejala-gejala ini, baik yang Islam maupun yang Protestan,        memang ada pengaruhnya yang tertentu, tetapi tidak        sampai memainkan peran yang menentukan dalam gerakan        nasional. Ini adalah akibat politik pengajaran pemrintah        kolonial yang memang mahir sekali menciptakan        dasar-dasar sosial dan kebudayaan yang diperhitungkan        melanggengkan kekuasaan kolonial di bumi Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan perubahan tatacara ekonomi di Indonesia,        berubah pulalah tuntutan-tuntutan terhadap susunan        aministrasi bawahan yang dibebankan kepada bangsawan        pribumi (di mana administrasi bagian atasan tetap di        tangan petugas-petugas Belanda). Cara-cara administrasi        feodal yang tetap berlaku sampai pembatalan "cultuurstelsel"        itu tidak sesuai lagi untuk menjamin ketenteraman negeri        jaman perkebunan-perkebunan milik Eropa, jalan keretaapi,        telegraf, dan kapal uap. Mulai 1871 pemerintah kolonial        menjaja jalan pendidikan baru untuk calon pamongpraja        bangsa pribumi. Yang ini terutama diambil dari golongan        ningrat feodal, bukan dari lapisan prajawan. Sistim        persekolahan dibagi dua: Calon-calon lapisan paling        atasan dalam administrasi hampir semata-matalah diambil        dari golongan ningrat, dan disekolahkan bersama        anak-anak Belanda di sekolah Belanda dengan berbahasa        Belanda. Dengan demikian, konsepsi-konsepsi moderen yang        perlu dikuasainya tidak sampailah menjadi gejala bahasa        pribumi, tidak sampailah diciptakan isitilahnya dalam        bahasa tersebut. Golongan lainnya semata-mata diberi        persekolahan dalam bahasa Melayu dan/atau bahasa daerah,        dan diatur jangan sampai mempelajari bahasa Belanda.        Bahasa Melayu yang dipilih itu bahasa sastra lama yang        kolot, yang dikenal dengan nama Bahasa Melayu Sekolah        atau Bahasa Melayu van Ophuijsen (mula-mula juga dikenal        dengan istilah Bahasa Melayu HIS). Segala percobaan        untuk menyesuaikannya dengan keperluan jaman moderen itu        ditentangi dengan keras.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Politik bahasa pemerintahan kolonial ini sedemikian        menyoloknya, sehingga banjaklah upaya pemuka-pemuka        gerakan nasional untuk menyubversinya. Misalnya,        Sosrokartono (saudaranya R.A. Kartini) pada tahun 1927        membuka sekolah untuk murid pribumi yang memberi        pelajaran dalam bahasa Belanda (gurunya termasuk        Sukarno, dan Sunario yang di hari kemudian menjadi        menteri luarnegeri RI 1953 sampai 1955). Pada tahun        1928, Adinegoro menerbitkan "Kamoes Kemadjoean (modern        zakwoordenboek)" dengan kata-kata dan istilah-istilah        baru bahasa Melayu/Indonesia yang menyimpang benar dari        "Melayu Sekolah". Bahasa Melayu yang diajarkan di        sekolah-sekolah Taman Siswa sejak awal tahun-tahun        1930-an mulai menyimpang dari Bahasa van Ophuijsen, dan        makin menurutkan gejala-gejala bahasa Melayu/Indonesia        moderen. Demikianpun halnya dengan bahasa Melayu/Indonesia        yang dipakai dalam majalah "Poedjangga Baroe" mulai        tahun 1933. Perlawanan terhadap politik bahasanya        pemerintah kolonial timbul juga dari pihak orang Belanda        sendiri, misalnya Henri van Kol (anggota Parlemen        Belanda), J. Hardeman (kepala Direktorat Pendidikan dan        Ibadat pemerintahan Hindia Belanda), A.A. Fokker (ahli        bahasa Melayu).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;7. Bagaimana dengan Soal "Malas"/"Rajin"        di Masa Merdeka?&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lambat laun, lantaran sistim        persekolahan kolonial, terbentuklah elite pribumi yang        baru, yang kebudayaannya yalah hasil perkawinan antara        budaya bahasa Belanda pada satu pihak, dengan sisa        budaya nilai-nilai rohani feodal elite ningrat Indonesia        pada pihak yang lain. Kebudayaan elite inilah yang        akhirnya memperoleh suara mayoritas dalam gerakan        nasional. Adalah pandangan hidup yang berkembang secara        lumrah dalam suasana inilah yang mendasari banyak        pikiran-pikiran bapak-bapak kemerdekaan bangsa        Indonesia, khususnya dalam dua kecenderungan yang        penting. Yang pertama yalah pandangan terhadap apa yang        disebutnya "kebudayaan Barat" sebagai kebudayaan yang        terlalu mementingkan diri perorangan, yang bertentangan        dengan kebudayaan gotong-royong yang merupakan azas        daripada etik petani desa. Akibatnya yalah besarnya        pengaruh pikiran-pikiran sosialis di kalangan        pemimpin-pemimpin gerakan nasional, seperti Sukarno,        Hatta, Agus Salim, dan lain-lain. Yang kedua yalah        anggapan bahwa cara hidup santai-santai dan pandangan        dunia yang banyak berkias-kias itu mencerminkan        kebudayaan tradisional "Timur", dan bahwa pemusatan        jerih-payah yang dianggap "ngoyo" serta penilikan dunia        yang mementingkan realita fakta-fakta tanpa samar        selaput bunga-rampai penghalus-penghalus itu tradisi "Barat".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Memang, bangsa kita 50 tahun yang lalu berhasil        membebaskan diri dari cengkeraman kekuasaan kolonial,        tetapi tidak mungkin luput dari segala akibat kekuasaan        berabad-abad itu terhadap jiwa dan raga bangsa. Tak        luput pula cara berpikir pemimpin-pemimpin kita waktu        itu masih dibebani berbagai kekurangan-kekurangan.        Berterima-kasihlah kita, bahwa walaupun demikian, masih        juga berhasil mewariskan negara yang merdeka kepada kita        orang anak-cucunya. Segala cacat pada keadaan filsafat        kebudayaan yang kita peroleh pada ambang pintu        kemerdekaan itu sudah lumrahlah kita terima seadanya.        Tetapi setelah merdeka sekian dasawarsa, berperiksalah        kita lebih teliti sedikit, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini lebih penting lagi, melihat perkembagan Asia        Tenggara dewasa ini pada keseluruhannya. Budaya kerja        rajin yang katanya "Barat" itu nyata benar watak "Timur"nya        dalam penetrapan Lee Kuan Yew di Singapura, yang        kemudian disambung di Malaysia dengan politik        pemerintahan Mahathir (beta di sini tidak perlulah        menanggapi komentar-komentar yang berdasarkan        pembandingan non-ilmiah antara perkembangan masyarakat        di ambang pintu indistrialisasi di Timur, dengan        masyarakat post-industriil di Eropa). Kalau Indonesia        sampai berhasil mempertahankan dongeng tentang "ketimuran"        watak hidup santai feodal, tak akan lama lagilah negeri        kita menjadi "udik"-nya Asia Tenggara. Dari angka-angka        statistik saja, ini mungkin tidak begitu tampak nyata.        Tetapi kalau negeri-negeri tetangga lebih banyak        terpaksa mengeruk penghasilannya dengan jerih payah        berupaya, kekayaan alam negeri kita dengan minyak, hutan        dan banyak lagi yang lain itu sudah bisa membuat GNP        negeri kita menanjak curam ke atas walaupun dengan        santai-santai saja. Tetapi kita tahu dari sejarah,        negeri Belanda yang kecil dan jauh sajapun pernah        berhasil merebut segala kekayaan kita itu sewaktu        pimpinan feodal kita santai-santai. Akan mudahkah        negeri-negeri tetangga menahan diri tidak sampai berbuat        yang sama? Apalagi dengan kelancaran gerakan dana dunia        moderen, pengambilan alih seperti itu tidak memerlukan        kapal meriam dan bala tentara.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dalam tinjauan yang mendahului, berkali-kali        dikemukakan pendapat yang seakan-akan menerima saja        gejala-gejala kekerasan yang dilakukan terhadap berbagai        lapisan masyarakat berkenaan dengan timbulnya dan        meluasnya etik kerja rajin. Dari tinjauan itu bisa        timbul pertanyaan: apa pula baiknya kerja rajin itu, dan        apakah benar masyarakat industri itu satu masyarakat        yang patut diidam-idamkan? Masalahnya sesungguhnya lebih        sederhana. Pertanyaan yang demikian itu tidaklah        ditanyakan kepada kita, melainkan kita, dan semua bangsa        lain, dihadang dengan satu kekerasan yang tidak beda        dengan si buruh yang harus rajin kalau tidak senang        menjadi gelandangan. Siapa yang mengharuskan Eropa,        Amerika Utara dan Jepang untuk industrialisasi? Siapa        yang mengharuskan Korea Selatan dan Taiwan? Siapa yang        mengharuskan Singapura dan Malaysia? Setiap tahun,        televisi menyampaikan gambar-gambar orang Afrika        kelaparan ke hadapan mata kita. India dan Tiongkok        penduduknya kian tambah, berapakah diantaranya akan mati        kelaparan kalau negeri-negeri itu melupakan        industrialisasi, dan ekonominya kembali saja ke zaman        batu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pembaca yang budiman mungkin mengira, "zaman batu"        itu keterlaluan. Hanya saja, semua susunan politik dan        tatacara ekonomi antara zaman batu dan zaman industri        itu penuh dengan kekerasan, keganasan dan kebengisan.        Tak soal, apakah itu Yawadwipa atau Sriwijaya, Mataram        atau Majapahit namanya. Dan Inggeris ketika mengalami        revolusi industriil kemarin, apakah lebih baik mundur        saja? Mundur kemana? Ke masa pemerintahan Henry VIII,        atau Henry V, atau Richard III, atau Alfred yang Agung,        atau ke zamannya Beowulf? Apakah rakyatnya akan lebih        terjamin keamanannya dan kesehatannya? Tidak sampai kena        serang tentara Napoleon, "Armada" Philip II, "Horde        Kencana" Jinggiz Khan, pasukan Karel Martell atau        Khalifat Kordoba, serbuan William Sang Penakluk atau        Gaius Julius yang dinamakan Caesar? Jangan lupa, keadaan        "tempo dulu" yang nostalgis itu tidak lain daripada        keadaan yang telah melahirkan keadaan sekarang. Jadi        kembali kesana hanyalah jalan putar (yang diperbanyak        kesengsaraannya) untuk kembali lagi ke kondisi sekarang.        Pendekkata, tinjauan beta diatas itu tidak mencerminkan        idam-idam beta bagaimana seenak-enaknya hidup bangsa        kita menurut impian utopi beta, melainkan hanya berusaha        meneliti realitas yang ada di luar kehendak beta, dan        yang bukan beta yang membuatnya demikian. Maksud        penelitian itu tidak lain, akan memeta lautan yang akan        ditempuh, supaya tahu di mana airnya cukup dalam, dan di        mana ada batu karang tempat kapal bisa karam. Kalau        semau beta sih, laut itu hendaknyalah jangan berkarang        jangan bertopan, ombak-ombaknya kecil-kecil sajalah dan        udara sepoi-sepoi basa, ikannya biar loncat sendiri ke        atas geladak, dan lima kali sehari ada hujan air tawar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sungguhpun, sejarah itu tidak tinggal diam. Prajawan        Indonesia awal abad ini masih kecil kekuatannya,        sehingga tidak sampai menentukan dalam Sarekat Dagang        yang kemudian pecah jadi rebutan berbagai-bagai arus        politik yang bersaingan. Habis Perang Dunia masih juga        tidak seberapa pengaruhnya. Tetapi sekarang sudah lain        keadaannya, sudah membentuk lapisan besar klas menengah        yang makin berpengaruh, mendorong suatu etik kerja baru        yang kian memasyarakat. Pencerminan politik dan        ideologinya tak beda dengan dulu-dulu, yaitu dengan        makin meluasnya gerakan agama Islam. Selama negara masih        dikasiati oleh aparatur birokrasi yang etik kerjanya        masih berbau-bau feodal, perkembangan alamiah dalam        masyarakat yang makin besar peran prajawan atau klas        menengahnya ini akan menimbulkan satu destabilisasi yang        berbahaya baik untuk keselamatan hidup bangsa kita,        maupun untuk ketenteraman hidup umat dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Watak yang kefeodal-feodalan itu penjelmaannya        macam-macam. Yang pokok dua: Pertama, kedudukan sosial        ditentukan bukan oleh prestasi keahlian dan upaya,        melainkan oleh eratnya hubungan kerabat atau koneksi        dengan "raja". Yang dimaksud "raja" dalam hal ini        tergantung keadaan konkrit setempat. Misalnya kalau pada        tingkat propinsi, mungkin gubernur, atau pangdam, atau        entah siapa yang menentukan di sana. Yang kedua, yalah        dibatasinya persaingan bebas oleh intimidasi terhadap        usaha-usaha yang banyak suksesnya, yang diharuskan        mengabdikan diri kepada "kulawangsa", yang kembali lagi        siapanya itu tergantung pada situasi konkrit setempat        dan besarnya usaha yang banyak hasilnya itu.        Keseluruhannya ini diperlindungi oleh satu birokrasi        yang strukturnya berdasarkan herarki korupsi dan        penyalahgunaan. Artinya, birokrat bawahan bebas        berkorupsi karena tutup mata terhadap korupsi lebih        besar atasannya; atasan bebas berkorupsi karena tidak        lupa memberi kesempatan bagi bawahhnya untuk turut        kebagian rejeki, dan karena tutup mata terhadap korupsi        yang lebih besar lagi daripada atasannya yang lebih        tinggi setingkat. Prinsip yang kait-mengait dari bawah        sampai ke atas menjamin kestabilan herarki ini (bahaya        terbesar datang kalau di antaranya terdapat oknum jujur        yang sungkan korupsi). Keseluruhan ketentuan-ketentuan        ini merupakan gangguan yang amat berat terhadap        perkembangan perekonomian bebas yang berdalihkan        keahlian dan upaya, dan membuat ekonomi negeri kita        tergantung terus dari penghasilan pengerukan kekayaan        alam mentah. Boleh jadi, simpanannya masih lumayan        banyaknya, tetapi kapan-kapan akan habis jua.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Destabilisasi negara RI kalau dibiarkan terus        ketidaksesuaian tatacara pemerintahan dengan watak        perkembangan ekonomi sosial bisa membawakan akibat yang        berbahaya. Somalia dan Bosnia itu negeri-negeri kecil,        dibandingkan dengan Indonesia, tapi itu saja bisa        membuat Dewan Keamanan bergadang terus, sidang sambung        sidang. Indonesia negeri besar, kurang banyaklah segala        balatentara PBB dan NATO akan mengamankannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Kalau sampai dirasakan ada        ketidakadilan-ketidakadilan di daerah ini atau itu, dan        kita merasa didorong oleh sanubari peri-kemanusiaan        untuk mendukung gugatan para penderita dan korban        kelaliman, was-waslah jangan sampai bantuan itu membawa        penderitaan yang lebih besar lagi. Bukan maksud beta        mengajak sama-sama menuding kalau-kalau sampai ada        sementara perusahaan multi tergoda pikiran-pikiran        memperalat korban kelaliman itu supaya Indonesia pecah        kecil-kecil, supaya sumber kekayaan alam setempat lebih        mudah dimanfaatkan tanpa gangguan birokrasi. Dari        pimpinan perusahaan multi kita tidak bisa terlalu banyak        menuntut kebijaksanaan negarawan. Lain halnya harapan        beta dari ahli-ahli politik atau antroplogi, bahwa tidak        sampai berpikiran demikian juga, dengan harapan utopis        bahwa penduduk setempat tidak lagi menderita kelaliman        birokrasi sentral. Sudah lumrahlah kita tuntut kemahiran        mereka dalam menguasai ilmu sejarah moderen, yang kenal        dengan pengalaman-pengalaman pahit seperti Konggo        (Zaire) dengan Katangga, atau Nigeria dengan Biafra.        Tidak kebetulan, PBB mempunyai prinsip yang mula-mula        sulit dimengerti, yaitu lebih baik membiarkan        perbatasan-perbatasan negara warisan jaman kolonialisme,        daripada mencoba mengkoreksi perbatasan-perbatasan        tersebut sesuai dengan distribusi suku-suku. Prinsip        yang tampaknya paradoks ini justru bersandar pada        pengalaman realita perkembangan politik. Hanya        perbatasan-perbatasan tidak sah hasil agresi peranglah        yang boleh dan perlu digugat, di mana saja di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Lagi pula, destabilisasi yang berdekatan langsung        dengan Selat Malaka yang merupakan selat yang paling        ramai di dunia ini akan besarlah akibatnya terhadap        perekonomian dunia. Indonesia adalah jembatan antara        Asia dan Australia, bukan saja dala arti geografi,        tetapi juga dalam arti kebudayaan. Destabilisasi        Indonesia bisa suram sekali akibatnya untuk perhubungan        antara Australia dan Asia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Untunglah, watak campurnya kebudayaan Indonesia juga        memberi luang untuk optimis. Apabila tradisi gerakan        prajawan pribumi sudah lazim berbajukan agama Islam,        maka mazhab Serani terbesar di Indonesia, agama        Protestan, juga merupakan agama yang bertradisi prajawan.        Berbeda dengan di Eropa jaman Renaissance, agama Katolik        di Indonesia tidak mengenal latarbelakang diperalat        untuk kepentingan gerakan feodal. Justru sebaliknya,        sumbangan kebudayaan daripada gereja Katolik di        Indonesia terutama berbentuk sekolah-sekolah yang mutu        pengajarannya terkenal tinngi, sehingga banyak        menghasilkan tenaga ahli prajawan. Oleh karena dinamika        sosial yang mendasari kenaikan pengaruh agama dalam        masyarakat Indonesia dalam dasawarsa terakhir ini        rupanya memang dinamika meluasnya pengaruh golongan        prajawan, maka alamiahlah kalau gerakan keagamaan ini        tidak akan menimbulkan peruncingan dalam perselisihan        agama. Justru sebaliknya, kepentingan bersama kaum        prajawan yang beraneka-agama ini kiranya akan mendorong        agama-agama supaya berakur satu sama lain. Disini,        masyarakat akhirnya akan mendahulukan kepentingan umat        pada kesuluruhannya, dari pada ambisi pribadi satu atau        dua orang imam atau pendeta kalau-kalau sampai ada yang        kebetulan tergigit nyamuk mengganggu perdamaian        antar-umat agama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Demikianpun, makin besarnya pengaruh prajawan dalam        ekonomi, makin akan terkikis pulalah perselisihan antara        prajawan pribumi dan non-pribumi, karena sudah menjadi        kodratnya modal kapital untuk kait-mengait satu sama        lain, akhirnya tidak tampak lagi mana ujung mana pangkal.        Sebagaimana kita ketahui, perselisihan itu bukan satu        gejala asali dalam kehidupan antar-etnik di Indonesia        pra-kolonial, melainkan lahir akibat penggunaan        golongan-golongan "orang Timur non-pribumi" sebagai        lapisan pemisah antara penduduk pribumi dan orang non-pribumi        asal Eropa. Maka kepandaian-kepandaian tertentu yang        diperlukan untuk menjamin kelancaran hidup ekonomi,        tetapi tidak sempat dilaksanakan oleh orang Eropa        sendiri itu bisa diserahkan kepada non-pribumi Asia.        Dengan demikian, tercegahlah kepandaian itu sampai        dikuasai oleh mayoritas besar penduduk pribumi.        Birokrasi feodalpun agaknya mempunyai siasat yang serupa.        Etik feodal menetapkan bahwa derajat orang itu        ditentukan oleh erat kerabat dan koneksinya kepada        bangsawan setempat, dan bukan oleh kemahiran dan hasil        prestasinya. Kalau-kalau penduduk luas bisa dengan        lancar menguasai segala ilmu dan kepandaian, lambat laun        terancamlah kedudukan si birokrat feodal, bukan? Maka        adanya lapisan pemisah tertentu merupakan jaminan        keamanan kedudukannya. Cara pemerintahan yang tuntas        dengan kepentingan ekonomi golongan prajawan tidak        berkepentingan akan adanya lapisan pemisah demikian,        melainkan tentu akan berusaha melarutkan sisa lapisan        demikian kedalam lapisan lebih luas yang tidak        membeda-bedakan asal etnik, karena ini akan memperlancar        dispersi know-how ke segenap pelosok masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Peruncingan-peruncingan suasana relasi antara pusat        dan penduduk daerah yang berulang-ulang membuat        alat-alat media jadi gempar itupun sesungguhnya        disebabkan bukan oleh kegiatan indistrialisasi prajawan.        Tak soal, apa petani di Pulau Jawa dirugikan akibat        pengendapan tanahnya oleh bendungan baru, atau orang        Mentawai atau Punan yang hutan tempat memburu mata        pencahariannya tertebang habis. Sumber gangguan terbesar        yalah aparatur birokrasi korup yang kefeodal-feodalan.        Boleh seribu undang-undang dan peraturan dikeluarkan,        bagaimana penebangan hutan itu delakukan dengan cara        yang tidak merusak alam. Apa gunanya kalau ada petugas        yang lebih mementingkan uang sogok daripada peraturan        dan undang-undang, atau langsung bungkam kalau ada        kepentingan "kulawangsa" (entah yang mana, tergantung        kongkritnya setempat) yang tersentuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ini tidak berarti bahwa dengan ekonomi kapital yang        bebas dari birokrasi feodal maka segala problim akan        lenyap. Di Malaysia Timur, kabarnya, eksploitasi hutan        itupun ada ekses-eksesnya, bahkan di Kanada sajapun,        katanya, kehutanan mendapat kritik. Syukurlah, Indonesia        sedemikian kayanya, tidak perlu merusak alam untuk        mendasari industrialisasi. Lagi pula, penumbangan hutan        baik di Indonesia dan Malaysia, maupun di Kanada,        terutama bukan untuk memenuhi keperluan ekonomi        dalamnegeri. Penumbangan itu semata-mata terjadi karena        negeri-negeri industri yang sudah arrivée, yang sudah        masuk zaman post-industriil, tak kenyang-kenyang        mengonsumsi hasil hutan. Cukuplah negeri-negeri itu        menghentikan import hutan, mustahillah masih ada        kelebihan pohon ditebang di Indonesia dan Malaysia,        ataupun di Kanada. Alangkah baiknya kalau PBB menetapkan        konvensi, bahwa hanya negeri-negeri gurun pasir dan        gurun es sajalah yang boleh impor hutan, karena iklim        dalamnegerinya tidak memungkinkan penanaman hutan        sendiri. Konsekuensinya, pasti daerah Mississipi-Missouri,        Rhein-Mosel, Seine dan Loire, Thames, dll. tidak akan        jadi korban banjir lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Dengan pikiran penutup yang optimis-utopis ini maka        tepatlah saatnya untuk mengakhiri tinjauan di atas,        supaya tidak terlalu terjerumus ke wilayah impian.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;pre&gt; &lt;/pre&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h3 style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: 400;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Daftar        Pustaka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Alisjahbana, St. Takdir, 1936, &lt;i&gt;        Lajar Terkembang&lt;/i&gt;. Weltevreden: Balai Poestaka.&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Blagden, C.O., 1941, "A XVIIth Century Malay Canon         in London", &lt;i&gt;Journal of the Malayan Branch of the         Royal Asiatic society&lt;/i&gt;, 19/1:122-124.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Chijs, J.A. van der, 1864, "Bijdragen tot de         geschiedenis van het inlandsch onderwijs in         Nederlandsch-Indie, I &amp;amp; II", &lt;i&gt;Tijdschrift voor         Indische Taal-, Land- en Volkenkunde&lt;/i&gt;         14:212--323.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Cohen Stuart, A.B. 1873, "Een oud vuurwapen van         Jakatra?", &lt;i&gt;Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-         en Volkenkunde&lt;/i&gt; 20:70-77.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Crucq, K.C., 1930, "De drie Heilige Kanonnen", &lt;i&gt;        Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en         Volkenkunde&lt;/i&gt; 70:195--204.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Ferrand, Gabriel, 1918, "A propos d'une carte         javanaise du XVe siècle", &lt;i&gt;Journal asiatique&lt;/i&gt;,         série 11, 12:158-170       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       [Goens, Rijklof van], 1666, &lt;i&gt;Javaense Reyse,         Gedaen van Batavia Over Samarangh Na de         Konincklijcke Hoofd-plaets Mataram, Door de Heere         N.N. in den Jare 1656. Waere inne den wegh uyt         Samarangh na Mataram, mitschaders de Zeden,         Gewoonten, en Regeringe van den Sousouhounan,         Groot-machtighste Koninck van 't Eyland Java,         nauw-keurigh worden beschreven&lt;/i&gt;. Dordrecht:         Vinçent Caimix.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Hatta, Mohammad, 1936, &lt;i&gt;Rasionalisasi&lt;/i&gt;.         Soerabaja: Doenia-Dagang.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Hesse, Elias, 1690, &lt;i&gt;Ost-Indische         Reise-Beschreibung oder Diarium, Was bey der Reise         des Churfürstl. Sächs. Raths und Berg-Commissarii D.         Benjamin Olißschens im Jahre 1680. Von Dresden aus         biß in Asiam auff die Insul Sumatra Denckwürdiges         vorgegangen&lt;/i&gt;. Leipzig: Michael Günthers       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Hoëvell, Wolter Robert van, 1854, &lt;i&gt;        Reis over Java, Madura en Bali in het midden van         1847&lt;/i&gt;, 3e deel, 1e aflev., Amsterdam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Hogendorp, Dirk van, 1799, &lt;i&gt;Schets of proeve van         den tegenwordigen staat van Java en ontwerp tot         verbetering van dies bestier&lt;/i&gt;. .....       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Leur, Jacob Cornelis van, 1934, &lt;i&gt;Eenige         beschouwingen betreffende den ouden Aziatischen         handel&lt;/i&gt;. disertasi, Rijksuniversiteit te Leiden.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Manguin, Pierre-Yves, 1980, "The Southeast Asian         Ship: An Historical Approach", &lt;i&gt;Journal of         Southeast Asian Studies&lt;/i&gt;, 11:266-276.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Sweeney, Amin, 1971, "Some Observations on the Malay         Sha'ir", &lt;i&gt;Journal of the Malaysian Branch of the         Royal Asiatic Society&lt;/i&gt; 44/1:51-70.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Tjokroamiprodjo, 1902, "Zijn de Javanen lui? welke         wegen moet men inslaan om de Javanen voor         achteruitgang te behoeden!" &lt;i&gt;Tijdschrift van het         Binnenlandsch Bestuur&lt;/i&gt; 23:480-491.       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Veth, P.J., 1875, &lt;i&gt;Java, Geographisch,         Ethnologisch, Historisch&lt;/i&gt;. Haarlem: Erven F. Bohn       &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Zollinger, H., 1845, "Een uitstapje naar het eiland         Balie", &lt;i&gt;Tijdschrift voor Neêrland's Indië&lt;/i&gt;         7/4:1-56. &lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh:       &lt;a href="mailto:mahdi@fhi-berlin.mpg.de"&gt;Waruno Mahdi&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;      Sumber: http://w3.rz-berlin.mpg.de/~wm/PAP/MalasRajin.html&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-2789252021479365012?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/2789252021479365012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=2789252021479365012' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/2789252021479365012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/2789252021479365012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/sekitar-sosiologi-budaya-malas-dan.html' title='Sekitar Sosiologi Budaya &quot;Malas&quot; dan &quot;Rajin&quot; di Nusantara'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-3185899346068717880</id><published>2008-11-15T20:32:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:36:56.721+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Pengembaraan Gagasan Protestanisme Islam</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       ARTIKEL ini menganalisis pemikiran keagamaan tiga        intelektual Iran: Sayyid Jamâl al-Dîn al-Afghânî        (1838-1897), Ali Sharî’ati (1933-1977), dan Hashem        Aghajari (1955-sekarang). Ketiganya dinilai sebagai        Muslim Luther atas apresiasi mereka yang tinggi terhadap        Martin Luther dan Reformasi Protestan abad ke-16 di        Eropa dan seruan mereka atas Protestanisme Islam di        Iran. Namun, artikel ini tak bermaksud membandingkan dua        reformasi keagamaan di Eropa dan Iran. Ia lebih        menganalisis pengembaraan gagasan Protestanisme Islam        dari Afghânî, Sharî’ati, ke Aghajari.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Traveling theory Edward Said (1984) dipakai untuk        menganalisis gerak sejarah-dinamis gagasan Protestanisme        Islam "dari orang ke orang, situasi ke situasi, dan dari        satu periode ke periode lain". Seperti halnya Traveling        Theory mengalami revisi ulang, gagasan Protestanisme        Islam mengalami modifikasi, penafsiran ulang, dan        penyegaran kembali setelah terjadi pengembaraan sebagai        tanggapan atas tantangan berbeda-beda.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Afghânî: awal Muslim Luther Iran&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Afghânî lahir pada tahun 1838 di Desa Asadabad, dekat        Kota Hamadan, Iran, memiliki nama asli Sayyid Jamâl al-Dîn        Asadâbâdî. Nama Afghânî hanya dipakai tahun 1869 untuk        memikat dan memengaruhi lebih luas kalangan Muslim        Sunni. Di dunia Islam, nama Sayyid diindikasikan punya        garis keturunan ke Nabi Muhammad. Ayahnya, Sayyid Safdar,        memang berasal dari kalangan terhormat Sayyids Shi’ah        dan memiliki kedekatan dengan 12 imam Shi’ah, terutama        Shaikh Murtazâ Ansârî. Dari ayahnya, ia belajar bahasa        Arab, Al Quran, dan fikih, di samping menempuh        pendidikan Shi’ah di Qazvin, Teheran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Masa pembentukan awal di lingkungan Shi’ah membuat        Afghânî tertarik pada filsafat Islam, terutama dalam        tradisi Ibn Sînâ. Baginya, filsafat Islam adalah jalan        menuju rasionalitas dan instrumen pengetahuan untuk        mengubah masyarakat dari situasi kejumudan menuju        kemajuan. Ia tegaskan "(Filsafat) adalah penyebab        pertama aktivitas intelektual manusia... dan argumen        terbesar untuk mentransformasi suku bangsa dan        masyarakat dari keadaan nomadisme dan kekejaman menuju        kebudayaan dan peradaban".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Melalui sentuhan filsafat, Islam dan akal atau ilmu        pengetahuan modern bisa berjalan seiring. Tahun 1883, ia        menulis artikel Answer to Renan di Journal des Débats        (18 Mei 1883) sebagai respons kritis atas pidato Ernest        Renan, Islam and Science, di Sorbonne dan publikasinya        di Journal des Débats (29 Maret 1883). Afghânî menolak        dua hal. Pertama, prasangka negatif Renan bahwa Islam        bermusuhan dengan ilmu pengetahuan. Kedua, asumsi        rasialis Renan bahwa orang Arab bermusuhan dengan        filsafat dan ilmu pengetahuan. Faktanya, ia berargumen,        "seseorang tak dapat membantah bahwa melalui (pendidikan)        agama-entah itu Muslim, Kristen, entah penganut Pagan-semua        bangsa telah bangkit dari barbarisme bergerak menuju        peradaban lebih maju.... Di sini saya memohon kepada        Tuan Renan tidak memandang agama orang Muslim (Islam)        sebagai penyebabnya, tetapi lebih karena ratusan juta        manusia yang hidup dalam barbarisme dan ketidaktahuan".        Afghânî menilai Islam dan Muslim sebagai dua entitas        yang evolutif dan, karenanya, bergerak dari barbarisme        menuju peradaban. Inilah yang dapat dilihat melalui        kejayaan zaman keemasan Islam klasik: bercirikan        peradaban modern, pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan,        kuatnya militer, dan kemakmuran ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Itu sebabnya Afghânî menangkis asumsi rasialis Renan: "tak        seorang pun dapat membantah bahwa orang Arab, selagi        masih dalam kondisi barbarisme, segera berproses menuju        tahap intelektual dan kemajuan ilmiah dengan kecepatan        yang hanya disejajarkan dengan kecepatan daerah-daerah        taklukannya. Hanya dalam tempo satu abad, orang Arab        merebut dan mengasimilasi hampir semua ilmu pengetahuan        orang Yunani dan Persia yang berkembang lambat-laun        selama berabad-abad di tanah asalnya, seperti halnya        mereka memperluas dominasi wilayah kekuasaannya dari        jazirah Arab, pegunungan Himalaya, sampai ke puncak        Pyrene".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Di        samping pengaruh filsafat Islam, keyakinan Afghânî        terhadap akal juga dipengaruhi penulisan sejarah        Francois Guizot (1787-1874). Guizot dikenal sebagai        sejarawan Perancis, negarawan dan keturunan keluarga        Protestan, yang menyampaikan pidato sejarah peradaban        Eropa abad ke-19. Keyakinannya pada akal dan solidaritas        sosial sebagai sumber kemajuan Barat menginspirasi        Afghânî menafsirkan kembali Islam sebagai keyakinan        terhadap akal, kemajuan, dan peradaban ketimbang        sejumlah doktrin keagamaan yang dogmatis. Inilah        kesimpulan penting Hourani (2002: 114): "Ide Peradaban        adalah salah satu yang berpengaruh di Eropa abad ke-19        dan melalui Afghânî, ide itu sampai di dunia Islam. Ide        itu disampaikan oleh Guizot dalam pidatonya tentang        sejarah peradaban di Eropa. Afghânî telah membaca Guizot        dan terpesona olehnya. Karya itu kemudian diterjemahkan        ke dalam bahasa Arab tahun 1877 dan Afghânî mengilhami        muridnya, ’Abduh, menulis artikel sebagai sambutan atas        terjemahan sekaligus penjelasan rinci tentang doktrin        buku tersebut."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Menurutnya, seruan menafsirkan kembali Al Quran yang        selaras dengan akal, kemajuan, dan peradaban dapat        mengantar pada reformasi Islam model Protestan. Afghânî        benar-benar dipengaruhi Guizot yang melihat Reformasi        Protestan sebagai faktor menentukan yang mengantar Eropa        ke kemajuan dan peradaban modern. Afghânî mengakui: "tak        terbantahkan bahwa Guizot... berkata sebagai berikut:        salah satu penyebab utama kemajuan peradaban Barat        adalah munculnya kelompok yang mengatakan, ’meskipun        agama kita Kristen, kita mencari pembuktian atas hal-hal        mendasar dalam keyakinan kita’. Para Imam tidak memberi        izin dan mereka berkata agama (Kristen) disandarkan pada        imitasi. Ketika sebuah kelompok di atas menjadi kuat,        gagasan mereka pun menyebar; rasio membebaskan diri dari        belenggu kebodohan dan kemajalan (berpikir) menuju        pergerakan dan kemajuan; dan orang-orang berikhtiar        meraih berkah peradaban".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Mirip para imam dalam Kristen, Afghânî yakin ulama        konservatif menjadi penyebab jatuhnya peradaban Islam        selama berabad-abad. Hak memeluk Islam dengan penalaran        demonstratif tidak lagi diperkenankan otoritas ulama        karena pintu ijtihad dinyatakan tertutup. Pilihan antara        mengikuti otoritas keagamaan atau akal pikiran        benar-benar berada dalam gugatannya. Terinspriasi oleh        Luther, yang secara terbuka menggugat otoritas imam        dalam Gereja, Afghânî mulai menggugat konservatisme        ulama. Baginya, reformasi dan kemajuan Islam tak akan        pernah terwujud jika ulama tetap memelihara pandangan        keislaman yang konservatif. Ia pun berjuang mendobrak        konservatisme Islam, stagnasi keagamaan (jumud), dan        imitasi buta (taklid), yang ia nilai sebagai musuh Islam        yang benar. Afghânî lebih mengimani Islam sebagai agama        yang selaras dengan akal, kemajuan, dan peradaban yang        dapat mengantar pada terwujudnya reformasi Islam model        Protestan. ’Abd al-Qâdir al-Maghribî, yang mencatat        perbincangan Afghânî’ dengan sejumlah murid dan        koleganya di Istanbul, Turki (1892-1897), bertanya        kepadanya tentang metode yang tepat mencapai kemajuan        modern-Barat. Afghânî menjawabnya: "Ini harus melalui        gerakan (reformasi) keagamaan... jika kita        mempertimbangkan argumen di balik transformasi kondisi        Eropa dari barbarisme menuju peradaban, kita melihat        bahwasanya hal itu semata-mata dipicu gerakan keagamaan        yang dipelopori dan disebarkan oleh (Martin) Luther.        Manusia hebat ini-ketika dia melihat bahwasanya orang        Eropa mengalami kemerosotan dan kehilangan vitalitas        akibat periode lama yang mereka persembahkan kepada        pemimpin gereja dan imitasi keagamaan, bukan disandarkan        pada penalaran akal yang jelas-memulai gerakan keagamaan        (Reformasi Protestan).... Dia (Luther) mengingatkan        orang Eropa bahwasanya mereka dilahirkan dalam keadaan        bebas dan mengapa mereka menyerahkan diri kepada para        tiran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Karena itu, Afghânî menganggap Luther sebagai pahlawan        besar. Dia sering memandang diri sebagai sang Muslim        Luther Iran yang terinspirasi Reformasi Protestan        sebagai titik tolak reformasi Islam di Iran. Ia lalu        berargumen bahwa buah Reformasi Protestan dan kompetisi        dinamisnya dengan Katolik telah membawa Eropa menuju        reformasi dan kemajuan. Baginya, kemajuan dan reformasi        Islam tak mungkin terwujud jika orang Islam tak memetik        hikmah dari Reformasi Protestan. Karenanya, Afghânî        berargumen Islam memang butuh seorang Luther untuk        mewujudkan reformasi Islam model Protestan. Prinsip        dasar pun ia jabarkan: (1) mirip seruan Luther untuk        kembali kepada Bibel, reformasi Islam model Afghânî juga        berupa seruan untuk kembali pada Al Quran sebagai kitab        suci progresif; dan (2) seruan membuka kembali pintu        ijtihad untuk menemukan kembali spirit Al Quran yang        selaras dengan akal, kemajuan, dan peradaban. Baginya,        Al Quran dengan sendirinya rasional dan progresif jika        ditafsirkan secara rasional dan progresif. Dan,        penafsiran Al Quran yang tepat, demikian Afghânî        menambahkan, haruslah bercorak rasional, progresif,        filosofis, dan ilmiah sebagai pembacaan alternatif        terhadap penafsiran Islam yang statis dan fatalistik di        kalangan ulama konservatif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Ali Sharî'ati: inteligensia progresif dan seruan        Protestanisme Islam&lt;/strong&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sharî'ati, lahir 3 Desember 1933 di Mazinan, dekat        Mashhad, Iran. Dia menempuh pendidikan dasar di Mashhad        dan bergelar sarjana dalam bahasa Arab dan Perancis        tahun 1958. Ia memenangi beasiswa pemerintah (1959)        melanjutkan doktornya pada sosiologi dan sejarah Islam        di Sorbonne, Paris. Ia belajar dengan sejumlah        orientalis dan marxis: Massignon, Sartre, dan Fanon. Ia        terjemahkan What is Poetry? (Sartre), Guerrilla Warfare        (Guevara), dan adikarya Fanon, The Wretched of the        Earth. Tahun 1963, dia menyelesaikan disertasi tentang        Fadâ’il al-Balkh (Les Merites de Balkh). Setiba di Iran,        ia langsung ditahan dan dijebloskan enam bulan di        penjara atas sangkaan aktivitas politik antipemerintahan        Shah di Paris.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Setelah bebas, Sharî'ati pulang kampung di Khurasan dan        mengajar di sekolah tingkat atas serta Universitas        Mashhad. Reputasinya sebagai dosen segera tersiar luas        ketika pindah ke Teheran (1969) dan mulai reguler        menyampaikan kuliah umum di Husayniah Irshâd, pusat        keislaman progresif prarevolusi Iran. Ia dikenal sebagai        orator ulung dan berseru menyatukan kekuatan melawan        rezim Shah. Akibat ketakutan berlebihan atas pengaruh        politiknya, rezim Iran kembali menjebloskannya ke        penjara 18 bulan. Sejarawan Iran, Abrahamian, berargumen        ulama dan intelektual konservatif memainkan peran        tersembunyi di balik pemberhentian pidatonya karena        rezim Iran menyewa intelektual bayaran menuduh Sharî'ati        sebagai biang keladi propaganda antiulama dan penganjur        marxisme Islam. Fatwa pun dikeluarkan untuk        mendiskreditkan reputasi intelektualnya. Para pengikut        fanatiknya dilarang menghadiri pidato Sharî'ati atau        sekadar membaca bukunya (Rahmena, 1998: 275).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tekanan publik dan protes internasional berhasil memaksa        rezim Shah membebaskannya dari penjara meski tetap dalam        tahanan rumah dua tahun (1975-1977) sampai akhirnya ia        pergi ke London dan meninggal secara misterius pada 19        Juni 1977. Meski meninggal sebelum revolusi Iran        (1978-1979), ia dijuluki sebagai ideolog revolusi.        Selama revolusi berlangsung, kebanyakan demonstran di        jalan-jalan mengibarkan dua gambar intelektual Iran:        Ayatollâh Khomeini dan Ali Sharî’ati. Pidato Sharî’ati        pun ditranskrip ke dalam lebih dari 50 pamflet dan buku        kecil. Rekaman pidato dan slogan populernya direkam dan        disebarkan di Iran dan luar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Mengikuti seruan Afghânî untuk kembali pada Al Quran,        Sharî'ati juga berseru pentingnya kembali pada "Islam        yang benar" yang selama ini disalahtafsirkan ulama        konservatif sebagai agama statis dan membisu. Ia        menyalahkan ulama konservatif karena (1) tidak        melanjutkan proyek reformasi Islam yang dirintis Afghânî        dan (2) menghamba dalam kepemimpinan politik Shah yang        tugasnya memberikan stempel politik-keagamaan demi        kelanggengan status quo. Atas dasar itu, ia pertama-tama        melakukan distingsi yang ketat antara "Islam yang        dipeluk rakyat tertindas" dengan "Islam yang dipeluk        ulama konservatif dan penguasa". Ia tegaskan: "Tidaklah        cukup sekadar berseru bahwa kita harus kembali kepada        Islam. Kita harus merujuk secara spesifik Islam yang        mana: Islam Marwan penguasa atau Islam Abu Zarr.        Keduanya dipanggil Islam, tetapi terdapat perbedaan        tajam antara keduanya. Satunya adalah Islam kekhalifahan,        istana, dan penguasa; sementara satunya lagi adalah        Islam rakyat, tertindas, dan jelata. Lebih dari itu, tak        cukup berkata bahwa seseorang sebaiknya peduli pada        orang miskin jelata. Para penguasa yang korup pun        berkata serupa. "Islam yang benar" lebih dari sekadar        kepedulian dengan menginstruksikan umat untuk berjuang        demi keadilan, persamaan, dan pengentasan orang dari        kemiskinan (Sharî'ati, Islamology, Lesson 3; Abrahamian,        1982).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Seruan kembali pada "Islam yang benar", menurutnya,        harus dinakhodai dan disebarluaskan oleh inteligensia        progresif (rûshanfekrân) yang kritis terhadap otoritas        keagamaan dan rezim korup. Sharî’ati menganggap        rûshanfekrân sebagai pendukung gagasan Protestanisme        Islam yang revolusioner. Ia pun terbuka memuji Afghânî        bersama ’Abduh (Mesir, 1849-1905) dan Iqbal (India,        1877-1938) sebagai inteligensia progresif yang        menyelaraskan reformasi Islam dengan rasionalitas, ilmu        pengetahuan, dan peradaban modern Eropa. Harapannya pada        inteligensia progresif adalah dapat memainkan peran        keagamaan serupa seperti diperankan Luther dan Calvin        dalam rangka mentransformasikan roda kepemimpinan dari        otoritas ulama konservatif ke pundak inteligensia        progresif. Dalam Mission of a Free Thinker, ia tegaskan:        "Apa yang sesungguhnya penting buat kita saat ini adalah        etos kerja Luther dan Calvin karena mereka        mentransformasikan etika Katolik- yang telah        memenjarakan Eropa dalam tradisi selama berabad-abad-ke        arah gerak dinamis dan kekuatan kreatif. Misalnya, Max        Weber mendiskusikan hubungan antara kapitalisme dan        etika Protestan. Weber berargumen negara-negara yang        dominan Katolik, seperti Spanyol, Perancis, dan Italia,        kurang progresif dibandingkan dengan Inggris, Jerman,        dan Amerika yang dominan Protestan. Karena itu, Weber        berargumen terdapat keterkaitan langsung antara etika        Protestan dan kapitalisme."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam pidatonya di Universitas Teknik Teheran, November        1971, Sharî’ati mulai terbuka menyerukan pentingnya        Protestanisme Islam: "Seperti halnya Kristen Protestan        abad pertengahan, inteligensia progresif sebaiknya mulai        (reformasi Islam) dengan Protestanisme Islam yang: (1)        menghancurkan faktor degeneratif yang, atas nama Islam,        telah melumpuhkan proses berpikir dan nasib masyarakat        dan (2) memberi sumbangsih bagi pemikiran dan pergerakan        baru." Seruan Protestanisme Islam telah menjadi        pernyataan terbuka dan lebih jelas ketimbang apa yang        dirintis Afghânî. Dengan Protestanisme Islam,        inteligensia progresif dapat: (1) menjembatani        meningkatnya kesenjangan antara elite-intelektual dan        massa; (2) menyelamatkan masyarakat Iran dari intervensi        politik-keagamaan destruktif yang dipraktikkan rezim        Shah dan ulama konservatif; (3) berjuang melawan        takhayul, taklid, dan kepatuhan buta yang menjadi        penanda utama Islam populer; dan (4) mempromosikan        spirit nalar berpikir rasional dan independen yang dapat        mentransformasikan masyarakat Iran ke arah tipikal        manusia rasional, independen, dan revolusioner.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Hashem Aghajari: Muadzin Protestanisme Islam&lt;/strong&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Aghajari, berusia 49 tahun, terkenal sebagai jurnalis,        dosen sejarah Universitas Hamedan, dan aktivis sosial        sayap reformis di Islamic Revolution’s Mujâhidîn        Organization (IRMO). Ia tiba-tiba jadi selebriti        intelektual setelah berpidato terbuka: Seruan atas        Protestanisme Islam (Juni 2002) sebagai kado peringatan        25 tahun wafatnya Sharî’ati. Ia dikenal pendukung setia        Sharî’ati dan penerjemah gagasannya. "Sekarang ini,"        demikian pidatonya, "Kita butuh Protestanisme Islam yang        telah diperjuangkan Sharî'ati." Ia "meminjam secara        kreatif" gagasan Protestanisme Islam Sharî’ati untuk        melancarkan kritiknya terhadap kaum ulama dan        monopolinya atas penafsiran Islam. Aghajari berargumen,        mirip yang terjadi dengan hierarki gereja dan otoritas        imam dalam Kristen abad Pertengahan pra-Reformasi        Protestan, struktur keagamaan dan kehidupan keislaman di        Iran telah jadi sedemikian hierarkis dan birokratis.        Seperti halnya Reformasi Protestan bermaksud        menyelamatkan Kristen dari cengkeraman para imam dan        hierarki Gereja, seruan Protestanisme Islam dimaksudkan        untuk membebaskan Islam dan Muslim Iran dari cengkeraman        politik-keagamaan kaum ulama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Aghajari segera ditahan pada Agustus 2002 dan dijatuhi        hukuman mati oleh pengadilan Hamedan, 6 November, atas        sangkaan penghinaan terhadap para ulama Shi’ah dan        pejabat tinggi rezim berkuasa Iran meski akhirnya ia        terbebaskan dari dakwaan itu. Terinspirasi oleh peran        Luther yang mendeligitimasi terpusatnya otoritas imam        gereja, seruan Protestanisme Islam menjadikan ulama        dalam kekuasaan sebagai sasaran kritiknya. Ia sadar        tidak ada sistem kependetaan dalam Islam. Namun, model        hierarki keagamaan di Iran sudah mirip dengan hierarki        gereja dalam Kristen abad pertengahan pra-Reformasi        Protestan. Sekarang ini, lanjutnya, hierarki ulama        Shi’ah Iran lebih dekat menyerupai Katolik ketimbang        Islam yang tidak mengenal sistem kependetaan. Para ulama        terlampau mencampuri urusan personal umatnya dengan        bertindak sebagai mediator. Aghajari memberikan terapi        kejut dengan mengatakan: "tidak ada mediator antara        seorang Muslim dan Tuhan dalam hal beribadah kepada-Nya        dan memahami Kitab Suci-Nya. Mengikuti jejak Luther        tentang imamat am orang percaya, ia berargumen bahwa        setiap Muslim menjadi imam bagi dirinya sendiri.        Keselamatan pun sepenuhnya ditentukan sendiri: melalui        kejernihan pikiran-dan ketulusan hati-nya ke hadirat        Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Mengikuti jejak Luther tentang pentingnya umat Kristen        mengakses langsung Bibel, Aghajari berseru agar Muslim        diberi jaminan sepenuhnya dan sebebas-bebasnya dalam        mengakses Al Quran, tidak seperti ororitarianisme Mullah        yang melarang Muslim mengakses Al Quran melalui        metodenya sendiri. Metode apa pun terbuka bagi Muslim,        melalui pintu ijtihad, sehingga Muslim Iran terlatih        berpikir rasional dan independen. Dalam pidatonya,        Aghajari melancarkan kritik tajamnya: "Selama        bertahun-tahun generasi muda takut membuka Al Quran.        Mereka bilang, ’kita harus pergi dan bertanya kepada        Mullah tentang yang Al Quran katakan...’. Generasi muda        pun tak diperkenankan mendekati Al Quran; (Generasi muda)        diberi tahu bahwasanya (pertama-tama) mereka membutuhkan        (latihan dalam) 101 metode berpikir dan mereka tidak        memilikinya. Konsekuensinya, (generasi muda) takut        membaca Al Quran. Kemudian datanglah Shari’ati dan        bercerita kepada generasi muda bahwasanya ide seperti        itu sudah bangkrut; (ia berkata) kamu dapat memahami Al        Quran dengan metodenya sendiri...."&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Mengikuti jejak pikiran Sharî’ati, ajakan penafsiran Al        Quran secara rasional dan independen ditujukan untuk        mendeligitimasi otoritas tunggal dan hierarkis ulama        Shi’ah. Muslim Iran harus diberikan hak yang setara        dengan ulama dalam mengakses dan menafsirkan Al Quran.        Tak ada keistimewaan apalagi status kesakralan di        kalangan ulama. Aghajari (2002: 2) meluruskan kekeliruan        asumsi teologis yang melihat ulama sebagai komunitas        sakral. Baginya, mereka bukanlah manusia sakral dan,        karenanya, kita tak akan pernah memberi status demikian.        Faktanya, mereka memainkan kekuasaan politik-keagamaan        untuk kepentingan diri mereka sendiri. Aghajari memuji        Sharî’ati sebagai reformis yang begitu tajam mengkritik        para Imam Iran: "Kamu bukanlah para imam, bukan pula        para nabi; (kamu) tidak bisa menganggap orang-orang        sebagai makhluk setengah manusia." Puluhan tahun para        ulama dan rezim berkuasa Iran mengabaikan prinsip dasar        hak-hak asasi manusia dan membelah rakyatnya menjadi the        insiders dan the outsiders, lantas memberangus the        outsiders. "Inikah logika keislaman? Ketika tak ada        penghormatan terhadap manusia?" gugatnya. Ia memandang        manusia sebagai subjek yang rasional, humanis, dan        independen sesuai dengan semangat utama seruan        Protestanisme Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Pengembaraan gagasan Protestanisme Islam&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Seperti halnya orang-orang dan mazhab kritis, ide-ide        dan teori-teori juga mengembara- dari orang ke orang,        situasi ke situasi, dan dari satu periode ke periode        lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kultur dan kehidupan intelektual biasanya dipelihara dan        sering kali dipertahankan melalui sirkulasi ide-ide dan        entah itu terwujud dalam bentuk pengakuan, pengaruh tak        sadar, peminjaman kreatif, atau penyesuaian secara        keseluruhan pergerakan ide-ide dan teori-teori dari satu        tempat ke tempat yang lain adalah fakta kehidupan dan        memungkinkan aktivitas intelektual yang bermanfaat.        (Edward Said, 1984:226)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Menganalisis pemikiran ketiga Muslim Luther Iran dan        seruannya atas Protestanisme Islam dapat ditarik        sejumlah temuan menarik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Pertama, gagasan Protestanisme Islam terbukti mengembara        dari Afghânî, Sharî’ati, ke Aghajari. Terdapat apa yang        dirumuskan Said sebagai a point of origin, di mana suatu        gagasan lahir atau memasuki ruang diskursus. Di sini a        point of origin ditemukan pada pemikiran keagamaan        Afghânî. Tentunya ia belumlah menyerukan gagasan        Protestanisme Islam secara eksplisit. Namun, ia dikenal        sebagai reformis Muslim Iran yang menaruh apresiasi dan        kekaguman tinggi terhadap Luther dan kesuksesan        Reformasi Protestan. Memandang Luther sebagai pahlawan        besarnya, Afghânî kemudian melihat dirinya sebagai sang        Muslim Luther Iran yang memetik buah Reformasi Protestan        sebagai model reformasi Islam. Ide bahwa "Islam butuh        sang Luther", menurut Hourani, adalah "tema favorit        Afghânî dan barangkali dia memandang dirinya sendiri        dalam peran serupa". Dengan alasan itu, "reformasi Islam        model Protestan" yang dirintisnya dapat diletakkan        sebagai a point of origin yang pada gilirannya memasuki        ruang diskursus akhir abad ke-19. Terbukti, Afghânî        menghabiskan waktu di Istanbul dalam diskursus liat        dengan murid dan koleganya seputar Martin Luther,        Reformasi Protestan, Akal dan Kemajuan, Peradaban Barat,        dan Reformasi Islam model Protestan di Iran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Gagasan Protestanisme Islam lalu mengembara dari Afghânî        menuju Sharî’ati. Sejumlah pidato umum dan tulisannya        memperlihatkan Sharî’ati mengikuti jejak Afghânî tentang        "Reformasi Islam model Protestan". Misalnya, dalam        pidato umum di Husayniah Irshâd pada 1970-an ia terbuka        memuji Afghânî sebagai inteligensia progresif yang telah        memunculkan dan menyebarluaskan "Reformasi Islam model        Protestan". Ia juga terbuka dan eksplisit menyebut        pentingnya Protestanisme Islam sambil memberi napas        pemikiran dan gerakan baru terhadap gagasannya sehingga        lebih revolusioner berhadapan dengan kekuasaan otoriter        Shah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Akhirnya, gagasan Protestanisme Islam mengembara dari        Sharî’ati menuju Aghajari. Ia memang sepenuhnya berada        di bawah "pengaruh sadar" Sharî’ati. Dalam pidatonya,        Aghajari menyebut Sharî’ati dan mengutip secara kreatif        gagasannya lebih dari 10 kali untuk mengartikulasikan        versinya sendiri tentang pentingnya Protestanisme Islam        di Iran. Ia persis melakukan apa yang dirumuskan Said        (1984) sebagai "peminjaman kreatif" dalam memodifikasi        dan menyegarkan kembali gagasan Protestanisme Islam.        Dibandingkan dengan Afghâni dan Sharî’ati, Aghajari        relatif berhasil membuat gagasan Protestanisme Islam        jadi diskursus publik lintas nasional yang populer.        Perhatian sejumlah intelektual terkemuka, dalam maupun        luar Iran, benar-benar tersedot. Di Amerika, misalnya,        intelektual dan kolumnis prolifik, Thomas Friedman,        harus menulis kolom khusus di koran terkemuka The New        York Times (4/12/2004) tentang Aghajari: "Yang terjadi        di Iran," tulis Friedman, "…adalah bentuk kombinasi        antara Martin Luther dan Tiananmen Square", yang        menyerukan Protestanisme Islam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kedua, pengembaraan gagasan Protestanisme Islam dari        Afghânî, Sharî’ati, ke Aghajari tidaklah terjadi dalam        konteks kevakuman sejarah. Sebuah gagasan mengembara,        meminjam rumusan Said (1984), sebagai respons terhadap        perubahan sosial dan sejarah yang spesifik. Ketiga        Muslim Luther Iran itu hidup dalam kurun berbeda dengan        tantangan berbeda pula. Afghâni hidup dalam suatu masa        ketika negara Eropa mencapai puncak dominasi        kolonialismenya di dunia Islam. Gagasan reformasinya        lahir dan berkembang sebagai respons spesifik terhadap        tantangan ganda: memperkuat dunia Islam sekaligus        menaklukkan imperialisme. Satu sisi dia menyerukan        pentingnya persatuan dunia Islam dan gagasannya        diarahkan demi kemajuan umat Islam di dunia modern.        Namun, di sisi lain, gagasannya juga dipakai sebagai        senjata keagamaan-politik melawan kekuasaan kolonial dan        imperialisme. Selama di Paris, ia bersama murid        liberalnya, Abduh, menerbitkan jurnal Pan-Islam        terkemuka, al-’Urwa al-Wuthqâ, sebagai respons terhadap        dan bentuk perjuangan intelektual yang canggih melawan        kebijakan imperialisme Inggris di Mesir, India, dan        Sudan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Berbeda dengan Afghâni, seruan Protestanisme Islam        Sharî’ati lebih diarahkan sebagai respons spesifik        terhadap meningkatnya proses internalisasi kolonialisme        dalam diri dan kepemimpinan rezim Shah. Dikenang sebagai        ideolog revolusi, ia berhasil membangunkan kesadaran        kritis di hampir semua lapisan untuk bersatu padu        melawan rezim Shah. Meskipun dia punya banyak kesamaan        dengan Afghâni dalam hal mengimani Islam sebagai sumber        kemajuan dan peradaban, Sharî’ati tampak lebih        revolusioner. Ini kemungkinan besar dipengaruhi        sosiologi marxisme, teori dunia ketiga Fanon, dan        pengajaran Islam atas martir Shi’ah Iran periode awal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Ternyata, silih bergantinya rezim baru Iran        pascarevolusi (1978-1979) sampai terpilihnya Presiden        Khatami untuk kali kedua tidaklah mengantarkan era baru:        dari revolusi menuju secercah reformasi dan berbalik ke        era kegelapan kembali. Pidato kontroversial Aghajari        tentang seruan Protestanisme Islam adalah sebagai        respons terhadap kecenderungan meningkatnya        otoritarianisme, baik di kalangan ulama maupun rezim        Khatami. Masuknya ulama dalam kekuasaan menjadi        distingsi jelas antara tantangan yang dihadapi Sharî’ati        dan Aghajari. Dalam pidatonya ia menegaskan "beda antara        zaman kita dengan Sharî’ati adalah bahwasanya keulamaan        tidak memiliki kekuasaan. Sekarang Islam berada di        kekuasaan, ulama berada di pemerintahan. Itu sebabnya        Protestanisme Islam jadi lebih penting saat ini".        Keterlibatan ulama dalam kekuasaan telah menjadi        tantangan serius Aghajari membebaskan Islam dan Muslim        Iran dari cengkeraman politik-keagamaan ulama dan rezim.        Reformasi Islam Iran masih jauh dari harapan!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       &lt;strong style="font-weight: 400;"&gt;Sukidi &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;       Kader Muda Muhammadiyah; Associate Researcher di The        Indonesian Institute; dan Mahasiswa Teologi di        Universitas Harvard, Cambridge, MA, AS&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;Kompas        Cyber Media&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-3185899346068717880?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/3185899346068717880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=3185899346068717880' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/3185899346068717880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/3185899346068717880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/pengembaraan-gagasan-protestanisme_15.html' title='Pengembaraan Gagasan Protestanisme Islam'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-6589396617065637086</id><published>2008-11-15T20:31:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:32:12.626+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Memahami "Soccer-sociology"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kalau ada orang yang tak sabar menanti datangnya tahun        2006, bisa jadi itu lantaran satu isu saja: Piala Dunia!        Pasalnya, meski masih 167 hari lagi digelar, namun aroma        Jerman 2006 seusai undian di Leipzig, 9 Desember 2005,        telah menyebar ke seluruh pelosok dunia. Efek        langsungnya terhadap masyarakat macam-macam. Investasi        kecil-kecilan misalnya. Ada yang sudah membeli pesawat        televisi atau antena parabola. Ada pula yang makin giat        menggemukan tabungannya agar bisa menonton langsung ke        Jerman sekeluarga. Maklum, waktunya memang pas karena        berbarengan dengan liburan sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dari sisi bisnis eceran, pernak-pernik Piala Dunia 2006        mulai banyak dijual di pasaran, entah asli ataupun        imitasi. Semangat mengelus jago masing-masing menjadi        fenomena lumrah di sela-sela waktu bekerja atau belajar.        Bisnis kafe atau barang-barang konsumen juga menanti        cerah sebab dipastikan akan kecipratan rezeki Piala        Dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Adanya Piala Dunia memang harus diantisipasi. Rencana        untuk menggelar acara dan hajatan ini-itu pada Juni-Juli        tahun depan bisa mendatangkan risiko besar. Akan tetapi,        hal yang paling positif, mungkin, bakal kondusifnya        tingkat keamanan, menurunnya angka kejahatan. Boleh jadi,        waktu si teroris atau maling akan banyak tersita untuk        menonton bola. Dalam taraf lebih besar, Piala Dunia 2006        merupakan sebuah isu besar yang harus disikapi semua        penyelenggara pemerintahan termasuk para kepala negara,        entah dia raja atau presiden. Sedikit mungkin, janganlah        bikin tindakan antipopuler yang akan mengganggu pesta        terbesar penduduk dunia ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dari sinilah kedudukan sepak bola sebagai cabang ilmu        sosiologi baru kian kuat. Sosiologi sepak bola        (soccer-sociology) telah menjadi menu utama penelitian        para sosiolog, antropolog, sejarawan, dan wartawan.        Meski bisa diperdebatkan, setidaknya hipotesis untuk        memahami dunia salah satunya dimulai dengan mempelajari        olahraga paling populer bisa diterima. Sepak bola lebih        dari sekadar permainan, peraturan atau strategi, tetapi        juga bicara fans, kultur, serta bagaimana itu semua bisa        menerangkan kebutuhan rohani mereka. Bicara Piala Dunia        berarti mengulas kegembiraan nasional, karakter bangsa,        hubungan internasional bahkan perang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sepak bola adalah sebuah seni yang sulit. Ia dimainkan        oleh satu kaki, namun tubuh harus selalu seimbang,        berlari setiap waktu yang kadang kala lawan tiba-tiba        menyikut Anda. Pada saat bersamaan, rekan-rekan Anda        juga terus berlari, menuntut konsentrasi dan operan Anda        sampai batas ketahanan tubuh habis. Tidak mengherankan        jika personalitas di olahraga, terutama pesepak bola,        lebih gampang populer ketimbang apa yang dilakukan        politisi. Ia lebih penting di mata masyarakat. Faktor        sportivitas, kalau tidak bisa dibilang sebagai ketulusan,        merupakan hal yang tak bisa dikesampingkan begitu saja.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Namun, hanya itukah penilaian terhadap sepak bola? Sama        sekali tidak. Sepak bola lebih dari sekadar permainan        atau perlombaan fisik. Pada tahun 2004, seorang sosiolog        dari Universitas Harvard di Amerika Serikat        berkesimpulan, untuk mengerti dunia maka pahamilah sepak        bola. Soccer explains the world. Sifatnya yang universal        menjelaskan segala yang telah, yang tengah, dan yang        kelak terjadi. Dendam bangsa Belanda pada bangsa Jerman,        politik di Timur Tengah, sampai arus gencar globalisasi        yang bisa mengacak-acak kebudayaan di dunia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Hal senada diulas oleh Franklin Foer pada karya        monumentalnya yang berbau provokatif, ”How Soccer        Explains the World: an Unlikely Theory of        Globalization.” Kata editor koran The New Republic ini,        hanya lewat sepak bolalah satu-satunya cara untuk        mengubah Iran menjadi sekuler. Ia juga merinci rahasia        besar peta politik Timur Tengah dengan pernyataan ”the        football revolution holds the key to the future of the        Middle East.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Strategi Jerman&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sebelumnya, sastrawan Australia, Nick Hornby, sudah        mengingatkan betapa bisa kejinya sepak bola untuk        kehidupan. Dalam Fever Pitch, bukunya yang pada tahun        1992 menjadi mahakarya dan paling terlaris, ia        mengemukakan telah terjadi metafora berlebihan pada        nilai-nilai sepak bola begitu berbagai tujuan tak        tercapai. ”Karena secara umum, tren sepak bola selalu        dikiaskan dengan hal yang indah-indah, lompatan ambisi,        gambaran apa itu sepak bola, sistem global atau        setidaknya obsesi budaya dan cacat sejarah negara        tertentu,” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Setiap World Cup berlangsung, dunia akan berdenyut        dengan cepat. Peta persahabatan dan permusuhan tiba-tiba        menjadi terurai atau transparan. Apalagi pada 9 Juni-9        Juli 2006 nanti di kejuaraan akbar ini hadir        negara-negara kontroversial di percaturan politik dunia        seperti AS, Inggris, dan Iran. Perseteruan mereka selama        ini di kancah politik, kelak, dengan mudah berpindah ke        atas lapangan hijau.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sebaliknya, dari lapangan hijau pula setiap perjumpaan        Jerman lawan Belanda, misalnya, akan diterjemahkan ke        pentas politik atau perang. Orang-orang Belanda selalu        bilang ”kembalikan sepeda saya!” kepada orang-orang        Jerman. Hal ini untuk mengobarkan semangat balas dendam        atas tindakan brutal Nazi saat menjarahi sepeda-sepeda        milik rakyat Belanda semasa Perang Dunia II. Dua tahun        silam fenomena itu pun masih ada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kenanglah kejadian di Piala Eropa 2004, tepatnya di        Estadio Do Dragao. Beberapa saat sebelum Der Panzer        berlaga lawan De Oranje pada kualifikasi Grup D,        beberapa fans Belanda malah membunyikan bel sepeda kala        Deutschlandlied, lagu kebangsaan Jerman, tengah mengalun.        Akan tetapi, dampaknya malah merugikan Tim Oranye.        Jerman, yang kala itu kekuatannya rada timpang, justru        memberikan perlawanan tangguh akibat diusik        nasionalismenya. Dan, Belanda hampir saja kalah sebelum        Ruud van Nistelrooy menyamakan skor 1-1 hanya sembilan        menit menjelang bubaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Bentrok Belanda-Jerman selalu jadi episode paling heboh.        Karakteristik voetbal Belanda adalah menyerang secara        frontal, masif. Adapun filosofi fussball Jerman lebih        mengedepankan efisiensi dan disiplin. Semua ini kemudian        diaduk lewat kultur. Bukan mustahil, cerita Jerman vs        Belanda jilid kesekian akan terjadi lagi di Piala Dunia        2006. Intensitasnya bisa saja melebihi apa yang terjadi        pada final tahun 1974 di tempat yang sama. Namun,        menariknya, kali ini Jerman sudah meredam lewat slogan        kejuaraan itu sendiri. Die Welt zu Gast bei Freunden,        waktunya untuk berteman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Apakah ini strategi baru untuk mencapai target? Buat apa        sukses menggelar acara jika juara milik orang lain?        Tampaknya, tuan rumah lebih mementingkan isu ke dalam.        Intinya apa yang tengah terjadi di Jerman sekarang,        itulah yang menjadi maksud slogan tadi. Ya, Jerman baru        17 tahun bersatu sejak keruntuhan Tembok Berlin pada        tahun 1989.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tak salah memang apabila budayawan kesohor Perancis,        Albert Camus, pernah bilang, ”Apa pun yang saya ketahui        soal moralitas, saya berutang pada sepak bola.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       &lt;strong&gt;Arief Natakusumah&lt;/strong&gt;  &lt;em&gt;Wartawan        Bolavaganza&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;Kompas        Cyber Media&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-6589396617065637086?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/6589396617065637086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=6589396617065637086' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/6589396617065637086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/6589396617065637086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/memahami-soccer-sociology.html' title='Memahami &quot;Soccer-sociology&quot;'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-165087959498907727</id><published>2008-11-15T20:29:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:31:23.628+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Indonesia: Sebuah Budaya Kekerasan?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;b&gt;&lt;a name="_ftnref1" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn1"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;                   Runtuhnya rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden        Suharto setelah berkuasa selama 33 tahun ternyata        diiringi dengan gelombang kekerasan terhadap etnis        minoritas, wanita, dan pihak lemah lain, sehingga        membuat banyak pihak bertanya-tanya mengapa negeri ini        mengalami kekacauan berdarah setiap melewati proses        transisi. Salah satu yang dicurigai terlibat dalam        kekerasan ini adalah Letjen (Purn.) Prabowo Subianto,        mantan komandan Kopassus waktu itu. Meskipun belakangan        terpaksa mengundurkan diri lantaran keterlibatannya        dalam penculikan, penyiksaan, dan pembunuhan beberapa        aktivis demokrasipada awal 1998, Prabowo adalah salah        satu pihak di mana orang ingin mendapatkan penjelasan        kekerasan Mei itu. Pada sebuah simposium yang        diselenggarakan pada April 2001, Prabowo muncul dalam        sebuah panel bertajuk “Separatisme di Indonesia,” di        mana dia memberikan pandangnnya, dengan mengatakan bahwa:&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.5in; text-indent: -0.5in; text-align: justify;"&gt;                   Budaya Indonesia pada dasarnya sarat dengan        kekerasan, dan militer adalah cerminan masyarakat belaka.        Contohnya bisa dilihat di Maluku…. Sebenarnya tidak        sepenuhnya tepat saya mengemukakan ini, terutama sebagai        orang Indonesia yang berbicara di depan banyak orang        asing, tetapi, suka atau tidak suka, secara umum budaya        di Indonesia adalah budaya kekerasan antara suku dan        kelompok etnis. Masyarakat Indonesia bisa dengan cepat        menggunakan kekerasan. Kata “amok” dalam bahsa Inggris        berasal dari bahas persatuan negara kepulauan ini. Ini        adalah sesuatu yang kita sadari, sesuatu yang tidak kita        suka, dan sesuatu yang kita ingin perhatikan, kendalikan,        dan kelola. Tetapi kekerasan memang ada: perkelahian        antarkeluarga, antardesa, antarsuku, antarkelompok etnis,        dan ujungnya antaragama.&lt;a name="_ftnref3" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn3"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Apakah penilaian Prabowo ini seusai dengan kenyataan?        Apakah Indonesia memang benar-benar berbudaya kekerasan,        atau apakah argumen semacam yang dilontarkan oleh        Prabowo dan sekelompok elit diajukan untuk        kepentingan-kepentingan lain? Dalam artikel ini, saya        menyatakan bahwa yang terakhir itulah yang terjadi.        Argumen semacam ini bermanfaat bagi para elit, yang        membuat mereka memobilisasi rakyat dengan kampanye        kembalinya keamanan dan stabilitas sebagai cara        melindungi kepentingan mereka terhadap tuntutan-tuntukan        yang meminta hak-hak atas tanah, upah yang lebih tinggi,        dan reformasi politik. Rezim Suharto telah melembagakan        teror  negara dengan mencap oposisi politik sebagai “komunis,”        menggunakan kekuatan militer dan paramiliter untuk        melawan pemrotes dan kaum separatis jika perlu. Dalam        era pos-Suharto, kegagalan para pemimpin untuk menangani        ketakadilan ekonomi, berlanjutnya penggunaan kekuatan        militer untuk menghadapi para pemrotes, pengerahan        kekuatan paramiliter oleh elit, dan kegagalan penegakan        hukum membuat rakyat lebih suka melakukan tindakan        sendiri. Gabungan keadaan inilah yang menimbulkan budaya        kekerasan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Bagian pertama artikel ini menunjukkan bahwa di bawah        Orde baru, tatanan dan stabilitas semu menyembuyikan        potensi konflik politik dan ekonomi yang siap meledak.        Kekerasan yang disponsori oleh negara telah menjadi        endemik. Bagian kedua menganalisis beberapa kekersan        yang meledak di Sumatra Selatan antara 1998 dan 2000        untuk secara lebih cermat mengidentifikasi akar dan        sifat dari kekerasan massa (“mob violence”). Pada bagian        ketiga, saya mengeksplor kesejajaran pola konflik di        Indonesia dewasa ini dengan keadaan sebelum terjadinya        pembantaian para komunis, atau yang dituduh sebagai        komunis, setelah persitiwa yang disebut sebagai Gerakan        30 September (Gestapu, atau G-30-S). Saya menjelaskan        bahwa ancaman terbesar kekerasan di Indonesia muncul        dari adanya kelompok pemuda paramiliter yang menjalin        hubungan dengan militer, partai politik, dan        organisasi-organisasi Islam , yang memungkinkan para        elit politik dan ekonomi memanfaatkan kekerasan melawan        penentangnya, serta menghindari tanggung jawab.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Kekerasan pada masa Orde Baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;            &lt;/b&gt;Pemerintah Orde        Baru memandang dirinya sebagai pemelihara tatanan dan        keamanan, melawan imoralitas dan anarki. Film yang        dibuat pada tahun 1984 tentang kudeta 1965, &lt;i&gt;       Pengkhianatan G30S/PKI&lt;/i&gt;, yang dipertontonkan bagi        seluruh anak sekolah di Indonesia, menunjukkan hal ini.        Foulcher berkomentar bahwa film ini &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 27pt; text-align: justify;"&gt;       membangkitkan simpati penonton bukan dengan cara        penonjolan kepentingan nasional tetapi lebih banyak        karena penekanan berulang-ulang terhadap penderitaan        keluarga dan anak-anak, akibat tindakan tak-manusiawi        dan tak-Indonesia dari pendukung PKI. Penggambaran        mendetail para jenderal terbunuh sebagai suami dan ayah        yang penyayang, terutama kematian Ade Irma Nasution yang        baru berusia lima tahun, mernggambarkan upaya film ini        untuk memanfaatka nila-nilai universal untuk kepentingan        politik semata.&lt;a name="_ftnref4" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn4"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;Goenawan        Mohammad, wartawan senior dan pendiri majalah Tempo,        mengutip sebuah survey yang menunjukkan bahwa lebih dari        80% responden menyatakan bahwa kejadian-kejadian yang        digambarkan dalam film tersebut adalah benar-benar        terjadi.&lt;a name="_ftnref5" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn5"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Sepanjang kekuasaan Orde Baru, negara Indonesia        digambarkan sebagai keluarga dengan ayah yang lembut,        Pak Harto, yang bertindak mengatanamakan semua rakyat.        Tetapi, rezim ini sesungguhnya ditandai dengan        kekerasan-kekerasan massa: kerusuhan anti-Jepang yang        dikenal sebagai Malari (Malapetaka Januari) pada tahun        1974, kekersaan oleh militer pada protes yang dilakukan        oleh orang Islam di Tanjung Priok pada 1984, kerusuhan        buruh di Medan pada 1994, dan kerusuhan di Jakarta        menyusul pernyerbuan kantor pusat PDI pada Juli 1996.        Setiap kejadian tersebut diawali dengan protes terhadap        kebijakan Orde Baru, yang diakhiri dengan turun        tangannya militer untuk menumpas protes tersebut. Dalam        kasus Tanjung Priok dan penyerangan kantor PDI,        kekerasan dimulai oleh tindakan pemerintah atau kelompok        paramiliter yang dekat dengan pemerintah. Malari dan        kerusuhan buruh di Medan akan dibahas nanti.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Akar kekerasan pada masa Orde Baru dapat diidentifikasi        dengan empat faktor. Pertama, kegagalan institusi        politik dan hukum. Kedua, kebijakan pembangunan yang        melarang buruh untuk berorganisasi, serta berpindahnya        kontrol atas tanah (dan sumber daya alam lain) ke tangan        pemerintah pusat dan elit yang dekat dengan rezim Orde        Baru. Ketiga, tradisi kelompok pemuda paramiliter dan        keberadaan sejumlah besar pemuda pengagguran dengan        kesempatan kerja yang kecil sehingga memungkinkan        direkrut oleh kekuatan paramiliter. Dan keempat adalah        bagaimana kekuatan paramiliter ini digunakan oleh Orde        Baru untuk memicu kekerasan sehingga membenarkan        penumpasan protes-protes serta dipakai oleh elite dalam        militer serta pemerintah untuk menyingkirkan atau        mendiskreditkan saingannya. Keempat faktor ini akan        dibahas berikut ini.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kegagalan Institusi dan Sistem&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;Institusi        politik dan hukum Orde baru tidak menyediakan saluran        untuk menyampaikan keluhan atau keberatan terhadap        kebijakan yang dirasakan tidak adil. Menurut Lindsey,        “Pada akhir 1980-an, pengadilan di Indonesia adalah        skandal nasional. Pengadilan telah ditunggangi oleh        korupsi, mungkin merupakan institusi terkorup di        Indonesia. Adalah tidak mungkin membawa sebuah kasus ke        pengadilan tanpa menyuap. Dan juga tidak mungkin menang        dalam suatu kasus tanpa menyuap.”&lt;a name="_ftnref6" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn6"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Hilangnya rasa hormat dan kepercayaan terhadap keadilan        juga disebabkan oleh korupsi di kalangan polisi.        Reformasi pada awal 80-an yang mengatur bahwa        satuan-satuan pengamanan independen di bawah polisi        Indonsia malah membuat, seperti dijelaskan oleh Barker,        “keterlibatan makin jauh polisi dalam mencari uang        dengan dalih pengamanan ketimbang sebelumnya tatkala hal        itu dikendalikan oleh kelompok gang, ketua RT/RW, atau        tentara.”&lt;a name="_ftnref7" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn7"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Akibatnya, sebuah negara kriminal yang kompleks pun        terbentuk. Menurut Lindsey, pejabat-pejabat pemerintah        Orde baru “melindungi &lt;i&gt;preman&lt;/i&gt; jalanan melalui        sistem &lt;i&gt;deking &lt;/i&gt;atau &lt;i&gt;beking. &lt;/i&gt;Struktur gang        kriminal menghubungkan elite politik dan bisnis kepada        militer lewat para &lt;i&gt;preman. &lt;/i&gt;.. Untuk        mentransformasi kekuasaan yang diperolehnya dengan        kekerasan menjadi uang, Order Baru secara sadar        menciptakan negara ‘rahasia’ untuk menjamin akses para        elite kepada sumber-sumber ekonomi ilegal dan        ekstralegal.”&lt;a name="_ftnref8" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn8"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Seiring kejatuhan Order Baru, negara kehilangan kendali        atas kriminal terorganisir, “menghasilkan pertarungan        sengit atas daerah kekuasaan dan upaya untuk mencari        sumber pendapatan baru,” serta reaksi keras dan        tumbuhnya “kewaspadaan anti-preman.”&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Barangkali tindakan kekerasan yang paling mengherankan        di Indonesia dewasa ini adalah tatkala massa mengambil        tindakan sendiri terhadap orang yang disangka melakukan        tindakan kriminal. Setelah kejatuhan Suharto, polisi        dipisahkan dari ABRI, dan tindakan kekerasan keroyokan        ini menjadi sering terhadi. Sebagai contoh, kamar mayat        R.S. Cipto Mangunkusumo di Jakarta melaporkan adanya 100        korban keroyokan massa ini—atau lebih dari satu korban        setiap dua hari—dalam enam bulan pertama tahun 2000.        Sebagian besar tersangka kriminal itu dipukuli sampai        meninggal, dan banyak juga yang disiram bahan bakar dan        kemudian dibakar.&lt;a name="_ftnref9" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn9"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Pada tahun 1990-an, legitimasi Order Baru sangat merosot        dan aksi kekerasan melawan pemerintah lokal dan terhadap        kelompok yang diuntungkan oleh kebijakan pemerintah        menjadi merebak. Contohnya, lebih dari 12 bulan dari        Juli 1995 sampai kekerasaan di kantor PDI pada Juli        1996, insiden-insiden berikut ini terjadi. Di Jember,        Jawa Timur, petani tembakau membakar gudang, sepeda        motor, toko-toko dan rumah memprotes keputusan        pengalihan kepemilikan dua ribu hektar tanah milik        pemerintah—yang saat itu digarap oleh petani-petani        tersebut—menjadi perkebunan milik negara (30 Juli-2        Agustus 1995). Di Jambi, korban bencana alam gempa bumi        marah karena kurangnya bantuan, dan gelombang penjarahan        yang menyusulnya mengakibatkan dua tewasnya tentara        berpakaian sipil (13 Oktober). Di Porsea, Sumatra Utara,        pemrotes membakar 100 rumah, sebuah stasiun radio, dan        kendaraan-kendaraan milik pabrik kertas  Indorayon Utama        setelah merebaknya rumor adanya kebocoran gas beracun        (3-4 November). Di Pasuruan, Jaw Timur, para petani        melancarkan protes selama lima hari terhadap perusahaan        Korea produsen monosodium glutamat karena mencemari        tambak udang mereka. Mobil-mobil dan rumah dibakar,        menimbulkan kerusakan 3 juta dolar (15-20 November). Di        Tangerang, pinggiran Jakarta, pengunjuk rasa        menghancurkan pabrik karbon karena mencemari lingkungan        (21 November). Di Irian jaya, penduduk desa bersenjata        batu menyerang Freeport Corporation karena mobil seorang        karyawannya berkebangsaan Belanda menabrak seorang        penduduk desa hingga meninggal. Penduduk setempat juga        marah karena pelanggaran HAM yang sedang disidangkan di        Pengadilan Militer Jayapura (7-10 Maret). Pemanfaatan        kekuasaan oleh pihak keamanan juga merupakan sumber        kekerasan pada masa itu. Di Medan, Smatera Utara,        prajurit Batalion Kavaleri marah karena salah satunya        terbunuh oleh anggota gang melukai 12 orang dan merusak        20 rumah serta 23 mobil (28 Februari). Akhirnya, di        Jayapura, Irian Jaya, kekerasan meledak tatkala pihak        berwajib menolak permintaan ijin penyelenggaraan upacara        mengenang Thomas Wainggai, tahanan politik yang        meninggal di dalam penjara di Jakarta (18 Maret).&lt;a name="_ftnref10" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn10"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;         &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt;Masalah-Masalah Kebijakan Pembangunan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Penindasan terhadap protes buruh        juga menyebabkan dendam membara terhadap pemerintah atau        pemilik pabrik. Pada tahun 1991, tenaga kerja Indonesia        berjumlah 74 juta orang. Upah minimum rata-rata adalah        US$1.145, salah satu yang terendah di Asia Tengara, dan        para buruh dilarang memiliki organisasi buruh selain        yang direstui pemerintah. Pada tahun 1991, Saut        Aritonang dan aktivis HAM  H.J.C. Princen mendirikan        serikat pekerja Setiakawan. Tetapi Saut ditangkap dan        Setiakawan bubar pada 1992. Pada tahun yang sama Muchtar        Pakpahan mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI)        di Medan, Sumatera Utara. Tetapi pemerintah menolak        mengakui SBSI, dan pejabat pemerintah dengan bantuan        militer mengintimidasi dan meneror para pendukung SBSI.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Pada 1994, kasus Marsinah, aktivis pekerja berusia 25        tahun yang disiksa dan dibiarkan meninggal kehabisan        darah setelah dia dan kawan-kawannya menuntut kenaikan        upah, membuat perhatian internasional terpusat pada        penindasan Orde Baru terhadap pekerja. Pada tahun yang        sama, terdapat 31 protes pekerja di Medan karena        dilanggarnya peraturan upah minimum, penembakan terhadap        pemrotes menyusul pemogokan di pabrik karet, serta        kematian misterius salah satu dari mereka. Gelombang        protes ini memuncak pada bulan Aprilk karena tunjangan        Hari Raya yang tidak dibayarkan. Demonstrasi ini berubah        menjadi kerusuhan dan toko-toko yang dimiliki oleh        Tonghoa-Indonesia dijarah, dan salah satu pemilik pabrik        dikeroyok sampai meninggal. Pakpahan dari SBSI        menjelaskan bahwa Tonghoa-Indonesia menjadi target        karena “adalah fakta bahwa orang-orang Cina berkolusi        dengan ABRI untuk melindungi kepentingan mereka. Jika        pekerja menuntut satu juta rupiah, mereka lebih suka        memberi 1,5 juta kepada militer.”&lt;a name="_ftnref11" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn11"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Hasilnya, para pekerja di Medan dibayar upah minimumnya,        dan lembur dihentikan, mengindikasikan bahwa protes        mereka berhasil. Tetapi, tentara berpakian sipil        ditempatkan di pabrik-pabrik, dan Pakpahan didakwa        sebagai pemicu kerusuhan. Dia dihukum 9 tahun penjara;        tetapi karena tekanan internasional dia dibebaskan        setelah menjalani hukuman 9 bulan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Dilatarbelakangi pengadilan terhadap Pakpahan,        menipulasi pemerintah untuk menyingkirkan Megawati        Sukarnoputri dari PDI karena berpotensi sebagai kandidat        oposisi, dan pembredelan empat majalah yang sering        mengkritik pemerintah, sekelompok aktivis mahasiswa        mendirikan Partai Rakyat Demokratik (PRD) pada 1994. PRD        mengambil sikap lebih militan dan konfrontasional dalam        mengorganisasi buruh supaya kekerasan yang dilakukan        pemerinta lebih nampak. Taktik mereka yang lebih agresif        (tetapi non-kekerasan) dengan mengadakan arak-arakan        protes dan demonstrasi dibalas dengan pembubaran semua        organisasi buruh dan serangan terhadap para pengunjuk        rasa oleh pihak keamanan. Lembaga Bantuan Hukum mencatat        lebih dari seratus kasus di mana militer ikut campur        dalam sengketa pekerja pada tahun 1995.&lt;a name="_ftnref12" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn12"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Konflik lebih lanjut merebak pada masa Orde Baru karena        peralihan besar-besaran kendali atas tanah dari pemilik        tanah kecil-kecil kepada pemerintah pusat dan elite yang        punya hubungan dekat dengan rezim. LBH, yang didirikan        oleh Adnan Buyung Nasution pada 1971 untuk melayani        bantuan hukum bagi kaum miskin, mewakili kaum miskin        seperti di Simprug dan Lubang Buaya. Pada kasus Simprug,        penghuni kawasan kumuh dipaksa pindah dari daerah di        Jakarta Sekatan itu karena akan dibangunnya perumahan        mewah di situ. Sedangkan kasus Lubang Buaya adalah kasus        di mana tanah diambil dari kaum miskin untuk proyek        Taman Mini yang dipelopori oleh Ibu Tien. Tetapi,        mengandalkan pengadilan ternyata tidaklah efektif. Kasus        yang paling terkenal dimana LBH terlibat adalah kasus        Waduk Kedungombo. Insiden ini menarik perhatian        internasional karena melibatkan perngambilan tanah dari        pemilik untuk pembangunan waduk dengan biaya World Bank.        Pengacara-pengacara LBH berkerja sama dengan aktivis        mahasiswa, LSM, dan pemimpin agama untuk mempertahankan        hak-hak penduduk yang dipindahkan karena proyek ini.        Pada tahun 1994 Mahkamah Agung menyatakan bahwa penduduk        tersebut harus mendapatkan ganti rugi, tetapi dengan        tekanan pemerintah, hakim yang baru membatalkan        keputusan itu.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Di luar Jawa, kebijakan yang memberikan konsensi atas        hutan bagi perusahaan besar yang bergerak di bidang        perkayuan, pulp dan produsen kertas, perkebunan minyak        sawit, dan industri tambak udang menyebabkan konflik        etnis antara penduduk lokal dan pendatang. Pada masa        Orde Baru, militer bekerja sama dengan perusahaan        Sino-Indonesia dan kroni Suharto seperti Bob Hasan        memperoleh konsensi atas hutan untuk produksi kayu.        Protes penduduk setempat gampang ditumpas dan hanya        mendapat perhatian kecil dari media. Pada pertengahan        1990-an, penyelenggara di tingkat nasional mulai        mengumpulkan pemimpin-pemimpin lokal. Konsorsium        Pembaruan Agraria dibentuk pada 1995, dan Aliansi        Masyarakat Adat Nusantara didirikan pada 1999. Tetapi,        organisasi ini belumlah efektif menekan pemerintah dalam        hal reformasi pertanahan serta hak-hak penduduk asli        tanpa dokumen klaim tehadap hutan.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Kompetisi ekonomi antara penduduk asli dan pendatang        mejadi salah satu sumber konflik. Pemerintah Orde Baru        mendorong migrasi orang Jawa dan Madura Muslim ke daerah        timur Indonesia yang berpenduduk sebagian besar Kristen,        menyebabkan pecahnya kekerasan yang bersifat agama. Pada        tahun 1995 saja beberapa kerusuhan dengan target Muslim        terjadi di Baucau, Timor Timur (Januari), Flores        (April), Flores Timur (Juni), Dili, Timor Timur        (September), dan Atambua, Timor Barat (November). Pada        Januari 1998, serangan terhadap pendatang suku Madura        (Muslim) oleh suku Dayak dan Melayu Muslim di Kalimantan        Barat menunjukkan bahwa persaingan memperebutkan        sumber-sumber dan peluang ekonomi bisa membangkitkan        kerusuhan antar etnis.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Merebaknya kerusuhan dan protes, baik di pedesaan dan di        perkotaan, terhadap pemerintah pada 1997 mendorong media        mempertanyakan sebab-sebab kekacauan sosial itu. Para        pengamat menunjuk melebarnya kesenjangan antara kaya dan        miskin, persaingan antara pendatang dan penduduk lokal,        serta kemarahan kepada pemerintah, polisi dan pengadilan        yang tidak memberikan wadah bagi keadilan.&lt;a name="_ftnref13" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn13"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Dalam sebuah pidato di depan Forum Komunikasi Pemuda        Masjid, Suharto meminta agar rakyat Indonesia tidak        membesar-besarkan di luar proporsi masalah kesenjangan        ekonomi di Indonesia.&lt;a name="_ftnref14" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn14"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;                    &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt;Paramiliter dan Pemuda&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Tradisi milisia sejak masa Revolusi        Indonesia memberikan alas an bagi tentara Indonesia        untuk memobilisasi rakyat ke dalam satuan paramiliter.        Unit semacam ini dibentuk di Kalimantan ketika  terjadi        konfrontasi dengan Malaysia pada tahun 1960-an.        Kelompok-kelompok paramiliter juga direkrut dan dilatih        oleh tentara untuk melawan gerakan separatis di Aceh dan        Timor Timur ada tahun 1990-an. Kelompk-kelompok ini        mengembangkan budaya kekerasan yang mendorong        praktik-praktik tertentu seperti ditunjukkannya kepada        publik mayat anggota pembelot, pemenggalan kepala,        perkosaan, serta serangan misterius di malam hari oleh        apa yang disebut sebagai ninja, serta dilancarkannya        ancaman kepada keluarga korban kekerasan.&lt;a name="_ftnref15" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn15"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Satuan-satuan militer elit yang melatih mereka ini juga        tampaknya melakukan kekerasan dan teror sepanjang        kekuasaan Orde Baru untuk menindas oposisi serta        menangani masalah-msalah sosial.Pembunuhan        eksta-judisial yang dikenal sebagai &lt;i&gt;petrus (penembak        misterius)&lt;/i&gt; pada tahun 1984 adalah salah satu contoh        ini, yang belakangan dijelaskan oleh Suharto dalam        autobiografinya sebagai “shock treatment.”&lt;a name="_ftnref16" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn16"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Budaya teror dan kekerasan yang dikembangkan oleh pihak        keamanan dan kelompok-kelompok paramiliter yang didukung        oleh pemerintah, seperti Pemuda Pancasila, kelompok        pemuda di bawah Golkar,&lt;a name="_ftnref17" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn17"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        telah mengancam konsep kewargaan dan meningkatkan        ketakutan bahwa pembunuhan dan kekacauan 1965 dapat        terjadi lagi.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Peran pihak keamanan dan kelompok paramiliter dalam        memprovokasi kekerasn menjadi sangat kelihatan bagi        rakyat Indonesia pada 27 Juli 1996, ketika kebutralan        paramiliter yang disokong oleh tentara menyingkirkan        mahasiswa-mahasiswa pendukung calon oposisi Megawati        Sukarnoputri. Serangan itu brutal dan berdarah, serta        berlangsung hanya beberapa jam, tetapi membangkitkan        kerusuhan anti pemerintah yang terbesar dan paling penuh        dengan kekerasan di masa Orde baru. Mereka membakar bis        dan mobil, bank dan kantor-kantor pemerintah, serta        membuat barikade di jalanan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Kerusuhan ini menandai titik penting gerakan demokrasi,        karena menunjukkan ketidakpuasan yang meluas tehadap        rezim penguasa. Menanggapi kejadian ini, mantan menteri        Emil Salim mengusulkan penilaian kembali Orde Baru untuk        mengatasi masalah “kelas sosial baru dan aspirasi baru.”&lt;a name="_ftnref18" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn18"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Pernyataan yang sama disuarakan oleh Ignas Kleden, ketua        lembaga riset sswasta bernama Society for Political and        Economic Studies, yang mengatakan kepada wartawan &lt;i&gt;Far        Eastern Economic Review&lt;/i&gt;, “Ini adalah bukti dari        kekakuan sistem politik, dan ketidakmauan kekuasaan        untuk mempertimbangkan perkembangan baru.” Berbicara        kepada wartawan yang sama, Goenawan Mohammad, pimpinan        Komite Independen Pemantau Pemilu dan mantan Pemred        Tempo, mengatakan, “ Kita memasuki wilayah tak dikenal…        Megawati harus lebih terbuka terhadap sebuah strategi        jangka panjang. Kelompoknya harus berubah dari mesin        pemilihan menjadi gerakan yang lebih luas dan dia harus        mengembangkan platform [reformasi] yang bisa diterima        semua pihak.”&lt;a name="_ftnref19" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn19"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Serangan terhadap mahasiswa yang menduduki kantor pusat        PDI serta kampanye menentang PRD setelah itu        menghentikan sementara demonstrasi-demonstrasi menentang        Orde Baru, kerusuhan Juli 1996 meningkatkan taruhan        pemerintahan Suharto pada Pemilu yang dijadwalkan        berlangsung pada Mei 1997. Benturan kekerasan yang        melibatkan pihak keamanan, Pemuda Pancasila, dan        kelompok-kelompok pemuda yang berkaitan dengan partai        politik menjadi biasa terjadi. Di Pekalongan, Jawa        Tengah, protes oleh organisasi pemuda di bawah Partai        Persatuan Pembangunan terhadap penyelenggaraan        pertunjukan musik oleh Golkar mengakibatkan 60 bangunan        (sebagian besar dimiliki oleh Tonghoa-Indonesia) dan        satu bank milik pemerintah dirusak (24-26 Maret). Di        Surabaya, aktivis PDI-P diserang oleh pendukung Soerjadi,        pimpinan faksi PDI yang didukung pemerintah (28 April).        Di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, arak-arakan PPP        diserang oleh Pemuda Pancasila (4 Mei). DI Yogyakarta,        pihak keamanan membubarkan demonstrasi oleh pemuda PPP        yang membawa keranda yang menyimbolkan kematian        demokrasi dan memprotes serangan kepada kantor PPP (5        Mei). Pada 20 Mei tiga betrokan antara pendukung partai        politik dengan pihak keamanan di Jakarta Timur dan        Jakarta Selatan, ketika pendukung PPP di Pekalongan,        Jawa Tengah, menyerang kantor Golkar.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Kekerasan memuncak beberapa saat sebelum Pemilu pada Mei        23 antara pendukung PPP dan Golkar di Banjarmasin,        Kalimantan Selatan, yang mengakibatkan 130 orang tewas        dalam sebuah pusat perbelanjaan yang terbakar. Menurut        sumber-sumber pemerintah, yang tewas adalah para        penjarah. Tetapi Komnasham Indonesia menyelidiki insiden        itu lantaran pendukung PPP menyatakan bahwa kerusuhan        dipicu oleh orang bukan dari partai, serta ABRI telah        menembak tanpa perlu dalam bentrokan itu serta membawa        mayat-mayat itu ke pusat perbelanjaan yang kemudian        dibakar untuk menghilangkan jejak.&lt;a name="_ftnref20" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn20"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Setelah Pemilu, protes terhadap kecurangan Pemilu banyak        dilakukan oleh penukung PPP, pembakaran kotak surat di        Madura pada 29 Mei, arak-arakan protes di Jember, Jawa        TImur, pada 13 Juni, di mana pemrotes melempari pusat        perbelanjaan dan &lt;i&gt;showroom &lt;/i&gt;mobil Timor.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;&lt;i&gt;Penggunaan Paramiliter&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;Seperti Richard Robinson ungkapkan,        “Banyak pengamat melihat bahwa [Malari] adalah terutama        akibat perebutan kekuasaan politik antara Komandan        Kopkamtib, Jenderal Sumitro, dan hirarki yang ada,        didominasi oleh Suharto dan Murtopo, di mana para        mahasiswa itu dimanfaatkan oleh kekuatan politik yang        bersaing itu.”&lt;a name="_ftnref21" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn21"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Bresnan menambahkan bahwa kerusuhan itu dipicu untuk        “mendiskreditkan para mahasiswa radikal dan juga        barangkali Jenderal Sumitro dan para moderat yang lain.”        Lebih jauh lagi, Bresnan menambahkan bahwa mahasiswa        yang ditangkap setelah peristiwa Malari menyatakan bahwa        “dia bertemu dengan seorang pemuda di penjara yang        mengatakan bahwa mereka bekerja untuk Ali Murtopo,        memulai pembakaran, dan dijemput bersama-sama dengan        perusuh yang lain. Seorang perwira intelijen senior yang        dekat dengan Sumitro belakangan mengatakan bahwa itulah        memang kejadian yang sesungguhnya.”&lt;a name="_ftnref22" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn22"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Pada tahun-tehun terakhir masa Orde Baru, tuduhan bahwa        kekerasan dipicu oleh elit sering mencuat ke permukaan,        terutama ketika yang menjadi sasaran kerusuhan adalah        orang Kristen atau Tonghoa-Indonesia yang mulai merebak        di Jawa Timur pada bulan-bulan setelah kerusuhan anti        pemerintah pada Juli 1996. Yang pertama adalah kerusuhan        di Situbondo, Jawa Timur, 10 Oktober. Perusuh Muslim        membakar 25 gereja, lima sekolah Katolik, sebuah rumah        yatim piatu Kristen, dan sebuah gedung pengadilan. Lima        orang meninggal di dalam gereja yang terbakar.        Penyelidikan yang dilakukan oleh Komnasham menyimpulkan        bahwa kerusuhan dipicu oleh provokator tak dikenal.        Pimpinan-pimpinan NU menyatakan bahwa kerusuhan itu        direkayasa untuk memberikan kesan buruk terhadap NU,        serta menimbulkan rasa permusuhan terhadap orang Kristen        pendukung Megawati serta orang Muslim pendukung        Abdurrahman Wahid, yang telah bergabung menentang        pemilihan kembali Suharto. KSAD Jenderal Hartono menolak        pendapat yang menyatakan bahwa provokator bertujuan        untuk mendiskreditkan NU, tetapi setuju bahwa “beberapa        orang telah melakukan koordinasi dengan tujuan untuk        menciptakan ketakstabilan.”&lt;a name="_ftnref23" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn23"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Serangkaian kerusuhan dengan sasaran Tonghoa-Indonesia        di beberapa bagian Jawa menyusul setelah itu—di        Purwakarta, Jawa Barat (31 Oktober-2 November 1997);        Pekalongan, Jawa Tengah (24-26 November); Jakarta (24        Desember); Rengasdengklok Jawa Barat, (1 Februari 1998)—memuncak        di Tasikmalaya, Jawa Barat, pada 26 Desember 1997. Di        Tasikmalaya pemuda-pemuda Muslim membakar 13 gereja dan        tujuh sekolah. Dua belas pos polisi dirusak, dan tiga        dibakar habis. Empat orang meninggal. Kemarahan massa        tampaknya ditujukan baik kepada Tonghoa-Indonesia maupun        pemerintah lokal. Penduduk Tasikmalaya mengatakan bahwa        rasa permusuhan terhadap Tonghoa-Indonesia meningkat        sejak 1995 tatkala sebuah pasar terbakar, dan pemerintah        tidak membangun kembali pasar itu melainkan memberi        tanah bekas pasar itu kepada pengembang Tonghoa-Indonesia        untuk membuat pusat perbelanjaan.&lt;a name="_ftnref24" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn24"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Manipulasi kemarahan massa pada pemerintah dan        ketaksukaan terhadap kemakmuran Tonghoa-Indonesia (yang        dipercayai mendapat manfaat dari koneksinya dengan rezim        yang berkuasa) dapat dilihat dengan jelas pada insiden        di Bandung pada 31 Januari 1997. Awal bulan itu, 10 ribu        pekerja pabrik tekstil menimbulkan kerusuhan serta wakil        perusahaan dilempari batu karena perusahaan-perusahaan        tidak membayar tunjangan hari raya. Pada tanggal 31,        orang-orang tak dikenal menyebarkan selebaran yang        berisi ajakan untuk orang-orang Muslim untuk menyerang        sasaran-sasaran Kristen dan Katolik.&lt;a name="_ftnref25" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn25"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;                   Akhirnya, pada hari-hari terakhir Orde Baru, tatkala        demonstrasi mahasiswa mengancam menurunkan Suharto        setelah penembakan terhadap empat demonstran di kampus        Universitas Trisakti pada 13 Mei 1998, Letjen Prabowo        Subianto, menantu Suharto dan Komandan Kopassus,        tampaknya memanfaatkan taktik ini dengan memicu        kerusuhan agar ada kebutuhan untuk mengembalikan        stabilitas dan keamanan, dan mungkin juga untuk        mendiskreditkan pesaingnya, Jenderal Wiranto.&lt;a name="_ftnref26" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn26"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Meluasnya dukungan dari kaum kelas menengah terhadap        upaya pemerintah saat &lt;i&gt;petrus&lt;/i&gt; menumpas para        kriminal pada 1084 mungkin menimbulkan kepercayaan bahwa        kelas ini akan mendukung upaya pengembalian tatanan dan        keamanan ketika kerusuhan-kerusuhan merebak di seluruh        Indonesia.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;Sumatra Selatan, 1994-2000&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;Sumatra        Selatan jarang muncul dalam pemberitaan media massa        mengenai demonstrasi-demonstrasi mahasiswa melawan Orde        Baru atau kejadian-kejadian kekerasan antar suku dan        agama, meskipun di tahun-tahun akhir Orde Baru telah ada        suatu pola peningkatan konflik dan kejadian-kejadian        yang dapat disebut sebagai kekerasan massa (mob        violence). Jika kita mengkaji kejadian-kejadian tersebut,        tiga jenis kekerasan dapat dibedakan: (1) kekerasan oleh        kelompok-kelompok paramiliter dan aparat keamanan untuk        mengintimidasi dan mengganggu para pemrotes; (2)        protes-protes yang dilakukan oleh orang-orang desa        terhadap perusahaan-perusahaan yang diberi hak-hak        pengusahaan hutan yang berlebihan oleh pemerintah        Suharto; (3) kerusuhan dan penjarahan di daerah-daerah        perkotaan dengan sasaran perusahaan-perusahaan yang        dimiliki oleh anggota-anggota keluarga Suharto dan        kroni-kroninya, atau orang Tionghoa-Indonesia dan        bank-bank. Secara garis besar, insiden-insiden pada        jenis pertama melibatkan serangan-serangan pada        individu-individu, sementara insiden-insiden pada jenis        lainnya melibatkan serangan-serangan terhadap bangunan.        Akan tetapi, seringkali konflik-konflik antara        orang-orang desa melawan perusahaan-perusahaan berubah        menjadi konflik-konflik horisontal antara orang-orang        desa yang protes dengan pekerja-pekerja dari perusahaan        (seringkali anak-anak muda setempat dipekerjakan sebagai        satuan pengamanan) yang mana bentrokan-bentrokan dengan        kekerasan tersebut melibatkan serangan-serangan terhadap        bangunan maupun individu-individu. Pengkajian terhadap        pola kekerasan yang muncul di Sumatra Selatan antara        tahun 1994-2000 memungkinkan kita untuk mengidentifikasi        kapan dan mengapa protes-protes and konflik-konflik        menjadi tindak kekerasan. &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;b&gt;Peta Sumatera Selatan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;        Kebijakan pemberian hak pengusahaan hutan yang        berlebihan ke perusahaan-perusahaan milik negara atau        perusahaan-perusahaan swasta yang dikontrol oleh        keluarga Suharto maupun para elit yang dekat dengan        Suharto, kadang bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan        asing, dilakukan di Sumatra Selatan pada tahun 1989.        Putri Suharto, Siti Hardijanti, dan dua kroni Suharto,        Prajogo Pangestu dan Syamsul Nursalim, merupakan        pihak-pihak yang sangat diuntungkan. Berdasarkan hukum,        pemerintah daerah harus menyatakan sebagai tidak        produktif status dari tanah yang diberikan untuk        pengusahaan hutan. Akan tetapi, banyak orang desa        melaporkan bahwa hak-hak mereka terhadap tanah yang        telah mereka garap bertahun-tahun (dan dalam beberapa        kasus beberapa generasi) tidak diakui lagi karena para        pejabat daerah dibayar atas kerjasama mereka dalam        menyetujui pemberian hak konsensi hutan. &lt;span lang="FI"&gt;       Protes-protes oleh orang-orang desa melawan        perusahaan-perusahaan yang diberikan hak pengusahaan        hutan mulai terjadi sejak awal 1993.&lt;a name="_ftnref27" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn27"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="FI"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="FI"&gt;Pada awalnya orang-orang desa menulis        banyak surat memohon kepada pejabat-pejabat pemerintah        dan manajer-manajer perusahaan untuk mengakui hak-hak        mereka. Sementra, pada umumnya, perusahaan-perusahaan        menggunakan aparat-aparat militer untuk mengintimidasi        orang-orang desa, mengabaikan protes-protes lokal.        Selama periode singkat di tahun 1994 yang terkenal        sebagai era keterbukaan, pemerintah Orde Baru        mengendorkan kekangan-kekangan terhadap media massa, dan        berita-berita mengenai protes-protes tersebut mulai        sampai ke masyarakat luas. Akan tetapi, pada bulan Juli        tahun tersebut pemerintah melarang tiga penerbitan        nasional dan membredelnya. Di Sumatra, para kepala desa        yang terlibat dalam protes-protes diganti, dan        orang-orang diperingatkan bahwa aksi-aksi unjuk rasa        selanjutnya tidak akan ditoleransi lagi. Pada tahun 1997        kebakaran yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan untuk        membersihkan tanah guna perkebunan kelapa sawit dan        produk hutan lainnya menjadi di luar kendali,        menghancurkan pohon-pohon karet yang bagi orang-orang        desa di dataran rendah menjadi tumpuan pendapatan.        Kebakaran tersebut menjadi sangat parah karena adanya        kekeringan akibat badai El Nino. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;       Sebagai&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"&gt; tambahan, kebakaran di        kawasan hutan perkayuan merupakan kebakaran kanopi yang        membakar secara intens dan menyebar secara cepat.        Perhatian internasional terhadap kebakaran tersebut dan        kabut asap yang menyebar ke negara-negara Asia Tenggara        lainnya membuat sengketa pertanahan tersebut menjadi        terbuka dalam tuduhan dan tuduhan balik mengenai siapa        yang harus bertanggungjawab. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;       Dengan jatuhnya Suharto pada tahun 1998, keputusasaan        terhadap kegagalan pemerintah dalam memberikan        penyelesaian sengketa-sengketa pertanahan yang telah        terjadi sekian lama akhirnya meledak. Diseluruh        Indonesia, orang-orang desa mulai merebut lahan-lahan        milik perusahaan-perusahaan, hutan-hutan pemerintah, dan        lapangan-lapangan golf. Orang-orang desa di Sumatra        Selatan mencoba untuk menanam tanam-tanaman di        perkebunan-perkebunan kelapa sawit yang mereka klaim        telah diambil sebelumnya dari mereka. Mereka juga        mencoba untuk memaksa perusahaan-perusahaan untuk        mengembalikan tanah atau membayar kompensasi dengan        menyita aset perusahaan (biasanya kendaraan-kendaraan).        Meskipun pejabat-pejabat pemerintah berjanji untuk        bertindak, tapi tidak ada yang berubah. Pada bulan        Oktober 1999, satu perusahaan yang terlibat dalam        sengketa pertanahan yang telah terjadi sekian lama        setuju untuk mengembalikan tanah ke orang-orang desa,        mungkin disebabkan oleh ancaman-ancaman orang-orang desa        yang telah menyita kendaraan-kendaraan perusahaan dan        membakar kayu-kayu tebangan dan perubahan situasi        politik. Akan tetapi, ternyata pimpinan perusahaan        kemudian menunda pertemuan dengan warga dan mencabut        janji-janji yang telah dibuat sebelumnya.&lt;a name="_ftnref28" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn28"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Pada bulan Februari 2000, beberapa ratus        perwakilan organisasi-organisasi petani dari Sumatra        Utara dan Sumatra Selatan pergi ke Jakarta untuk        mendesak supaya Menteri Kehutanan mengambil tindakan        terhadap tuntutan-tuntutan mereka. Mereka dijanjikan        bahwa dalam waktu satu bulan kasus-kasus mereka akan        diselesaikan. Akhirnya, pada bulan April 2000,        Sekretaris Jenderal Departemen Kehutanan Suripto        mengumumkan bahwa 12.500 hektar tanah sengketa akan        dikembalikan kepada orang-orang di sejumlah wilayah di        Sumatra Selatan, yang berarti menyelesaikan satu kasus        dimana para pemrotes terorganisir dengan rapi.        Dijelaskan oleh Suripto, “Sampai saat ini,        perusahaan-perusahaan telah difasilitasi dalam        mendapatkan tanah, sekarang saatnya untuk memberi        kompensasi.”&lt;a name="_ftnref29" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn29"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Meski keputusan ini mengesahkan keadilan yang dituntut        oleh orang-orang desa, perjuangan panjang menuju        penyelesaian konflik sepertinya membuktikan bahwa suatu        tindak kekerasan dan ancaman-ancaman kekerasan terhadap        aset perusahaan merupakan suatu taktik yang efektif        karena pejabat-pejabat pemerintah menjadi terlibat.        Perusahaan-perusahaan kemudian dapat dipaksa untuk        melakukan perundingan dengan para pemrotes.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Kekerasan massa pada kasus-kasus        tersebut melibatkan serangan-serangan ke harta milik.        Kalau kendaraan-kendaraan perusahaan dan harta milik        lainnya disita oleh rakyat untuk memaksa perusahaan        terlibat dalam suatu negoisasi, harta milik selanjutnya        dikembalikan setelah ada penyelesaian. Dalam beberapa        kasus, pemimpin-pemimpin perusahaan juga diancam dan        dijadikan sandera selama beberapa jam, tetapi hanya        dalam satu kasus (yang saya tahu pasti) perwakilan        perusahaan diserang secara fisik. Ini terjadi di        perbatasan Lampung di area tambak udang Dipasena. Pada        bulan Maret 2000, Nursalim, direktur utama Gajah Tunggal        Group (yang tambak-tambak udangnya terentang hingga        Sumatra Selatan), diserang oleh para petani udang yang        marah, yang juga menewaskan dua pengawalnya. Nursalim        terpaksa diselamatkan dengan helikopter.&lt;a name="_ftnref30" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn30"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Dalam konflik-konflik tersebut, aparat        keamanan yang dipekerjakan oleh perusahaan-perusahaan        menggunakan kekerasan untuk mengintimidasi dan        mengganggu para pemrotes. Untuk tahun 1999-2000, LBH        Palembang mencatat sepuluh insiden yang ditengarai        melibatkan kesatuan-kesatuan polisi dan tentara dalam        konflik-konflik antara orang-orang desa dengan        perusahaan-perusahaan. Tidak jarang, koran-koran daerah        melaporkan (tanpa komentar) bahwa seorang warga desa        telah terbunuh. Pada bulan April 2001, seorang aktivis        dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia dipukuli secara        kasar oleh polisi ketika dia mencoba untuk mengambil        foto kekerasan yang dilakukan oleh polisi ketika        melakukan operasi pembersihan (sweeping operation).&lt;a name="_ftnref31" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn31"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Pada bulan Agustus 2001, Gubernur        Sumatera Selatan melaporkan bahwa 135 kasus sengketa        tanah menjadi perhatian di kantornya. LBH Palembang        mencatat hampir 200 kasus. Kemajuan dalam menyelesaikan        kasus-kasus tersebut sangat pelan sekali karena tiadanya        kerangka kerja hukum untuk membuat keputusan dan        Gubernur hanya memiliki sedikit pengaruh terhadap        perusahaan-perusahaan besar yang dekat dengan elit-elit        politik. Beberapa aktivis beralasan bahwa kekerasan        diperlukan untuk memaksa pemerintah dan        perusahaan-perusahaan merespon tuntutan-tuntutan tanah        orang-orang desa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Insiden lain yang dapat disebut sebagai        kekerasan massa di Sumatra Selatan melibatkan perusakan        terhadap harta milik dan penjarahan dalam kontek        demonstrasi yang dipimpin mahasiswa terhadap pemerintah.        Demonstrasi yang dipimpin mahasiswa pertama kali di        Sumatra Selatan yang terjadi pada tahun 1994 sebagai        reaksi terhadap peningkatan biaya pendidikan di        Universitas Sriwijaya, terjadi tanpa kekerasan. Banyak        dosen secara diam-diam mendukung demonstrasi-demonstrasi        tersebut karena mereka percaya bahwa peningkatan biaya        pendidikan lebih disebabkan oleh tindak korupsi dalam        tender-tender pembangunan kampus baru yang didanai Bank        Dunia. Pada waktu itu, saya melihat bahwa rektor        universitas menghalangi militer untuk merespon        protes-protes dengan upaya-upaya untuk membubarkan atau        menangkap mahasiswa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Akan tetapi, pada masa sesudah        terjadinya krisis ekonomi Asia pada tahun 1997,        protes-protes yang diorganisir mahasiswa terhadap        kesulitan ekonomi yang terjadi berubah menjadi        kerusuhan-kerusuhan. Salah satu insiden tersebut terjadi        pada tanggal 14 Februari 1998, di pasar kota Pagaralam        in dataran tinggi Sumatra Selatan. Diilhami oleh para        mahasiswa pro-demokrasi yang pulang kampung selama hari        libur keagamaan Islam, satu kelompok pelajar SMA        merencanakan aksi unjuk rasa menentang mahalnya        harga-harga kebutuhan pokok. Mereka meminta ijin untuk        unjuk rasa ke walikota, tetapi ditolak. Mahasiswa dan        pelajar memutuskan untuk tetap melanjutkan rencananya.        Unjuk rasa simbolik mereka di pasar akhirnya berubah        menjadi suatu kerusuhan dimana banyak toko-toko yang        dimiliki oleh warga keturunan dirusak massa. Para saksi        mata yang sempat saya wawancarai pada bulan Oktober 1998        menuduh para anak muda (pendatang dari Lampung), yang        biasanya berkumpul di sekitar pasar Pagaralam untuk        mencari kerja sebagai pelakunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Salah satu faktor yang memicu terjadinya        aksi kekerasan ini mungkin sekali adalah        pernyataan-pernyataan Letjen Prabowo Subianto dan        pemimpin-pemimpin kelompok Islam militan Komite        Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) yang        disiarkan pada televisi dan di laporan-laporan surat        kabar beberapa saat sebelum terjadinya kerusuhan. Pada        tablig akbar 8 Februari 1998 yang diorganisir oleh KISDI        di Masjid Al-Azhar, Jakarta, KH Abdul Qadir Djaelani        mendesak pemerintah untuk menyita kekayaan para        konglomerat non-pribumi (yang berarti adalah etnis        Tionghoa) yang telah dialihkan ke luar negeri. Ahmad        Sumorgono, pemimpin KISDI, mendakwa CSIS, suatu lembaga        pengkajian era Orde Baru yang dipimpin oleh Jusuf        Wanandi, seorang saudara dari pengusaha Indonesia-Tionghoa        terkenal, dengan tuduhan telah melakukan rekayasa        politik yang merugikan umat Islam. Ketua gerakan pemuda        KISDI juga menyuarakan perlunya pembentukan suatu pos        komando yang akan bersatu untuk menghadapi para        pengkhianat bangsa seperti Sofjan Wanandi (saudara dari        Jusuf Wanandi) atau siapapun yang berdiri dibelakangnya        dan mengakhiri pidatonya dengan menyerukan, “Hidup Mulia        atau Mati Syahid! Allahu Akbar!”&lt;a name="_ftnref32" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn32"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Serangan-serangan yang paling parah        terhadap tempat-tempat usaha warga Indonesia-Tionghoa        terjadi pada peristiwa kerusuhan dan penjarahan selama        tiga hari di Palembang, ibukota Sumatra Selatan.        Kerusuhan-kerusuhan tersebut terjadi pada tanggal 14 Mei,        ketika kerusuhan-kerusuhan juga meletus di Jakarta dan        Solo setelah terjadinya penembakan empat mahasiswa di        Universitas Trisakti. Kerusuhan-kerusuhan di Jakarta        diperkirakan menewaskan lebih dari 800 jiwa, kebanyakan        dari mereka adalah para penjarah (orang-orang Jawa) yang        terperangkap di gedung-gedung tinggi pusat perbelanjaan        yang telah dibakar. Meski kerusakan bangunan sangat        parah di Palembang, tetapi tidak ada serangan-serangan        terhadap orang atau menimbulkan kematian. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Bahkan sebelum bukti muncul yang        menghubungkan elemen-elemen di militer Indonesia dengan        kerusuhan di Jakarta, orang-orang di Sumatra Selatan        berkeyakinan bahwa kerusuhan di Palembang dipicu oleh        adanya pihak-pihak yang tidak dikenal. Menurut wartawan        lokal, orang-orang luar tidak dikenal yang mirip        anggota-anggota aparat keamanan (baik militer maupun        paramiliter) kelihatan meloncat turun dari sejumlah truk        di pagi hari. Mereka kemudian memulai melempar batu-batu        ke ruang pamer mobil dan membakar ban-ban untuk menarik        kerumunan. Wartawan-wartawan menyatakan pula bahwa        mereka juga mendengar banyak rumor yang menjanjikan        bahwa seorang pun tidak akan ada yang ditangkap untuk        penjarahan.&lt;a name="_ftnref33" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn33"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Seperti kekerasan massa pada kasus-kasus        sengketa tanah, kerusuhan-kerusuhan anti warga        Indonesia-Tionghoa di Sumatra Selatan lebih berupa        serangan-serangan ke bangunan dan harta benda daripada        ke orang-orang. Para perusuh Palembang juga menyerang        tempat-tempat usaha yang berkaitan dengan keluarga        Suharto, termasuk diantaranya ruang pamer mobil Timor        (yang diproduksi oleh perusahaan yang sebagian dimiliki        Tommy Suharto). Kerusuhan-kerusuhan tersebut dapat        dikatakan secara politik dipicu oleh kecaman-kecaman        para tokoh-tokoh politik terhadap pada warga Indonesia-Tionghoa        yang menyalahkan mereka atas terjadinya krisis ekonomi,        yang kemudian dipakai untuk membenarkan penjarahan        terhadap toko-toko dan tempat-tempat usaha yang dimiliki        oleh warga non-pribumi Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Kerusuhan Pagaralam pada bulan Februari        dan kerusuhan Palembang pada bulan Mei membuat        orang-orang di Sumatra Selatan tergoncang dengan        cepatnya ambruknya tatanan hukum dan ketertiban.        Kerusuhan-kerusuhan tersebut juga memunculkan ketakutan        akan kekacauan diantara kelas menengah perkotaan, yang        cenderung melihat protes-protes terhadap        perusahaan-perusahaan yang melibatkan tindakan perusakan        terhadap harta milik sebagai bukti ancaman terhadap        keselamatan mereka. Kelas menengah percaya bahwa        seharusnya pemerintah melindungi harta milik perusahaan        supaya para investor merasa aman dan ekonomi Indonesia        dapat kembali tumbuh lagi. Protes-protes yang berlanjut        sejak jatuhnya Suharto pada umumnya ditanggapi dengan        sinisme. Pada tahun 2001 sering terdengar        komentar-komentar mengenai akibat buruk dari orang-orang        yang melakukan demonstrasi yang hanya untuk mendapatkan        apa yang mereka inginkan. Ini tentunya tidak terlalu        sulit bagi elit-elit politik yang bersaing mendapatkan        kekuasaan dibawah peraturan perundangan baru mengenai        otonomi daerah untuk memanfaatkan kecemasan kelas        menengah, dengan mempromosikan kembalinya ketertiban dan        stabilitas dan menangkapi para pemrotes untuk membawa        kembali investasi luar negeri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sosiologi Kekerasan Massa, 1965-1966&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Pembunuhan massal setengah juta jiwa        atau lebih terhadap kaum komunis maupun yang dituduh        simpatisan yang ditabukan dalam diskusi-diskusi umum        selama ini telah membuat masyarakat Indonesia dihantui        kembalinya mereka yang ditindas. Sesudah jatuhnya        Suharto, kelompok-kelompok yang mengusulkan pembongkaran        bukti-bukti pembunuhan massal diancam dengan kekerasan.&lt;a name="_ftnref34" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn34"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Bahkan media massa yang telah menikmati adanya kebebasan        pers yang mulai muncul sejak bulan Mei 1998 juga takut        untuk mengangkat masalah ini. Ketakutan bisu bahwa        kekacauan dan pembunuhan seperti pada masa sesudah        kudeta 1965 dapat terjadi lagi mungkin merupakan alasan        paling kuat yang mendukung pandangan bahwa Indonesia        merupakan budaya yang penuh kekerasan (&lt;i&gt;a violent        culture&lt;/i&gt;). Akan tetapi, apa yang terkenal sebagai        pembunuhan tahun 1965-1966 menunjukkan adanya peran        penting yang dilakukan oleh militer Indonesia dalam        mengijinkan dan mendukung pembunuhan terhadap kaum        komunis. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Memang masih belum jelas siapa yang        berada dibelakang percobaan kudeta yang dilakukan Untung        pada tanggal 30 September 1965. Pemerintah Orde Baru dan        militer Indonesia bersikukuh bahwa kudeta tersebut        direncanakan dan dilakukan oleh PKI, meski Benedict R.        Anderson dan Ruth McVey misalnya, berpendapat bahwa        kudeta tersebut lebih merupakan karena adanya perpecahan        dikalangan Angkatan Darat.&lt;a name="_ftnref35" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn35"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Seberapa parah pembunuhan yang terjadi dan pada        masa-masa sesudahnya juga masih belum jelas, meskipun        perkiraan bahwa sekitar 500.000 jiwa terbunuh diyakini        yang paling masuk akal. Kajian-kajian yang dilakukan        tentang pembunuhan massal tersebut—terobosannya Robert        Cribb yang mengedit studi mengenai kekerasan tersebut,        penelitian Robert Hefner tentang kekerasan di wilayah        Jawa Timur, kajian Geoffrey Robinson mengenai Bali dan        disertasi yang tidak diterbitkan yang ditulis oleh Iwan        Sudjatmiko dan Hermawan Sulistyo&lt;a name="_ftnref36" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn36"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;--pada        umumnya menyimpulkan bahwa ditempat-tempat dimana        terjadinya kematian yang sangat banyak (Jawa Timur, Bali        dan Sumatra Utara), pembunuhan tersebut didorong atau        diorganisir dan didukung oleh militer Indonesia.        Sebagaimana Cribb berpendapat, “Dalam banyak kasus,        pembunuhan-pembunuhan tidak terjadi sebelum unit-unit        khusus militer tiba di suatu daerah dan menjatuhkan        hukuman kekerasan dengan perintah atau contoh.”&lt;a name="_ftnref37" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn37"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Berpendapat serupa, Hefner berkesimpulan bahwa, “Pada        akhirnya, kekerasan di dataran tinggi Pasuruan dalam        pemahaman yang sederhana sekalipun bukanlah semata-mata        hasil/produk dari pembelahan sosial kelas lokal atau        keagamaan. Itu semua diatur oleh aparat-aparat negara        dan termasuk di dalamnya adalah wakil-wakil dari        berbagai macam lembaga swadaya masyarakat, khususnya        Nahdlatul Ulama.”&lt;a name="_ftnref38" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn38"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Dan sebagaimana Robinson juga mengamati, ”Secara kasat        mata semua bukti-bukti mengindikasikan bahwa aparat        militer, baik yang lokal maupun yang berbasis di Jawa,        bersama-sama dengan aparat-aparat partai politik,        merekayasa dan memulai kekerasan di Bali, sebagaimana        mereka lakukan di Jawa.”&lt;a name="_ftnref39" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn39"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Menurut banyak sumber, kelompok-kelompok        paramiliter pemuda juga didorong untuk melakukan        pembunuhan terhadap sejumlah orang dan diberi dukungan        moral dan logistik oleh Angkatan Darat, terutama dari        RPKAD (yang kemudian menjadi Kopassus). Di Jawa Timur,        Gerakan Pemuda Ansor yang berafiliasi ke NU merupakan        tulang punggung utama Angkatan Darat, sementara di Medan        adalah Pemuda Pancasila dan di Bali adalah Gerakan        Pemuda Anshor dan kelompok-kelompok pengamanan        masyarakat anti-PKI yang didukung oleh Partai Nasional        Indonesia.&lt;a name="_ftnref40" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn40"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Ada pula kesejajaran (paralelitas) yang        mengejutkan dan mengkuatirkan antara masalah-masalah        ekonomi dan politik yang dihapadi Indonesia pada tahun        1965 dan kondisi saat ini. Damien Kingsbury menjelaskan        buruknya situasi ekonomi yang dihapadi Indonesia pada        tahun 1965:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.5in; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;“Pemerintahan dibawah Sukarno nyaris        kehilangan kendali atas ekonomi...laju inflasi secara        umum mencapai 500%, dan harga beras yang berada dalam        persediaan yang menipis naik sekitar 900%. Defisit        anggaran naik menjadi 300% dari pendapatan pemerintah,        dan jika pembayaran kembali hutang-hutang luar negeri        untuk tahun 1966 dilakukan sesuai jadual, maka hal itu        senilai dengan hampir keseluruhan pendapatan dari ekspor.”&lt;a name="_ftnref41" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn41"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Indonesia hari ini berada diambang        kebangkrutan karena adanya krisis ekonomi tahun 1997.        Karena para penanam modal domestik banyak memindahkan        kekayaannya ke luar negeri, mata uang yang melemah dan        menurunnya sumber-sumber pendapatan telah mengakibatkan        kekurangan (defisit) keuangan lebih dari $3.5 milyar        untuk tahun anggaran yang mulai 1 April 2001.&lt;a name="_ftnref42" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn42"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Krisis ekonomi juga telah memaksa 40% penduduk Indonesia        hidup dibawah garis kemiskinan. Banyak perusahaan        terpaksa melakukan pengecilan dan merestrukturasi        pekerjanya, yang berakibat pada banyaknya kehilangan        pekerjaan. Pada tahun 1998, upah minimum, yang sudah        rendah menurut standar Asia, hanya ditingkatkan 15%,        dibandingkan laju inflasi yang mencapai 78%.&lt;a name="_ftnref43" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn43"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Dan ironisnya ditengah-tengah situasi yang mengenaskan        tersebut, menurut Konsorsium Kemiskinan Kota (UPC),        anggaran untuk pemeliharaan rumah tangga gubernur dan        wakil gubernur dan hiburan (kesejahteraan) bagi anggota        dewan perwakilan rakyat daerah di Jakarta mencapai 10        juta dollar (90 milyar rupiah), sementara kurang dari        150.000 dollar (1.4 milyar rupiah) dianggarkan untuk        anak-anak jalanan di Jakarta. Anggaran hiburan (kesejahteraan)        yang resmi tersebut adalah lima kali lipat dari anggaran        untuk menaikkan kualitas gizi para kaum miskin di        perkotaan.&lt;a name="_ftnref44" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn44"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Hal yang seiring dengan masalah-masalah        tersebut adalah adanya paralelitas antara kondisi sosial        yang memotivasi orang-orang untuk berpartisipasi dalam        pembunuhan pada masa sesudah terjadinya kudeta dan        kondisi-kondisi sosial saat ini. Pada tahun 1962 Herbert        Feith mencatat bahwa kondisi-kondisi yang mendorong ke        pemerintahan yang otoriter diciptakan oleh “pemerintahan        yang lumpuh, yang terpukul oleh ledakan-ledakan        kekacauan politik.”&lt;a name="_ftnref45" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn45"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Sebagaimana pula Robert Hefner kemudian mengungkapkan        bahwa, “Pada (tahun 1945 dan 1965) faksionalisme (perpecahan)        di kalangan petinggi negara membuat para lawan politik        untuk membuat lebih buruk antagonisme (pertentangan)        etnis-keagamaan di masyarakat, dan menciptakan        aliansi-aliansi yang terkotak-kotak yang mengeksploitasi        ketegangan komunal demi tujuan-tujuan sempit mereka.”&lt;a name="_ftnref46" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn46"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Perpecahan dan instabilitas politik tersebut telah        membawa masyarakat ke penguatan identitas kolektif, yang        dimobilisir pada waktu pembunuhan terjadi.&lt;a name="_ftnref47" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn47"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Pembunuhan terhadap orang-orang Kristen di Nusa Tenggara,        para transmigran Jawa di Lampung, dan warga Indonesia-Tionghoa        yang telah lama tinggal di Kalimantan pada masa        pembunuhan massal tahun 1965-1966 adalah konsekuensi        dari masalah tersebut, dengan dibenarkan oleh        tuduhan-tuduhan bahwa mereka adalah kaum komunis.        Gaung-gaung dari faktor-faktor tersebut mungkin dapat        dilihat pada waktu ini, sebagaimana telah ditelaah        sebelumnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Sengketa atas tanah juga menjadi sebab        dari kekerasan sebagaimana terjadi saat ini. Cribb,        Hefner, Robinson, Sudjatmiko, dan Sulistyo setuju bahwa        undang-undang reformasi pertanahan (land reform) tahun        1960 yang disahkan sesudah terjadinya nasionalisasi        perusahaan-perusahaan asing, dan juga keputusan PKI pada        bulan Desember 1963 untuk menyokong kampanye aksi        sepihak penguasaan tanah, telah memperdalam dan        meradikalkan perpecahan-perpecahan di        masyarakat-masyarakat lokal, yang kemudian memfasilitasi        perekrutan kelompok-kelompok lokal untuk melaksanakan        serangan-serangan terhadap kaum komunis.&lt;a name="_ftnref48" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn48"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Sebagaiman Rex Morthimer kemudian mencatat:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.5in; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;“Hubungan-hubungan antara pola-pola awal        aksi pertentangan dan pembunuhan massal adalah, ditengah        langkanya kajian-kajian intensif ditingkat desa, sangat        meyakinkan. Terus menerus, dalam laporan-laporan        mengenai daerah dimana pembunuhan-pembunuhan terjadi        secara dahsyat, kita menemukan tempat-tempat dimana        kekuatan Komunis dan anti-Komunis selama periode aksi        hampir seimbang dan ketegangan-ketegangan yang terjadi        oleh adanya kampanye reformasi pertanahan paling tinggi.”&lt;a name="_ftnref49" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn49"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Demikian pula sistem hukum, tidak        memberikan pengawasan terhadap penyalahgunaan kekuasaan        oleh para elit atau rejim yang memerintah pada tahun        1965 atau pada masa-masa sekarang ini. Sukarno berupaya        untuk mengurangi independensi sistem hukum dengan        “memulai serangan secara sepihak dan sekuat tenaga        terhadap lembaga peradilan. Dia secara sistematis        mengucilkan semua hakim dan pengacara yang bagus, dan        mengangkangi pengadilan dengan aturan-aturannya...Dia        merencanakan menyingkirkan pengacara-pengacara di        pengadilan dan menggantinya dengan perwira-perwira        militer yang tidak memiliki pendidikan sampai tingkat        universitas.”&lt;a name="_ftnref50" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn50"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Tanpa adanya lembaga peradilan yang efektif dan tidak        memihak, orang-orang mengambil alih keadilan ke        tangannya. Pada tahun 1963-65, baik pihak PKI maupun        para pemilik tanah memilih kekerasan untuk memantapkan        klaim-klaim mereka atas tanah. Suharto sama halnya juga        menyerang independensi lembaga peradilan; dan sebagai        konsekuensinya, ketidakpercayaan masyarakat terhadap        pengadilan dan polisi sangat tampak saat ini, dan banyak        orang kembali memilih kekerasan untuk memaksa aparat        pemerintah untuk terlibat dalam sengketa-sengketa tanah        maupun upah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Semenjak konfrontasi-konfrontasi dengan        kekerasan mengenai tanah dan protes-protes terhadap        rejim yang berkuasa menjadi hal yang umum pada awal        1960-an, masyarakat menjadi terbelah secara tajam        menurut garis-garis ideologi antara kiri Komunis dan        pemilik tanah dengan militer di kanan. Elit-elit        nasional menanggapinya dengan menjadi “pendukung aktif        gerakan-gerakan menuju ke bentuk pemerintahan yang lebih        menindas dan membatasi, dengan keyakinan bahwa bentuk        pemerintahan seperti itu merupakan satu-satunya        perangkat yang memungkinkan untuk mengatasi        perpecahan-perpecahan tajam yang baru saja terjadi di        antara masyarakat politik.”&lt;a name="_ftnref51" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn51"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Hal yang secara khusus penting untuk        memberikan suatu latar pemahaman bagi pembunuhan massal        pada tahun 1965-66 adalah adanya polarisasi (pengkutuban)        antara Angkatan Bersenjata Indonesia dengan PKI yang        menghilangkan adanya kemungkinan jalan tengah untuk        negoisasi dan kompromi. Robinson mencatat bahwa sesudah        terjadinya kudeta, “suatu kampanye telah dilancarkan        oleh Kopkamtib (Komando Pemulihan Keamanan dan        Ketertiban, suatu lembaga yang dibentuk oleh Suharto        pada tahun 1965) yang ditujukan untuk membuat orang        biasa menjadi tidak mungkin untuk netral secara politik—suatu        teknik perang urat syaraf yang kemudian diterapkan oleh        angkatan bersenjata Indonesia di Aceh dan Timor Timur.”&lt;a name="_ftnref52" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn52"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Hefner selanjutnya menunjukkan adanya penggunaan        kelompok-kelompok paramiliter yang direkrut oleh militer        untuk merancang serangan-serangan terhadap        kelompok-kelompok yang dibidik pada tahun 1965-66. “Satu        elemen penting dari persenjataan militer untuk kekerasan        adalah kelompok-kelompok ronda sipil, beberapa diantara        direkrut dari sejumlah bandit-bandit perkotaan (&lt;i&gt;urban        gangsters&lt;/i&gt;) yang jumlahnya makin meningkat di        Indonesia.”&lt;a name="_ftnref53" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn53"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;       &lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Refleksi-refleksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt; Hari ini, sebagaimana pada tahun 1965,        faktor-faktor ekonomi—meliputi naiknya harga-harga        kebutuhan pokok dan sangat tingginya angka pengangguran—telah        mengancam kehidupan kaum miskin dan keamanan ekonomi        dari kelas menengah. Lebih jauh lagi, hanya tiga tahun        semenjak jatuhnya Suharto, mulai meluas perasaan sinis        mengenai prospek reformasi politik dan hukum yang akan        membawa ke tatanan pemerintahan yang lebih demokratis,        pertanggungjawaban ekonomi, dan pembagian kemakmuran        yang lebih adil. Para pemimpin politik telah menunjukkan        ketidakbecusan dalam mengatasi persoalan-persoalan        ekonomi yang dihadapi Indonesia dan konflik-konflik        tidak dapat diselesaikan melalui pengadilan-pengadilan        karena adanya warisan dari rezim Orde Baru yaitu        pengebirian lembaga-lembaga hukum. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Mobilisasi massa oleh partai-partai        politik dalam rangka persiapan untuk Pemilu tahun 2004        dan munculnya serikat-serikat buruh yang independen        dapat menciptakan tahapan untuk terjadinya        konflik-konflik yang terpolarisasi sepanjang garis-garis        ideologis. Sebagaimana Hadiz mengamati,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.5in; text-indent: 0.5in; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;“(suatu) proses transisi politik yang        bergolak pasti hampir selalu melibatkan upaya-upaya dari        elit-elit yang bertikai untuk memobilisasi bagian-bagian        tertentu dari masyarakat, termasuk diantaranya para        pekerja, yang saat ini dikecualikan secara resmi dari        kehidupan politik. Dibawah situasi seperti itu,        tampaknya akan sangat mungkin...bagi partai-partai        politik dan organisasi-organisasi lain, yang mewakili        bagian-bagian tertentu dari elit politik, untuk mencoba        memperkokoh posisi mereka di dalam konfigurasi politik        pasca-Suharto dengan mencari dukungan dari kelas pekerja.”&lt;a name="_ftnref54" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn54"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Pada awalnya, pemerintahan transisi B.        J. Habibie telah mencoba untuk merespon protes-protes        dari para pekerja. Sebagai contoh, pada bulan Februari        1999, ketika 20.000 pekerja dari empat perusahaan        elektronik terkemuka melakukan unjuk rasa menuntut        peningkatan upah dan uang makan serta tranportasi harian,        pemerintah mengorganisir negoisasi-negoisasi antara para        pemogok kerja dengan manajemen pabrik, yang menghasilkan        peningkatan uang makan dan transportasi. Akan tetapi,        sejak bulan-bulan awal tahun 1999, pemerintah telah        berulangkali maju mundur antara mengedepankan daya        tanggap (&lt;i&gt;responsiveness&lt;/i&gt;) dan represi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Sengketa atas tanah muncul di mana-mana,        khususnya di pulau-pulau luar Jawa di mana hal ini        dianggap sebagai suatu bentuk ancaman terhadap investasi        luar negeri yang kebanyakan orang Indonesia menerimanya        sebagai suatu kebutuhan untuk memulihkan dari krisis        ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997. Sebagai misal,        suatu artikel di koran yang melaporkan        negoisasi-negoisasi antara perusahaan batu bara Kaltim        Prima Coal dengan orang-orang desa di Kalimantan Timur        mencatat bahwa, “sengketa tanah pada akhir-akhir ini        telah menjadi masalah utama di propinsi-propinsi dan        kabupaten-kabupaten di luar Jakarta setelah adanya suatu        tatanan baru yang demokratis di negara kita. Ini telah        menciptakan keresahan bagi kalangan penanam modal.”&lt;a name="_ftnref55" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn55"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Bahkan jika pemerintah pusat mampu membuat suatu        strategi ekonomi yang jelas dan kebijakan yang konsisten        mengenai pertanahan, penerapannya akan menjadi rumit        dengan adanya peraturan perundangan baru mengenai        otonomi daerah. Konflik-konflik pertanahan tampaknya        akan terus berlanjut dan membuahkan serangan-serangan        terhadap harta milik perusahaan. Tanpa adanya        lembaga-lembaga politik dan hukum yang efektif untuk        menindaklanjuti keluhan-keluhan atau penyelesaian dari        konflik-konflik tersebut, elit-elit daerah tampaknya        akan memilih penggunaan aparat keamanan untuk menjaga        ketertiban dan hukum, mencerminkan warisan kedua dari        Orde Baru: membiasakan kekerasan yang dilakukan oleh        negara terhadap para pengunjuk-rasa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Ketegangan-ketegangan etnis dan        keagamaan yang muncul dari persaingan ekonomi antara        penduduk lokal dengan para pendatang/transmigran juga        tampaknya akan membawa pada pecahnya kekerasan. Dalam        kejadian baru-baru ini seperti yang dilaporkan oleh        radio BBC pada bulan Maret 2001, para penduduk lokal di        Riau telah membakar hancur perumahan pada transmigran.&lt;a name="_ftnref56" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn56"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[54]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Kerusuhan di Maluku di wilayah timur Indonesia, Poso di        Sulawesi, dan Sampit di Kalimantan merupakan        contoh-contoh yang mencolok dimana konflik-konflik        ‘etnis’ dan ‘keagamaan’ antara para penduduk lokal        dengan kaum pendatang dapat menjadi berurat-akar secara        dalam. Konflik-konflik seperti itu juga dapat menjadi        hal yang menguntungkan bagi militer karena membuka        kebutuhan akan perlindungan keamanan bagi masyarakat        oleh aparat keamanan dan memberikan banyak peluang untuk        melakukan eksploitasi ekonomi terhadap para pengungsi.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Namun ada pula perbedaan-perbedaan yang        berarti antara periode awal 1960-an dan pasca-Suharto.        Pertama, saat ini tidak ada organisasi nasional yang        sebanding dengan PKI yang mampu mengorganisir        protes-protes lokal menjadi suatu kampanye massal. Kedua,        berakhirnya era Perang Dingin juga berarti bahwa        pemerintah-pemerintah asing akan kurang tertarik untuk        mendukung suatu aksi yang dilakukan oleh elit-elit        pemerintahan maupun militer untuk melawan kaum ‘kiri.’        Ketiga, suatu kudeta militer tampaknya mustahil terjadi        pada jangka waktu dekat ini karena militer Indonesia        telah sangat tercoreng karena pelanggaran hak-hak asasi        manusia pada waktu dulu dan saat ini. Dan keempat,        masyarakat sipil internasional, sebagaimana        termanifestasi dalam organisasi Amnesty International        dan Human Rights Watch, telah berdiri lebih dari 40        tahun. Organisasi-organisasi ini secara bertahap menjadi        efektif untuk menekan pemerintah-pemerintah Barat untuk        memprotes pelanggaran hak-hak asasi manusia dan        kekerasan negara yang dilakukan secara sistematis.        Faktor-faktor tersebut membuat kecil kemungkinan        pembunuhan massal tahun 1965-66 dapat diulangi lagi.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Di Indonesia ancaman terbesar adanya        kekerasan muncul dari keberadaan kelompok-kelompok        paramiliter pemuda yang terhubung dengan militer,        partai-partai politik, dan organisasi-organisasi Islam.        Salah satu skenario yang mungkin terjadi pada masa        datang di Indonesia diyakini akan seperti        kejadian-kejadian di Thailand pada tahun 1976 dimana        kelompok-kelompok paramiliter seperti &lt;i&gt;The Red Gaur&lt;/i&gt;        dan pandu-pandu desa bergabung dalam satu kekuatan        dengan aparat kepolisian yang korup dan elit-elit        politik sayap kanan untuk menghancurkan para mahasiswa        ‘kiri’ dan demokrasi yang baru saja lahir dengan        mengatasnamakan nasionalisme.&lt;a name="_ftnref57" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn57"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Dengan mengacu pada kasus Indonesia, sebagaimana        argumentasi saya diatas, kelompok-kelompok pemuda telah        ditulari dengan budaya kekerasan yang dikembangkan oleh        kelompok-kelompok paramiliter yang terkait dengan        militer Indonesia. Sebagai contoh, PDI-P, partai        berkuasanya Presiden Megawati Sukarnoputri, yang        memiliki tiga afiliasi kelompok paramiliter pemuda,        telah memilih Eurico Guterres—yang dituduh terlibat        dalam pelanggaran berat hak-hak asasi manusia sebagai        salah satu pemimpin dari unit paramiliter yang paling        brutal yang beraksi di Timor Timur&lt;a name="_ftnref58" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn58"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;--untuk        menjadi pimpinan salah satu organisasi paramiliternya.        Tindakan-tindakan kelompok-kelompok paramiliter, yang        seringkali melibatkan kelompok-kelompok penjahat        (criminal gangs), seringkali dilaporkan dalam media        massa sebagai telah dipicu oleh individu-individu yang        tidak dikenal. Sebagai contoh, pada tanggal 30 Maret        2001, harian The Jakarta Post melaporkan bahwa “ratusan        pekerja pabrik pelapis jok mobil PT Kadera AR Indonesia        di kawasan industri Pulogadung diserang ketika mereka        sedang berunjuk-rasa di waktu pagi pada hari Kamis,        menewaskan satu orang dan mencederai 11 lainnya.”&lt;a name="_ftnref59" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn59"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: Times New Roman;" lang="IN"&gt;[57]&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;        Kelompok-kelompok paramiliter pemuda yang didukung oleh        sejumlah elit politik telah memungkinkan para        pendukungnya tersebut untuk menghindari tanggungjawab        dengan menunjuk pada ‘budaya kekerasannya’ orang        Indonesia. Penggunaan kelompok-kelompok paramiliter juga        mengancam keamanan warganegara pada umumnya, yang        akhirnya menjadi takut terhadap pelibatan dalam politik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;Bahwa ada kekerasan yang meluas di        Indonesia saat ini tidaklah mungkin untuk dibantah.        Kekerasan tersebut muncul karena adanya berbagai macam        alasan, seperti kegagalan lembaga-lembaga politik dan        hukum untuk menyediakan perangkat/aturan bagi        penyelesaian konflik maupun mengatasi keluhan-keluhan,        konsolidasi (penguatan) identitas-identitas komunal        dimana kelompok-kelompok bersaing mendapatkan akses        untuk atau kendali atas sumber-sumber ekonomi, dan        penggunaan kekerasan yang dijatuhkan oleh negara (&lt;i&gt;state-sanctioned        violence&lt;/i&gt;) untuk menghasut atau menekan konflik.        Dalam kontek ini, klaim bahwa Indonesia adalah suatu        budaya yang penuh kekerasan (&lt;i&gt;a violent culture&lt;/i&gt;)        hanyalah sebuah klaim politik yang dapat dimanfaatkan        untuk membenarkan kembalinya penguasa yang otoriter dan        kekerasan negara berikutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span lang="IN"&gt;* * *&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh Elizabeth Fuller Collins&lt;/span&gt;&lt;a name="_ftnref2" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftn2"&gt;&lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;   &lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;&lt;hr style="margin-left: 0px; margin-right: 0px;font-size:78%;"  width="33%"&gt;        &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;          &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn1"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;a name="_ftn1" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref1"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;          Dalam bahasa Inggris artikel ini pernah dimuat          dalam  Asian Survey, vol. xlii no. 4,  Juli/Agustus          2002, hal. 582-604. Diterjemahkan oleh Nico          Harjanto dan Putut Widjanarko atas ijin          penulisnya.. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn2"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;a name="_ftn2" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref2"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;**&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;          Penulis adalah mantan Direktur Program Kajian          Asia Tenggara, Ohio University, serta Associate          Professor, Department of Philosophy, Ohio          University, Athens, Ohio.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn3"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn3" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref3"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[1]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Pernyataan ini dilontarkan pada Konferensi          “Indonesia Next,” disponsori Van Zorge,          Heffernan and Associates, Jakarta, 21 April          2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn4"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn4" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref4"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Dikutip dari Robert Cribb, ed., &lt;i&gt;The          Indonesian Killings 1965-1966: Studies from Java          and Bali, &lt;/i&gt;Monash Paper on Southeast Asia,          no. 21 (Clayton, Vict., Australia: Monas          University, Center of Southeast Asian Studies,          1990), p. 113.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn5"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn5" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref5"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Lihat “Remembering the Left” dalam &lt;i&gt;Indonesia          Today: Challenges of History, &lt;/i&gt;ed. Grason          Loyddan Shannon Smith (Singapore: Institute of          Southeast Asian Studies, 2001), hal. 131.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn6"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn6" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref6"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[4]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Timothy Lindsey, “Judiciary System Reform May Be          Slow But It Is Coming,” &lt;i&gt;Jakarta Post, &lt;/i&gt;21          Desember 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn7"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn7" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref7"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[5]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Joshua Barker, “State of Fear: Controlling the          Criminal Contagion in Suharto’s New Order,”          dalam &lt;i&gt;Violence and the State in Suharto’s          Indonesia, &lt;/i&gt;ed. Benedict Anderson (Ithaca, N.          Y.: Cornell University Press, 2001), hal. 20-53.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn8"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn8" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref8"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[6]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Timothy Lindsey, “State Loses Control over ‘Preman’,”         &lt;i&gt;Jakarta Post, &lt;/i&gt;19 Maret, 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn9"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn9" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref9"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[7]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Dini Djalal, “Crime and Punishment: The New face          of Indonesian Justice,” &lt;i&gt;Far Eastern Economic          Review,&lt;/i&gt;13 Juli 2000.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn10"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn10" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref10"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[8]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Lihat John McBeth, “Social Dynamite,” ibid., 15          Februari 1996, hal 20-22; “A Chronology of Hope          and Desapir,” &lt;i&gt;Ampo, &lt;/i&gt;no 8 (Oktober 1997),          hal 52-22; dan “Riot in Medan, Commander of          Northern Sumatra Regional Military Apologizes,´P.          T. &lt;i&gt;Indonesia Media, &lt;/i&gt;3 Maret 1996, &lt;&lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.imn.co.id/today/9603/02/02medan.eng-e.html"&gt;http://www.imn.co.id/today/9603/02/02medan.eng-e.html&lt;/a&gt;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn11"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn11" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref11"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[9]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Margot Cohen, “Days of Rage,” &lt;i&gt;FEER, &lt;/i&gt;8          April 1994, hal 14-15.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn12"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn12" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref12"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[10]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;         &lt;i&gt;Global Exchange Report on Human Right in          Indonesia, &lt;/i&gt;November 1996, hal 10. &lt;&lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.globalexchange.org/education/publications/indonesiaHR.html"&gt;http://www.globalexchange.org/education/publications/indonesiaHR.html&lt;/a&gt;          &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn13"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn13" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref13"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[11]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Misalnya, lihat John McBeth dan Margot Cohen,          “Tinderbox,” &lt;i&gt;FEER, &lt;/i&gt;9 Januari 1997, hal.          14-15; dan “Behind the Riots in Indonesia” (tajuk          rencana), &lt;i&gt;Strait Times, &lt;/i&gt;30 Desember 1996.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn14"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn14" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref14"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[12]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Susan Sim, “Exaggerating Income Gap Level Can          Lead to More Unrest: Suharto,” &lt;i&gt;Strait Times&lt;/i&gt;,          16 Januari 1997, &lt;&lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.asial.com.sg/srtaitstimes/pages/stseal.html"&gt;http://www.asial.com.sg/srtaitstimes/pages/stseal.html&lt;/a&gt;&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn15"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn15" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref15"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[13]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Geoffrey Robinson, “Rawan is As Rawan Does: The          Origins of Disorder of New Order Aceh,” dalam &lt;i&gt;         Violence and the State in Suharto’s Indonesia,         &lt;/i&gt; hal 213-42.&lt;i&gt; &lt;/i&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn16"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn16" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref16"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[14]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Lihat David Bouchier, “Crime, Law, and State          Authority in Indonesia,” dalam &lt;i&gt;State and          Civil Society in Indonesia, &lt;/i&gt;ed. Arief          Budiman, Monash Paper in Southeast Asia, no. 22          (Clayton, Vict.: Monash University,  Center of          Southeast Asian Studies, 1990); and James          Siegel, &lt;i&gt;A New Criminal Type in Jakarta:          Counter-revolution Today. &lt;/i&gt;(Durham: Duke          University Press, 1998).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn17"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn17" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref17"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[15]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Lihat Loren Ryter, “&lt;i&gt;Pemuda Pancasila:&lt;/i&gt; The          Last Loyalist Freemen of Suharto’s Order?” dalam         &lt;i&gt;Violence and the State in Suharto’s          Indonesia, &lt;/i&gt; hal 124-55.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn18"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn18" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref18"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[16]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          John McBeth, “Far From Over: Democrats and          Leftists Remain under Political Cloud,” &lt;i&gt;FEER,         &lt;/i&gt;22 Agustus 1996, hal 17-20.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn19"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn19" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref19"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[17]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          John McBeth dan Margot Cohen, “Streets of Fire,”          ibid., 8 Agustus 1996, hal. 14-16.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn20"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn20" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref20"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[18]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          “Criminal Laber for Riot Victims Too Premature:          Expert,” &lt;i&gt;Jakarta Post, &lt;/i&gt;26 Mei 1997; dan          “Rights Body Says 77 People Missing in          Banjarmasin,” ibid., 2 Juni 1997. Untuk tinjauan          terhadap kerusuhan-kerusuhan menjelang Pemilu,          lihat “Official Human-Rights Commision Report,”          ibid. 4 Juni 1998.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn21"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn21" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref21"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[19]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Lihat Richard Robinson, &lt;i&gt;Indonesia: The Rise          of Capital&lt;/i&gt; (Sydney: Allen and Uniwin, 1986),          hal 164.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn22"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn22" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref22"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[20]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Lihat John Bresnan, &lt;i&gt;Managing Indonesia: The          Modern Political Economy &lt;/i&gt;(New York: Columbia          University Press, 1993), hal 145-46.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn23"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn23" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref23"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[21]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Joe Leahy, “Muslim Leaders Says Unrest Part Plot          to Oust Him,” &lt;i&gt;South China Morning Post (SCMP),         &lt;/i&gt;16 Januari 1997; dan Susan Sim,          “Exaggerating Income Gap Can Lead to More          Unrest: Suharto,” &lt;i&gt;Strait Times &lt;/i&gt;         (Singapore), 16 Januari, 1997.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn24"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn24" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref24"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[22]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          John McBeth, “Tinderbox,” hal. 14-15.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn25"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn25" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref25"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[23]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Louise Williams, “Fresh Arrest as Workers Riot,”         &lt;i&gt;Sydney Morning Herald, &lt;/i&gt;3 Februari 1997.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn26"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn26" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref26"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[24]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Susan Berfield dan Dewi Loveard, “Ten Days that          Shook Indonesia,” &lt;i&gt;Asiawek, &lt;/i&gt;21 Juli, 1998.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn27"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn27" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref27"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[25]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Bagian selanjutnya didasarkan pada          laporan-laporan mengenai sengketa-sengketa          pertanahan yang dikumpulkan oleh para relawan          LBH-Palembang dan wawancara-wawancara saya          dengan orang-orang desa di Sumatra Selatan,          1998-2000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn28"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn28" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref28"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[26]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          Untuk diskusi mengenai konflik pertanahan di          Sumatra Selatan, lihat Elizabeth Collins,          “Multinational Capital, New Order ‘Development,’          and Democratization in South Sumatra,” &lt;i&gt;         Indonesia&lt;/i&gt;, no. 71 (April 2001), halaman          111-34; dan Jamilah Nuh dan Elizabeth Collins,          “Land Conflict and Grassroots Democracy in South          Sumatra: The Dynamics of Violence,” &lt;i&gt;         Anthropologia Indonesia&lt;/i&gt;, no. 25          (Januari-April 2001), halaman 41-55.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn29"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn29" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref29"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[27]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          “12 Ribu Ha Lahan MHP Dikembalikan,” &lt;i&gt;         Sriwijaya Pos, &lt;/i&gt;28 April 2000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn30"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn30" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref30"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[28]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Dan Murphy, “Deeper into the Morass,” &lt;i&gt;FEER&lt;/i&gt;,          1 Juni 2000, hal. 58-59.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn31"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn31" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref31"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[29]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span lang="FI"&gt;           “Tentang Tindakan Kekerasan yang Dilakukan oleh          Aparat Kepolisian Kota Besar (POLTABES)          Palembang terhadap Sdr. Syamsul Asinar,” &lt;i&gt;         Surat Protes Terbuka WALHI Sumatera Selatan&lt;/i&gt;,          no. 13/Kp-CE/V/2001, 30 April 2001.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn32"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn32" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref32"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[30]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           “Umat Islam Diminta Menghadapi Para Pengkhianat          Bangsa,” &lt;i&gt;Kompas Online&lt;/i&gt;, February 9, 1998,         &lt;span lang="FI"&gt;         &lt;a style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.kompas.com/"&gt;         &lt;span lang="EN-US"&gt;http://www.kompas.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;.          Juga lihat, Margot Cohen, ”’Us’ and ’Them’:          Muslim Activists Say It’s Time to Seize Economic          Power,” &lt;i&gt;FEER&lt;/i&gt;, 12 Februari 1998, hal.          16-17; dan “Sofjan Back Home,” &lt;i&gt;Jakarta Post&lt;/i&gt;,          9 Februari 1998.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn33"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn33" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref33"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[31]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Wawancara penulis dengan para warga setempat dan          wartawan-wartawan Sriwijaya Pos di Palembang,          Indonesia pada bulan Oktober 1998.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn34"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn34" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref34"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[32]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Vaudine England, “Coffins Broken into as          Multi-Faith Service for People Killed in          Anti-Communist Crackdown Prevented,” &lt;i&gt;SCMP&lt;/i&gt;,          27 Maret 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn35"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn35" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref35"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[33]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Periksa, &lt;i&gt;A Preliminary Analysis of the          October 1, 1965, Coup in Indonesia&lt;/i&gt; (Ithaca:          Cornell Modern Indonesia Project, 1971). Adam          Schwartz berkesimpulan, “Although not without          its flaws- in particular its view that the          Communist Party was not involved at all in the          coup- on balance the Cornell Paper seems to          offer a more credible interpretation of events          than the army’s contention that the communists          were solely responsible.” Periksa dalam &lt;i&gt;A          Nation in Waiting: Indonesia in the 1990s&lt;/i&gt;          (Boulder, CO: Westview Press, 1994), hal. 20.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn36"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn36" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref36"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[34]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Robert Cribb, ed., &lt;i&gt;The Indonesian Killings;&lt;/i&gt;          Robert Hefner, &lt;i&gt;The Political Economy of          Mountain Java: An Interpretive History&lt;/i&gt;          (Berkeley: University of California Press,          1990); Geoffrey Robinson, &lt;i&gt;The Dark Side of          Paradise: Political Violence in Bali&lt;/i&gt;          (Ithaca, N.Y.: Cornell University Press, 1995);          Iwan Sudjatmiko, “The Destruction of the          Indonesian Communist Party (PKI): A Comparative          Analysis of East Java and Bali” (Ph.D. diss.,          Harvard University, 1992); dan Hermawan Sulistyo,          “The Forgotten Years: The Missing History of          Indonesia’s Mass Slaughter (Jombang-Kediri          1965-1966)” (Ph.D. diss., Arizona State          University, 1997).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn37"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn37" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref37"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[35]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Cribb, ed., &lt;i&gt;The Indonesian Killings;&lt;/i&gt; dan          “Problems in the Historiography of the Killings          in Indonesia,” dalam &lt;i&gt;The Indonesian Killings,          1965-1966: Studies from Java and Bali&lt;/i&gt;, ed.          Robert Cribb (Clayton, Australia: Centre for          Southeast Asian Studies, 1990), hal. 21.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn38"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn38" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref38"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[36]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Hefner, &lt;i&gt;The Political Economy&lt;/i&gt;, hal. 212.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn39"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn39" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref39"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[37]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Robinson, &lt;i&gt;The Dark Side of Paradise&lt;/i&gt;, hal.          295.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn40"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn40" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref40"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[38]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Sebagai contoh, periksa Robinson, hal. 281; dan          Cribb, “Problems in Historiography,” hal. 33.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn41"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn41" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref41"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[39]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Kingsbury, &lt;i&gt;The Politics of Indonesia&lt;/i&gt;, hal.          56.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn42"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn42" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref42"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[40]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Michael Vatikiotis, “Indonesia’s Budget Blues,”         &lt;i&gt;FEER, &lt;/i&gt;17 Mei 2001, hal. 52-3.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn43"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn43" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref43"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[41]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           “Labor Relations in Indonesia,” &lt;i&gt;Van Zorge          Report&lt;/i&gt; (Jakarta), 5 Juni 2000, hal. 5.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn44"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn44" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref44"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[42]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Dini Djalal, “Inspiring the Poor to Protest,” &lt;i&gt;         FEER, &lt;/i&gt;3 Mei 2001, hal. 24-6.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn45"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn45" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref45"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[43]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Herbert Feith, &lt;i&gt;The Decline of Constitutional          Democracy in Indonesia&lt;/i&gt; (Ithaca, N.Y.:          Cornell University Press, 1962), hal. 601.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn46"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn46" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref46"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[44]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Robert Hefner, &lt;i&gt;Civil Islam: Muslims and          Democratization in Indonesia&lt;/i&gt; (Princeton,          N.J.: Princeton University Press, 2000), hal.          212.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn47"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn47" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref47"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[45]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Cribb, “Problems in the Historiography,” hal.          22, 24, 25, dan catatan nomer 41.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn48"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn48" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref48"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[46]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;          &lt;i&gt;Ibid.,&lt;/i&gt; hal. 21-2, 24, 26; dan Robinson,         &lt;i&gt;The Dark Side of Paradise&lt;/i&gt;, hal. 265, 272.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn49"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn49" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref49"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[47]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Rex Mortimer, &lt;i&gt;The Indonesian Communist Party          and Land Reform, 1959-1965&lt;/i&gt;, Monash Paper on          Southeast Asia, no. 1. (Clayton, Vict.,          Australia: Monash University, Centre of          Southeast Asian Studies, 1972), hal. 66.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn50"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn50" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref50"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[48]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Lindsey, “Judiciary System Reform.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn51"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn51" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref51"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[49]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Feith, &lt;i&gt;The Decline of Constitutional          Democracy,&lt;/i&gt; hal. 601.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn52"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn52" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref52"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[50]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Robinson, &lt;i&gt;The Dark Side of Paradise&lt;/i&gt;, hal.          293; dan juga Cribb, “Problems in the          Historiography,” hal. 36.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn53"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn53" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref53"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[51]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Hefner, &lt;i&gt;The Political Economy,&lt;/i&gt; hal. 66.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn54"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn54" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref54"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[52]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Vedi Hadiz, &lt;i&gt;Workers and the State in New          Order Indonesia&lt;/i&gt; (Perth, Western Australia:          Routledge, 1997) hal. 188.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn55"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn55" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref55"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[53]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           “KPC Agrees to Pay Land Compensation to End          Dispute with Villagers,” &lt;i&gt;Van Zorge Report,         &lt;/i&gt;12 Februari 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn56"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn56" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref56"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[54]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           “Violence Erupts in Riau, Transmigrants’ Homes          Burned,” British Broadcasting Corporation, 28          Maret 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn57"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn57" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref57"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[55]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Lihat Benedict Anderson, “Withdrawal Symptoms,”          dalam &lt;i&gt;The Spectre of Comparisons:          Nationalism, Southeast Asia and the World&lt;/i&gt;          (London: Verso, 1998), hal. 139-73; dan idem,.          “Murder and Progress in Modern Siam,” &lt;i&gt;ibid.,&lt;/i&gt;          hal. 174-91.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn58"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn58" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref58"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[56]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           Periksa, Seth Mydans, “East Timor’s Scourge          Serves Time on His Patio,” &lt;i&gt;New York Times,&lt;/i&gt;          16 Mei 2001; dan “Eurico Guterres, Terror of          Timor, Is Back,” &lt;i&gt;Asiaweek&lt;/i&gt;, 22 Juni 2001,          hal. 9.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div id="ftn59"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p class="MsoFootnoteText" style="margin: 6pt 0in 0.0001pt 0.25in; text-indent: -0.25in;"&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;         &lt;a name="_ftn59" title="" style="color: blue; text-decoration: underline;" href="http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm#_ftnref59"&gt;         &lt;span class="MsoFootnoteReference"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;            &lt;/span&gt;         &lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;         &lt;span style="font-size:78%;"&gt;[57]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;           “Surprise Attack on Striking Workers Leaves One          Dead,” &lt;i&gt;The Jakarta Post, &lt;/i&gt;30 Maret 2001.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;       &lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_efc.htm&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-165087959498907727?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/165087959498907727/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=165087959498907727' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/165087959498907727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/165087959498907727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/indonesia-sebuah-budaya-kekerasan.html' title='Indonesia: Sebuah Budaya Kekerasan?'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-4822343612791133614</id><published>2008-11-15T20:28:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:29:04.801+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Teori "Reality Maintenance"</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;       Pendahuluan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sebuah        pemikiran dalam sosiologi pengetahuan menyatakan bahwa        supaya suatu masyarakat dapat bertahan dan hidup terus (&lt;i&gt;viable&lt;/i&gt;),        masyarakat ini harus mengembangkan prosedur-prosedur        “pemeliharaan kenyataan” (&lt;i&gt;reality&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;maintenance&lt;/i&gt;)        untuk mempertahankan suatu simetri antara kenyataan        obyektif dan kenyataan subyektif. Tanpa simetri ini,        suatu masyarakat akan ambruk. “Kenyataan obyektif”        mengacu pada masyarakat sebagai suatu lembaga &lt;i&gt;di luar&lt;/i&gt;        manusia. “Kenyataan subyektif” menunjuk pada masyarakat       &lt;i&gt;di dalam&lt;/i&gt; diri manusia; maksudnya: pada        nilai-nilai dan norma-norma sosial yang dibuat dan        dilegitimasi oleh masyarakat sebagai suatu “dunia        simbolik” yang telah diinternalisasi, dimasukkan, ke        dalam batin setiap anggota masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Karena        proses sosialisasi manusia ke dalam masyarakat (sebagai        kenyataan obyektif) tidak pernah selesai dan        internalisasi (= proses memasukkan masyarakat ke dalam        batin manusia sehingga lembaga sosial ini menjadi        kenyataan subyektif) juga senantiasa terancam gagal,        maka prosedur-prosedur tersebut diperlukan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam        keadaan krisis, yaitu ketika menghadapi ancaman-ancaman        dari orang-orang atau hal-hal asing yang dapat        merobohkan simetri antara dua kenyataan itu, maka        diperlukan prosedur-prosedur untuk mempertahankan        simteri itu. Prosedur-prosedur itu adalah: melakukan        ritual keagamaan (misalnya, ritual pembasuhan atau        pembersihan; ritual ini dialami sebagai “nihilisasi”        atau “pelenyapan subyektif’ atas realitas asing obyektif        yang secara subyektif dipandang mencemarkan dan merusak);        menetapkan tabu-tabu; mengutuk orang-orang asing, para        penyesat, orang-orang gila; dan eksorsisme (= mengusir        setan-setan).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;       Ritual Eksorsisme&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       Eksorsisme mempunyai suatu fungsi sosial penting untuk        membuat suatu masyarakat sebagai suatu kenyataan        obyektif bertahan dan langgeng; cara bekerjanya        digambarkan berikut ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam        alam pemikiran mitis, orang yang menolak atau merongrong        tatanan sosial (&lt;i&gt;social&lt;/i&gt; &lt;i&gt;order&lt;/i&gt;) yang sah,        yang diklaim dan dilegitimasi secara religius sebagai        tatanan dasariah  yang berasal dari Yang Ilahi (&lt;i&gt;the&lt;/i&gt;       &lt;i&gt;sacred&lt;/i&gt;), dipandang sebagai orang gila, orang yang        kerasukan setan atau dikuasai oleh, dan bersekutu dengan,        kekuatan-kekuatan gelap demonik (&lt;i&gt;the&lt;/i&gt; &lt;i&gt;devil&lt;/i&gt;).        Mereka dinilai merongrong tatanan (&lt;i&gt;order&lt;/i&gt;) dan mau        menggantikannya dengan kekacauan atau anomi (&lt;i&gt;chaos&lt;/i&gt;).        Berhadapan dengan orang-orang yang dipandang demikian,        ritual keagamaan berfungsi ganda. Pertama, untuk        mengingatkan kembali atau menyadarkan orang yang        sebelumnya alpa ketika ia melawan tatanan sosial yang        sah; ini adalah &lt;i&gt;fungsi kuratif&lt;/i&gt; dari ritual        religius. Kedua, untuk menghadirkan kembali        definisi-definisi dasariah yang ditetapkan Yang Ilahi        atas kenyataan atau tatanan yang semula serta        legitimasi-legitimasinya yang pas, bagi orang-orang yang        berpartisipasi di dalam kehidupan dalam tatanan yang sah        itu; ini adalah &lt;i&gt;fungsi preventif&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;protektif&lt;/i&gt;        dari ritual keagamaan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       Eksorsisme, yang tergolong sebagai suatu ritual dan akta        keagamaan, berfungsi kuratif ketika dengannya orang        “menihilisasi” atau “melenyapkan secara subyektif”        kekuatan-kekuatan asing jahat perusak dan pencemar yang        diyakini (dalam kenyataan subyektif) didalangi oleh,        atau bersumber dari, kuasa-kuasa jahat demonik        adikodrati yang tidak kasat mata, yang mau menumbangkan        tatanan obyektif yang ditetapkan Yang Ilahi dan hendak        menggantikannya dengan kekacauan, anomi, &lt;i&gt;chaos&lt;/i&gt;.        Dengan eksorsisme, “lawan” atau “musuh”, yakni kekuatan        asing demonik itu, dikalahkan dan dilenyapkan, sehingga        masyarakat terbebas dari ancaman, dan dengan begitu        posisi simetri antara dua kenyataan itu terbangun        kembali. Dengan cara ini, eksorsisme adalah suatu        konstruksi sosial untuk mempertahankan masyarakat.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam        masyarakat modern, eksorsisme juga dipraktekkan, hanya        di dalamnya idiom-idiom mitisnya telah diganti dengan        idiom-idiom modern, namun konfrontasi antara “order” dan        “chaos” secara fundamental dipandang tetap berlangsung.        Kalau di jaman dulu para pengusir setan menangkal        setan-setan melalui ritual eksorsisme untuk        mengembalikan “order” dalam tubuh manusia dan tubuh        sosial (masyarakat), maka sekarang, di zaman modern,        ritual eksorsisme ini berlangsung ketika para ahli medik        bertempur melawan kuman-kuman, bakteri-bakteri,        mikroba-mikroba, dan virus-virus yang tidak kasat mata        yang merongrong “order” dalam tubuh manusia. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Atau        sebuah contoh lain: Ketika Amerika Serikat, dalam alur        kebijakan politik luar negerinya yang didukung kemampuan        intelijen modernnya, memandang Irak (dan Iran serta        Korea Utara) sebagai “axis of evil” (karena disinyalir        sedang menjadi suatu ancaman terhadap dunia karena        memiliki dan mengembangkan senjata-senjata pemusnah        massal nuklir, kimiawi dan biologis), maka negeri yang        dikuasai “evil” ini dipandang sebagai pengacau dan        perongrong “order” atau tatanan politis global yang        sudah dan sedang dibangun adidaya Amerika Serikat. Maka,        pemerintahan Bush pun segera mengatur, menyiapkan dan        melaksanakan suatu ritual eksorsisme untuk        “menihilisasi” kekuatan demonik ini: Irak pun diserang        dan digempur dengan kekuatan militer gabungan yang luar        biasa kuatnya. Inilah eksorsisme dalam idiom-idiom        modern dan dalam skala global. “The devil” yang diserang        pun jauh lebih kuat dan mematikan, dibandingkan        “setan-setan” yang dipersalahkan telah merusak jiwa-jiwa        dan tubuh-tubuh manusia-manusia individual.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apakah        teori “reality-maintenance” dapat menjelaskan mengapa        kekristenan perdana dapat tetap bertahan? Jawabnya        tegas: Ya! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;       Eksorsisme dalam Kekristenan Perdana&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       Eksorsisme sebagai suatu ritual untuk mempertahankan        masyarakat mengisi kehidupan komunitas-komunitas Kristen        PB, sejak dari kegiatan-kegiatan Yesus (“Jika Aku        mengusir Setan dengan Roh/jari Allah …”; Matius 12:28;        par.), ke masa rasul Paulus (“Aku tidak mau kamu        bersekutu dengan setan-setan;” 1 Korintus 10:20-21),        sampai ke surat 1 Petrus (“Sadarlah dan berjaga-jagalah!        Lawanmu, si Iblis, berjalan berkeliling sama seperti        singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat        ditelannya.”; 5:8). Adanya lawan atau musuh demonik ini,        membuat kekristenan perdana terus terlibat dalam        peperangan untuk menggempur dan melenyapkan musuh ini.        Dorongan untuk terus berperang dan bertempur ini        memiliki andil penting dalam terbentuknya ketahanan dan        kekenyalan kekristenan perdana sehingga ia dapat        langgeng.  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       “Kenyataan subyektif” dalam diri Yesus tentu adalah        “Kerajaan Allah” yang menjadi suatu “symbolic universe”        (= doktrin, teologi, nilai) utama dalam kehidupannya. Ia        memberikan definisinya sendiri terhadap konsep “Kerajaan        Allah” ini; misalnya, ia memakai metafora “ragi”,        sesuatu yang dipandang najis, cemar dan tidak benar        (Keluaran 12:19; Galatia 5:9; 1 Korintus 5:6-8; Markus        8:15), untuk menggambarkan karakteristik kerajaan Allah        (Lukas 13:20-21; Matius 13:33). Maksud Yesus jelas: Di        tengah Tanah Yahudi yang sudah tercemar karena        penjajahan bangsa asing yang (menurut sistim puritas        Yahudi) najis, dan di tengah terpusatnya pemerintahan        Allah di Bait Allah yang dikuasai kalangan korup elitis        imamat dan aristokrat, maka, bagi Yesus, kerajaan Allah        hanya bisa ditemukan di antara &lt;i&gt;rakyat kebanyakan&lt;/i&gt;,        yang digolongkan sebagai lapisan masyarakat marjinal        menurut sistim puritas Yahudi formal. Kenyataan        subyektif ini &lt;i&gt;dieksternalisasikan&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;       diobyektivasikan&lt;/i&gt; oleh Yesus, dan ini melahirkan        suatu bentuk sosial masyarakat obyektif, yakni suatu        masyarakat baru alternatif, masyarakat Kerajaan Allah,        yang berpusat pada  Allah dan pada nilai-nilai        egalitarianisme, yang tidak diatur oleh sistim puritas        Yahudi formal yang membagi-bagi manusia dan nilai-nilai        dalam peringkat hirarkis dan polarisasi-polarisasi.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tetapi,        karena kenyataan obyektif yang lebih luas, yakni        masyarakat Israel, tidak diperintah Allah dengan belas        kasih-Nya atau bela rasa-Nya, tetapi diperintah oleh        penjajah Roma melalui antek-antek Yahudinya yang        menguasai Bait Allah dan memarjinalkan rakyat, maka        terciptalah posisi asimetri antara “dunia simbolik” yang        dipertahankan Yesus dan murid-muridnya dan “kenyataan        obyektif” masyarakat terjajah Israel. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Posisi        asimetri ini menimbulkan tekanan-tekanan psikis besar        pada anggota-anggota masyarakat; tekanan-tekanan ini        tampak nyata di dalam banyak kasus sakit penyakit dan        kerasukan setan, yang merupakan akibat-akibat mental dan        fisikal yang diderita banyak rakyat, yang ditimbulkan        oleh pemerintahan represif Roma melalui kaki tangannya.        Dalam bagian-bagian tertentu Injil-injil, Roma dan kaki        tangannya digambarkan sebagai “Setan” atau “Iblis”        (Lukas 13:31-32; Markus 5:1-20 [“Namaku Legion karena        kami banyak”]). “Iblis” yang dipandang sebagai aktor        utama di balik penjajahan Roma digambarkan sebagai        kekuatan yang sangat besar, sebagai “Legion” (= sejumlah        3000-6000 prajurit pejalan kaki dan pasukan berkuda        Romawi), atau sebagai “orang kuat” yang harus dikalahkan        dulu kalau Israel mau dipulihkan (Markus 3:20-30).        Dengan melakukan ritual-ritual eksorsisme, maka Yesus        menciptakan simetri, dan dengan itu mendatangkan        Kerajaan Allah (Matius 12:28; Lukas 11:20);        murid-muridnya juga diberi kemampuan dan tugas yang sama        (Markus 6:7, 13; par.).          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam        segala kegiatannya, rasul Paulus melihat dirinya sedang        berada dalam suatu peperangan, dengan bersenjatakan        kuasa Allah, untuk menghadapi musuh-musuh yang didalangi        kuasa-kuasa adikodrati yang jahat. Katanya, “Kami memang        masih hidup dalam dunia, tetapi kami tidak berperang (&lt;i&gt;strateumetha&lt;/i&gt;)        menurut daging, karena senjata kami dalam peperangan        bukanlah senjata kedagingan, melainkan senjata yang        memiliki kuasa Allah untuk merubuhkan benteng-benteng”        (2 Korintus 10:3-4; lihat juga 6:7). Pada aras dunia        kodrati, peperangan ini berlangsung ketika ia menghadapi:       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;1)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;orang-orang        yang, karena didalangi “Setan,” menghalangi penyebaran        berita Kristen (1 Tesalonika 2:18); &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;2)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;“Ilah        zaman ini” yang membutakan pikiran orang sehingga mereka        tidak percaya (2 Korintus 4:4); &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;3)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;tipu        daya “Iblis”/”Setan” yang bekerja melalui rasul-rasul        palsu, pekerja-pekerja curang, saudara-saudara palsu (2        Korintus 11:13,14,26); &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;4)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;kesakitan        akibat ulah “Iblis”/ “Setan” sebagai lawannya (2        Korintus 12:7); &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;5)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;orang-orang        yang berpaling dari rasul Paulus sebagai akibat        pekerjaan “allah-allah yang pada hakikatnya bukan Allah”        dan “roh-roh dunia yang lemah dan miskin” (Galatia        4:3,8,9; 1:6,9); &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;6)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;“binatang        buas di Efesus” dalam hubungan dengan “pemerintahan,        kekuasaan dan kekuatan” (1 Korintus 15:32; bdk. 15:24,        25; Roma 8:38); &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: -18pt; margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;7)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-family: Arial;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;“Iblis”/”Setan”        (Roma 16:20; 1 Korintus 5:5; 7:5; 2 Korintus 2:11).        &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       Mem-“binatangbuas”-kan dan “mensetankan” (&lt;i&gt;demonizing&lt;/i&gt;)        lawan, seperti ditemukan dalam surat 1 Petrus 5:8,        adalah suatu strategi ritual sosial untuk mempertahankan        simetri antara “kenyataan subyektif” dan “kenyataan        obyektif.” Kekristenan perdana penuh dengan motif ini (lihat,        misalnya, Elaine Pagels, &lt;i&gt;The Origin of Satan&lt;/i&gt;. New        York: Vintage Press, 1995). Dalam “nubuat astral”        penulis Wahyu Yohanes, strategi ritual dengan memakai        metafora “mensetankan” dan “membinatangbuaskan” musuh        dan lawan (orang Yahudi, lembaga-lembaga kultik Yahudi        dan Roma, dan Kaisar) muncul sangat kuat dan grafis (Wahyu        2:9,10,13; 3:9; 12:9, 2; 13:1-13; 16:13). Oleh tindakan        kekuatan-kekuatan kudus adikodrati dari “angkasa luar”,        “Iblis” dan para pengikutnya di bumi dikalahkan (17:14;        19:19-21; 20:10).       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;       Kesimpulan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Teori        “reality maintenance” dari sosiologi pengetahuan, yang        digunakan dalam penafsiran teks-teks PB, berhasil        membantu penafsir untuk memahami fungsi-fungsi sosial        strategis dari ritual eksorsisme dalam rangka        mempertahankan eksistensi kekristenan perdana di tengah        banyak hambatan dan ganjalan yang berasal dari        lawan-lawan dan musuh-musuh mereka. Situasi dipaksa        untuk terus bertempur dan melawan musuh-musuh yang        diyakini didalangi Setan atau Iblis,  melalui ritual        eksorsisme, telah memberikan andil besar dalam        menciptakan ketahanan komunitas-komunitas Kristen        perdana di tengah-tengah pelbagai kesulitan yang mereka        hadapi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#000000;"&gt;I&lt;span style="font-family: GoudyOlSt BT;" lang="IN"&gt;oanes        Rakhmat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;       Sumber: &lt;/span&gt;&lt;a href="http://www.sttjakarta.ac.id/"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;Sekolah Tinggi Teologi        Liberal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-4822343612791133614?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/4822343612791133614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=4822343612791133614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/4822343612791133614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/4822343612791133614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/teori-reality-maintenance.html' title='Teori &quot;Reality Maintenance&quot;'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-6480612678732042691</id><published>2008-11-15T20:26:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:27:15.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Adaptasi Agama Terhadap Sekularisme</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="excerpt"&gt;“Agama memiliki sembilan nyawa,        begitu juga sekularisme.” Ungkapan indah penuh makna ini        saya dengar dari Goenawan Muhammad, budayawan ternama,        dalam sebuah diskusi tentang masa depan sekularisme di        Teater Utan Kayu minggu lalu. Ungkapan ini merupakan        sebuah bentuk optimisme dan --saya kira juga-- kritik        terhadap dua teori besar yang berkembang selama ini        dalam kajian-kajian sosiologi agama.&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="sidebar"&gt;        &lt;!-- id=menusub --&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;!-- id=sidebar --&gt;  &lt;!-- ARTICLE CONTENT --&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" id="article"&gt;        “Agama memiliki sembilan nyawa, begitu juga         sekularisme.” Ungkapan indah penuh makna ini saya         dengar dari Goenawan Muhammad, budayawan ternama,         dalam sebuah diskusi tentang masa depan sekularisme         di Teater Utan Kayu minggu lalu. Ungkapan ini         merupakan sebuah bentuk optimisme dan --saya kira         juga-- kritik terhadap dua teori besar yang         berkembang selama ini dalam kajian-kajian sosiologi         agama.        &lt;p&gt;Teori pertama menyatakan bahwa dunia kita sedang         menuju kepada satu titik di mana agama-agama         tradisional tak lagi punya tempat. Masa depan umat         manusia adalah masa depan dunia sekular, masa depan         sekularisme. Teori ini didukung oleh hampir seluruh         sosiolog besar Barat, termasuk Weber, Durkheim,         Comte, dan Luckmann.&lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Teori kedua adalah respon dari teori pertama itu.         Teori ini menyatakan bahwa tesis tentang         sekularisasi tak lagi bisa dipertahankan. Dunia kita         bukannya sedang mengarah kepada satu titik yang         sekular, tapi justru kepada titik di mana         agama-agama menjalani kebangkitannya Teori ini         dianut oleh para sosiolog belakangan seperti Peter         Berger, Rodney Stark, dan Jose Cassanova.&lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Lalu, dengan demikian, apakah teori klasik         sekularisasi benar-benar telah mati, dan masa depan         dunia kita adalah masa depan agama, dan bukan         sekularisme? Ungkapan yang dilontarkan Goenawan         Muhammad di atas, saya kira, menjawab itu Baik agama         maupun sekularisme sulit mati, karena keduanya punya         banyak nyawa.&lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Pertanyaannya, mengapa agama begitu tegar dan         mampu bertahan dari serangan sekularisme sejak dua         abad belakangan? Jawabannya, saya kira, bukan karena         agama memiliki “kekuatan supranatural” atau         “kebenaran sejati” sehingga, seperti kerap diklaim         kaum agamawan, “kebenaran akan mengalahkan kebatilan.”        &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Jawabannya, menurut saya, karena agama telah         begitu pandai memainkan perannya dalam berhadapan         dengan dunia modern. Agama mampu beradaptasi dengan         produk-produk modernitas, termasuk sekularisme.         Maksudnya, ada upaya dan proses terus-menerus dari         tokoh maupun penganut agama untuk menyesuaikan diri         dengan situasi dan keadaan yang terus berubah,         situasi dan keadaan yang diciptakan oleh dunia kita         yang sekular. Tak ada satu pun agama di dunia ini         yang mengaku punya ajaran universal tapi bersikap         resisten terhadap perubahan. Menolak perubahan, bagi         sebuah agama universal, sama artinya menolak         karakter universalnya.&lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Islam misalnya. Ia adalah agama universal yang         punya klaim agung sekali: “cocok untuk setiap masa         dan keadaan” (&lt;i&gt;salih li kulli zaman wa makan&lt;/i&gt;).         Klaim inilah yang membuat Islam terus bertahan         hingga sekarang. Ia akan selalu melihat perkembangan         di dunia luar, mencontohnya, mempelajarinya, lalu         menirunya (&lt;i&gt;mimicry&lt;/i&gt;). Produk-produk peradaban         sekular seperti sistem keuangan, industri turisme,         dan kapitalisme media, diamati dan dipelajari oleh         orang-orang Islam, lalu ditiru dan diberikan         identitas keislaman menjadi ekonomi Islam, bimbingan         haji plus, dan media Islami. Saya meyakini, masa         depan Islam --dan juga agama-agama dunia lainnya--         terletak pada sejauh mana ia bisa berinteraksi dan         beradaptasi dengan sekularisme dan dunia kita yang         semakin sekular. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;: Luthfi         Assyaukanie&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber:&lt;/span&gt;&lt;a href="http://islamlib.com/id/"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Jaringan         Islam Liberal&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;" class="icondocument"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-6480612678732042691?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/6480612678732042691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=6480612678732042691' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/6480612678732042691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/6480612678732042691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/adaptasi-agama-terhadap-sekularisme.html' title='Adaptasi Agama Terhadap Sekularisme'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-1756277569370458108</id><published>2008-11-15T20:25:00.001+07:00</published><updated>2008-11-15T20:25:55.225+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Membuka Kotak Hitam Teknologi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       IBIECA adalah nama sebuah desa kecil di sebelah timur        laut Spanyol. Beberapa bangunan tua peninggalan kerajaan        Spanyol abad ke-13 tampak masih kokoh berdiri. Sekitar        seratus keluarga mendiami Ibieca. Tidak semata-mata        jumlah kecil ini yang menciptakan keakraban di antara        para penduduk. Di salah satu sudut desa terdapat sebuah        tempat istimewa. Sebuah pancuran dengan aliran air yang        jernih dan dingin. Di sinilah para Ibiecan setiap hari        bertemu dan bercengkerama satu sama lain. Mereka        bersenda gurau di sela-sela aktivitas menimba air yang        biasanya dikerjakan kaum lelaki pada saat kaum perempuan        sibuk menggosok cucian yang menumpuk. Suasana air        pancuran semakin ramai dengan teriakan riang gembira        anak-anak kecil yang bermain air sambil bertelanjang        dada. Bagi Ibiecan, air pancuran adalah pusat segala        aktivitas sosial mereka. Dari gagasan-gagasan serius        hingga gosip si ini jatuh hati dengan si itu, semuanya        mengalir sama derasnya dengan air pancuran tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       SUATU hari penduduk Ibieca menerima kabar bahwa tidak        lama lagi di desa Ibieca akan terpasang pipa-pipa besi        yang mengantarkan air langsung ke rumah-rumah. Penduduk        Ibieca pun dengan serta-merta menyambut riang gembira.        Dengan kedatangan teknologi tersebut, kaum lelaki merasa        senang karena mereka tidak perlu lagi mengeluarkan        tenaga untuk menimba dan membawa air ke rumah. Kaum        perempuan pun tidak kalah antusiasnya. Mereka segera        berbondong-bondong membeli mesin cuci untuk dipakai di        rumah masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Tanpa disadari teknologi mengubah kehidupan sosial desa        Ibieca. Dengan dipasangnya pipa air ke rumah-rumah,        penduduk Ibieca tidak lagi melakukan kegiatan rutinitas        mereka di air pancuran. Interaksi sosial yang selama ini        mereka lakukan menghilang. Kaum lelaki tidak lagi akrab        dengan keledai peliharaan mereka yang biasa membantu        membawa air. Para perempuan tidak lagi berbagi cerita        tentang keadaan desa yang biasa mereka lakukan di air        pancuran. Suara anak kecil riang gembira menghilang dari        warna desa karena mereka sibuk bermain di rumah        masing-masing. Teknologi telah mengubah ikatan sosial        kultural yang kuat di antara Ibiecan, sebuah ikatan yang        membentuk kaum Ibiecan sebagai sebuah komunitas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kisah Desa Ibieca seperti yang dikutip Richard Sclove di        atas adalah sebuah parabel modernitas yang menunjukkan        bagaimana sebuah tatanan sistem sosial mengalami        perubahan dengan adanya intervensi teknologi. Ibieca        tidaklah sendiri. Sejarah sosial kultural manusia penuh        dengan perubahan yang dipicu oleh utilisasi teknologi di        masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Relasi antara manusia dan teknologi tidaklah sesederhana        mengatakan bahwa teknologi adalah media untuk mengubah        manusia. Manusia tidak pernah bersikap pasif terhadap        teknologi. Respons imajinatif senantiasa mewarnai        interaksi timbal balik antara manusia dan teknologi,        sebuah interaksi yang selalu melibatkan dimensi sosial,        politik, dan kultural. Pada titik inilah relasi antara        manusia dan teknologi menjadi diskursus menarik        sekaligus penting. Menarik karena kompleksitasnya.        Penting karena teknologi selalu menjadi bagian dari        setiap episode sejarah manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Dilema determinisme&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Bagi para praktisi teknologi, fungsi teknologi tidak        perlu dipertanyakan lagi. Teknologi diciptakan untuk        membantu mengatasi keterbatasan fisik manusia. Dia        berperan sebagai media untuk mencapai kepuasaan        material. Teknologi dibentuk oleh parameter efisiensi        dan efektivitas sedemikian rupa untuk mencapai suatu        tujuan tertentu. Pemahaman demikian berangkat dari        asumsi bahwa teknologi modern muncul dari rasionalitas        dan kemampuan logika manusia dalam mengadopsi        prinsip-prinsip pengetahuan ilmiah sains ke dalam        artifak teknologis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Pandangan instrumentalis di atas mungkin bisa diterima        dalam tingkat pragmatis, tapi tidak dalam tingkat        filosofis karena pandangan ini tidak cukup untuk        menjelaskan makna dan implikasi teknologi bagi manusia.        Lebih penting lagi, pandangan instrumentalis memiliki        kecenderungan untuk mendewakan teknologi dan        meletakkannya sebagai faktor penentu dalam perubahan        sosial dan simbol kemajuan peradaban manusia. Sikap ini        melahirkan pandangan determinisme teknologi yang        bersifat ideologis. Determinisme teknologi dalam        pandangan instrumentalis ini mesti dicermati karena dia        menafikan aspek moral dan etika dalam relasi antara        manusia dan teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Determinisme teknologi itu sendiri bukan hal yang baru.        Dalam catatan Merritt Roe Smith, paham determinisme        teknologi telah muncul sejak awal revolusi industri.        Gagasan ini memikat para pemikir era Pencerahan dan        semakin tumbuh subur di budaya masyarakat Amerika Utara        di mana semangat kemajuan melekat dengan kuat.        Determinisme teknologi berangkat dari satu asumsi bahwa        teknologi adalah kekuatan kunci dalam mengatur        masyarakat. Dalam paham ini struktur sosial dianggap        sebagai kondisi yang terbentuk oleh materialitas        teknologi. Paham ini begitu dominan dalam masyarakat        kontemporer, termasuk dalam lingkungan akademik.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Selama tiga dekade terakhir, para sarjana studi sosial        teknologi telah memberi respons kritis terhadap paham        determinisme teknologi. Dalam analisis Andrew Feenberg,        setidaknya dua premis dalam determinisme teknologi yang        bermasalah. Pertama adalah asumsi bahwa teknologi        berkembang secara unilinear dari konfigurasi sederhana        ke yang lebih kompleks. Kedua adalah asumsi bahwa        masyarakat harus tunduk kepada perubahan-perubahan yang        terjadi dalam dunia teknologi. Kedua premis tersebut        sulit diterima karena pola-pola teknologi itu sendiri        banyak dipengaruhi oleh kondisi sosial, kultural, dan        politik di mana teknologi itu berada.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kritik terhadap determinisme teknologi merupakan respons        terhadap implikasi politis ideologis yang dihasilkan        oleh paham ini. Ini terjadi karena determinisme        teknologi cenderung memaksakan suatu bentuk        universalitas struktur institusional teknologi ke dalam        masyarakat. Universalisasi institutional ini menjadi        media hegemoni modernitas. Seperti yang diwaspadai oleh        Rosalind Williams, determinisme teknologi memungkinkan        motivasi politis, ekonomi, dan ideologis para pemilik        modal masuk ke dalam sistem teknologi dan mengurangi        otoritas masyarakat dalam memilih arah teknologi. Bagi        David Noble, determinisme teknologi tidak hanya memberi        penjelasan yang tidak akurat tentang relasi antara        manusia dan teknologi, tetapi juga terlalu        menyederhanakan dan bahkan mematikan makna dalam        kehidupan manusia. Menurut Noble, pada satu sisi        determinisme teknologi menawarkan janji-janji        modernitas, tetapi di sisi lain memaksakan suatu bentuk        fatalisme.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Fenomenologi teknologi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Bagaimanakah relasi antara manusia dan teknologi        terjadi? Fenomenologi adalah kendaraan untuk mencari        jawabannya. Studi fenomenologi teknologi mengeksplorasi        pengalaman manusia dan secara spesifik menjelaskan        bagaimana struktur pengalaman yang bersifat multidimensi        tersebut tersusun. Setidaknya itu yang dilakukan Don        Ihde untuk memahami relasi antara manusia dan teknologi        secara komprehensif.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Berangkat dari eksistensialisme Heideggerian, Ihde        mengembangkan "ontologi relativistis" untuk memahami        keberadaan manusia dalam wilayah teknologi. Ontologi        relativistis bukan relativisme, melainkan lebih sebagai        media untuk menganalisis relasionalitas antara manusia        yang mengalami (human experiencer) dan wilayah yang        dialami (the field of experience). Analisis        relasionalitas ini dilakukan melalui dua kategori        persepsi, yakni persepsi mikro yang bersifat indrawi dan        persepsi makro yang bersifat kultural atau hermeneutik.        Bagi Ihde, kedua jenis persepsi ini saling terikat satu        sama lain. Persepsi mikro tidak pernah lepas dari        konteks persepsi makro. Sebaliknya, persepsi makro tidak        akan pernah ada tanpa dorongan persepsi mikro.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Melalui fenomenologi persepsi ini, Ihde menawarkan        konsep multistabilitas untuk menggali lebih dalam ke        wilayah kompleksitas budaya teknologi. Konsep        multistabilitas menekankan bahwa relasi antara manusia        dan teknologi tidak tunggal. Relasi ini dapat muncul        dalam berbagai bentuk walaupun dengan artefak teknologi        yang sama. Multistabilitas meletakkan teknologi tidak        dalam satu posisi hermeneutik, tapi dalam berbagai titik        relasi dengan manusia. Karena itu, teknologi bersifat        multi-interpretatif tergantung pada konteks kultural di        mana dia berada. Dengan kata lain, makna sebuah artefak        teknologi akan selalu berubah sesuai dengan masyarakat        yang memaknainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Bentukan sosial teknologi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Prinsip-prinsip dalam fenomenologi teknologi tidak        menjadi barang eksklusif dalam studi filsafat. Jika kita        menilik secara saksama, fenomenologi menjadi dasar        metodologi studi sosial teknologi, khususnya sosiologi        teknologi dalam memahami relasi antara teknologi dan        masyarakat. Bagi para sosiolog teknologi, teknologi        merupakan cermin dari proses imbal-balik yang kompleks        yang terjadi di masyarakat. Dalam perspektif ini,        berhasil atau gagalnya teknologi bukanlah hal yang        penting karena pada dasarnya teknologi adalah hasil        sebuah kompromi. Proses-proses sosial yang membentuk        teknologi adalah refleksi dari cara kita hidup dan        mengatur masyarakat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Selama dua dekade terakhir, sosiologi teknologi telah        membangun berbagai model sosial untuk menjelaskan        perkembangan teknologi dan mencari tahu apa dan        bagaimana faktor-faktor sosial bekerja dalam proses        tersebut. Salah satu konsep dalam sosiologi teknologi        saat ini adalah social construction of technology (SCOT)        dengan Wiebe Bijker dan Trevor Pinch sebagai pelopornya.        SCOT sendiri diilhami oleh sosiologi pengetahuan ilmiah        yang sangat kental dengan muatan konstruktivisme. Tidak        heran jika pendekatan konstruktivisme dalam studi sains        di impor ke dalam SCOT dan menjadi inti dari konsep ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Konsep SCOT bertujuan untuk memberi penjelasan        alternatif terhadap argumen deterministik para ahli        ekonomi teknologi, seperti Giovanni Dosi, Richard        Nelson, Christopher Freeman, dan kawan kawan. Menurut        para ahli ekonomi tersebut, teknologi berkembang        mengikuti suatu lajur tertentu dan lajur ini dapat        diprediksi atau setidaknya dapat diidentifikasi. Bagi        Bijker dan Pinch, tesis ini terlalu mengada-ada.        Perkembangan teknologi tidaklah otonom dan tidak melalui        suatu momentum yang bersifat inheren. Kita tidak bisa        membuat suatu aturan bagaimana teknologi harus        berkembang karena dia bergerak secara tidak pasti. Dia        sangat bergantung pada faktor-faktor sosial yang        kompleks. Jika suatu teknologi mengalami perubahan, hal        itu karena adanya kondisi eksternal yang mendorongnya        untuk berubah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Gagasan SCOT berpusat pada tesis bahwa perkembangan        teknologi dalam suatu sistem sosial melewati tiga fase        melalui interaksi kelompok sosial relevan yang memiliki        kepentingan dan memberi makna terhadap suatu artifak        teknologi. Pada fase pertama terjadi fleksibilitas        interpretatif di mana sejumlah kelompok sosial        menginterpretasikan suatu artefak teknologi secara        berbeda. Pada fase kedua terjadi proses stabilisasi        melalui interaksi antarkelompok sosial. Fase ini        diwarnai dengan konflik dan negosiasi antara kelompok        sosial yang berujung pada sebuah kompromi. Fase ketiga        tercapai setelah para kelompok sosial mencapai suatu        "persetujuan" akan makna dari artifak teknologi        tersebut. Pada fase ini desain dari artefak teknologi        menjadi stabil.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Secara empiris, SCOT telah banyak dipakai oleh peneliti        dalam memahami bagaimana suatu teknologi berkembang        menjadi seperti sekarang. Para peneliti sosial teknologi        menggunakan model SCOT untuk memahami perkembangan        berbagai teknologi, mulai dari yang sederhana, seperti        sepeda, bakelit, dan bola lampu, hingga yang kompleks,        seperti sistem elektrifikasi, peluru kendali, dan        Internet.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Lepas dari keberhasilan ini, SCOT menerima beberapa        kritikan. Langdon Winner mengkritik SCOT karena terlalu        apolitis dan tidak menghiraukan konsekuensi sosial dari        pilihan teknologi. Sementara itu, Hans Klein dan Daniel        Kleinman mengkritik SCOT karena kadar peran individu        yang terlalu besar sehingga cenderung menafikan struktur        sosial dalam analisisnya. Karena itu, tidak heran jika        SCOT gagal menjelaskan peran kondisi struktural dalam        perkembangan teknologi. Satu poin yang paling penting        dari kritik Klein dan Kleinman adalah SCOT mengabaikan        satu hal yang sangat krusial dalam proses pengembangan        teknologi, yakni faktor kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Kekuasaan dalam konfigurasi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Relasi kekuasaan dan teknologi adalah sebuah tema besar        dalam studi sosial teknologi. Setidaknya tiga kasus        menarik bisa kita amati dalam domain ini untuk melihat        bagaimana kekuasaan dan teknologi saling bereproduksi        satu sama lain.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kasus pertama adalah analisis Langdon Winner tentang        jembatan di Long Island, New York, yang ditulis dalam        artikelnya Do Artifacts Have Politics? Di sepanjang        jalan bebas hambatan di Long Island terdapat sekitar        puluhan jembatan penyeberangan. Selintas tidak ada hal        yang istimewa dari jembatan-jembatan tersebut. Tetapi,        jika diamati dengan saksama, proporsi jembatan tersebut        tidaklah "normal". Tinggi jembatan tersebut hanya        sekitar 2,7 meter sehingga hanya mobil sedan yang dapat        lewat di bawahnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Menurut Winner, keganjilan desain tersebut bukanlah        karena alasan-alasan teknis, misalnya efisiensi material        atau efektivitas sistem konstruksi. Jembatan-jembatan        tersebut di desain dan dibangun dengan konfigurasi        demikian untuk menghasilkan suatu dampak sosial        tertentu. Ini dilakukan dengan sengaja oleh        pendesainnya, yakni Robert Moses, seorang tokoh sentral        dalam pembangunan kota New York di awal abad ke-20.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dari investigasinya, Winner menemukan suatu agenda        rasialis dan diskriminatif di balik desain jembatan Long        Island. Jembatan-jembatan tersebut dibangun sesuai        dengan spesifikasi yang diberikan oleh Moses untuk        menghalangi masuknya bis ke wilayah tersebut. Hal ini        untuk membatasi akses kaum kelas bawah kulit hitam dan        hispanik yang biasanya menggunakan bis umum menuju ke        Jones Beach, sebuah pantai cantik berpasir putih di        sebelah timur Long Island.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kasus menarik lain datang dari studi David Noble tentang        desain mesin kontrol numerik. Mesin kontrol numerik        adalah sistem otomasi yang digunakan dalam membuat alat        produksi barang manufaktur. Teknologi in pertama kali        dikembangkan oleh William Pease dan James McDonough dari        MIT pada tahun 1940-an. Melalui mesin ini, proses        pembuatan alat dilakukan melalui proses numerik secara        otomatis dengan tingkat kecepatan dan kepresisian yang        tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sebelum mesin kontrol numerik muncul, proses pembuatan        alat menggunakan suatu jenis teknologi yang disebut        record playback. Perbedaan mendasar antara mesin kontrol        numerik dan record playback terdapat pada aspek        pengontrolan manusia. Pada record playback, walaupun        terjadi proses otomasi berupa pengulangan gerakan mesin,        keberadaan seorang teknisi pada proses awal sangat        mutlak karena di sinilah sumber keterampilan yang        direkam oleh mesin. Dalam mesin kontrol numerik, peran        dari teknisi dihilangkan dan diganti dengan suatu sistem        representasi matematis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Walaupun mesin kontrol numerik jelas superior dalam        faktor teknis ekonomis, hal ini tidak dapat menjelaskan        sepenuhnya mengapa record playback tersingkir oleh mesin        tersebut. Dalam analisis Noble, terdapat suatu motivasi        untuk menghilangkan peran manusia dalam proses produksi        karena manusia dianggap sebagai sumber kesalahan dan        ketidakpastian. Di sini rekayasa teknik digunakan        pemilik modal untuk mengurangi ketergantungan mereka        terhadap pekerja melalui peningkatan kontrol mereka atas        sistem produksi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sekarang mari kita memutar balik jarum jam kembali ke        abad delapan belas di mana hidup seorang filsuf Inggris        bernama Jeremy Bentham. Bentham lahir di London dan        menyelesaikan studi hukum di Queen’s College, Oxford.        Pada tahun 1791, Bentham membuat usulan "aneh" yakni        sebuah desain gedung penjara yang diberi nama Panopticon        yang berarti "melihat semuanya".&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Panopticon terdiri dari sel-sel yang disusun secara        melingkar dengan pintu sel menghadap ke dalam inti        lingkaran tersebut. Dinding antarsel dibuat tebal agar        komunikasi antarpenghuni sel tidak terjadi. Di bagian        belakang sel dipasang jendela kecil agar cahaya dapat        masuk menerangi isi sel. Di pusat lingkaran sel-sel        tersebut dibangun sebuah menara pengawas dengan jendela        penutup. Dengan konfigurasi seperti ini, si penjaga        dapat melihat semua penghuni sel sementara penghuni sel        tidak dapat melihat si penjaga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Michel Foucault melihat Panopticon sebagai suatu model        kontrol yang unik, suatu metode kontrol yang tidak lagi        menggunakan dominasi fisik terhadap raga, tetapi melalui        isolasi dan observasi yang kontinu. Efek signifikan dari        Panopticon adalah penginduksian tingkat visibilitas yang        secara sadar dan permanen dilakukan untuk memastikan        berfungsinya kekuasaan. Panopticon adalah sebuah mesin        yang berfungsi untuk menciptakan sekaligus melestarikan        suatu relasi kekuasaan yang lepas dari pihak yang        melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Secara materialistis, jembatan Long Island, mesin        kontrol numerik, dan penjara Panopticon adalah        artefak-artefak yang terdiri dari elemen-elemen yang        netral. Namun, ketika elemen-elemen ini membentuk suatu        konfigurasi, dengan serta-merta netralitas tersebut        sirna. Dengan konfigurasi tertentu, artefak teknologi        berubah menjadi media hegemoni, dominasi, dan kontrol        untuk memenuhi kepentingan sang pencipta konfigurasi        tersebut. Dari perspektif ini kita bisa melihat tiga        artefak di atas sebagai refleksi dari relasi manusia dan        teknologi melalui kekuasaan yang meliputi tiga tujuan.        Pada kasus jembatan Long Island, teknologi berfungsi        sebagai media praktik kekuasaan. Pada kasus mesin        kontrol numerik, teknologi menjadi alat untuk        melanggengkan kekuasaan. Adapun pada kasus penjara        Panopticon, teknologi berfungsi untuk memproduksi        kekuasaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Budaya dan teknologi&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kekuasaan tidak lahir dari kondisi vakum. Dia muncul        dari suatu konsteks budaya tertentu sehingga kekuasaan        selalu bersifat kontekstual dan lokal. Karena itu,        seperti yang dikatakan Bryan Pfaffenberger, penjelasan        praktik kekuasaan dalam teknologi tidak akan pernah        memuaskan jika kesadaran tentang sistem budaya diabaikan.        Pfaffenberger berargumen bahwa fungsi politis dari suatu        teknologi baru dapat tercapai jika teknologi tersebut        dibungkus dalam mitos dan ritual dan menjadi alat        kontrol produksi dan resepsi makna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Argumen Pfaffenberger didukung oleh David Hess melalui        konsep relasi kekuasaan dan budaya. Hess menggunakan        konsep ini untuk memahami kompleksitas operasi kekuasaan        di masyarakat. Menurut Hess, tanpa adanya perspektif        budaya, analisis kekuasaan akan menjadi tumpul dan hanya        hanya terfokus pada sejumlah kategori sosial yang        terbatas. Hasilnya adalah pengamatan dimensi kekuasaan        yang sempit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Mendekati kekuasaan melalui budaya dalam teknologi        mengantarkan kita ke konsep konstruksi budaya.        Konstruksi budaya tersusun melalui proses        interpretasi-reinterpretasi dan produksi-reproduksi        simbol, identitas, dan makna di dalam masyarakat. Aliran        dari keluaran proses ini lalu ditransformasikan ke dalam        artefak teknologi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Dalam kerangka konstruksi budaya ini, pengembangan        teknologi menyerupai apa yang disebut Claude        Levi-Strauss sebagai bricolage. Bricolage adalah        aktivitas penggabungan elemen-elemen yang ada untuk        memenuhi suatu tuntutan lingkungan. Menurut Hess,        teknologi modern tidak berbeda jauh dengan prinsip        bricolage di mana interpretasi budaya membentuk versi        teknologi di masyarakat. Dalam pola ini, seorang        praktisi teknologi adalah seorang bricoleur. Dia        menghasilkan suatu teknologi baru melalui rekonstruksi        elemen-elemen yang sudah ada untuk dibentuk menjadi        suatu teknologi "baru" dalam konteks budaya di mana dia        berada. Dalam kata lain, orisinalitas teknologi        ditentukan oleh konsep makna yang digunakan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Pada tingkat praksis, konsep konstruksi budaya dalam        teknologi tidak hanya untuk memahami lebih mendalam        bagaimana teknologi berinteraksi dengan makna, ritual,        dan nilai. Oleh Linda Layne, konstruksi budaya dapat        dijadikan "tool" untuk membuat teknologi lebih manusiawi        dan dapat diterima dengan baik di masyarakat. Di sini        Layne menawarkan apa yang dia sebut sebagai "cultural        fix" di mana nilai-nilai budaya di adopsi ke dalam        konfigurasi teknologi. Hal ini dapat dilakukan melalui        pemahaman makna dalam masyarakat untuk mengidentifikasi        kesenjangan antara teknologi dan masyarakat dan mencari        solusinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       &lt;strong&gt;Ketika kotak itu terbuka&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Kompleksitas teknologi modern telah melampaui batas        dimensi indrawi manusia dalam mencerna. Kondisi ini        membentuk sikap "taken for granted" dalam masyarakat        kontemporer terhadap teknologi, suatu sikap yang        menerima teknologi dengan mata tertutup. Tragisnya,        sikap ini secara perlahan menggali jurang dalam yang        dapat menjebloskan manusia ke dalam bencana kemanusiaan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Namun demikian, kita tidak perlu menjadi paranoid dan        bersikap antiteknologi. Alasan untuk menolak sikap ini        jelas karena manusia tidak akan pernah lepas dari        teknologi. Yang dibutuhkan adalah suatu tingkat        pemahaman teknologi yang lebih mendalam. Pada tingkat        ini, teknologi tidak lagi dilihat pada aspek        materialitasnya yang sering bersifat ilusif melainkan        sebagai suatu bentuk upaya penyingkapan daya yang        tersembunyi di alam seperti yang dilontarkan Martin        Heidegger. Penyingkapan ini bagai pedang bermata dua.        Dia mengantarkan manusia kepada bentuk "kebenaran"        tentang potensi-potensi yang tersembunyi di alam. Di        sisi lain dia memancing nafsu dan keserakahan manusia        untuk terus melakukan dominasi dan kontrol terhadap alam.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Pemahaman teknologi secara esensial melalui dimensi        sosial, politik, dan kultural menyediakan tangga bagi        kita untuk naik dan menggapai kotak hitam teknologi yang        selama ini kita letakkan di atas kesadaran kemanusiaan        kita. Pemahaman esensi teknologi ini juga menjadi kunci        untuk membuka kotak hitam tersebut. Dan ketika kotak itu        terbuka kita bisa melihat sebuah cermin yang terpasang        rapi di dalam kotak itu. Cermin yang menunjukkan wajah        kita sendiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:78%;"&gt;       &lt;strong&gt;Sulfikar Amir&lt;/strong&gt; &lt;em&gt;Mahasiswa Program        Doktor Dept Science and Technology Studies Rensselaer        Polytechnic Institute di Troy, New York, Amerika Serikat&lt;/em&gt;        ( &lt;a href="mailto:amirs3@rpi.edu"&gt;amirs3@rpi.edu&lt;/a&gt; )&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;Kompas        Cyber Media&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-1756277569370458108?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/1756277569370458108/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=1756277569370458108' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/1756277569370458108'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/1756277569370458108'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/membuka-kotak-hitam-teknologi.html' title='Membuka Kotak Hitam Teknologi'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-608516493319326014</id><published>2008-11-15T20:23:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:25:09.640+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Perlunya Reorientasi Sosiologi di Indonesia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;h1 style="margin: 0pt 0pt 20px; text-indent: 0cm; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;I. PENDAHULUAN &lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Apabila Sosiologi difahami        sebagai ilmu sosial yang paling komprehensif dan dapat        menarik generasasi paling luas, karena mempelajari dan        menemukan hubungan antara pelaku sosial yang berkelompok,        maka Sosiologi dapat seakan-akan memanyungi ilmu-ilmu        sosial lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam ranah ilmu Ekonomi        telah dikembangkan falsafah dasar mengenai penguasaan,        pemanfaatan/eksploatasi dengan tujuan produksi dan        konsumsi sumberdaya, baik alam maupun manusia, menurut        perinsip kegunaan (utilitarianisme). Karena itu Ekonomi        modern, menyimpang dari falsafah semasa ekonomi klasik        A. Smith, mengabstraksikan dimensi keadilan dan        pemerataan (Gouldner, 1973). Itu pula yang mendekatkan        sifat ekonomi ke ilmu alam diera neo-klasik. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Bersebrangan dengan itu        Ethnologi memusatkan studi deskriptifnya pada budaya        kelompok-kelompok ethnis, terutama yang berada dalam        tahap perkembangan pra-sejarah dan / atau pra-aksara.        Ilmu Antroophologi yang sudah mulai menjembatani dua        ranah tersebut dengan mempelajari, baik aspek manusia        sebagai organisme (&lt;i&gt;Physical Antrhopology&lt;/i&gt;) maupun        perilaku dalam lingkungan kebudayaan (&lt;i&gt;Ethology        Cultural/Social Antrhopology&lt;/i&gt;). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Ilmu politik memusatkan        perhatian pada hubungan dan interaksi yang berkaitan        dengan pembagian dan pertukaran kekuasaan (=&lt;i&gt;power&lt;/i&gt;).        Sejarah menjadi sangat relevant dalam menekuni Sosiologi        karena menunjukkan kecenderungan (&lt;i&gt;trends&lt;/i&gt;) dan        membuka peluang, baik untuk memahami proses perubahan,        bertahap atau sebagai loncatan, maupun membuka peluang        untuk membanding gejala sosial/ kemasyarakatan. Beberapa        cabang kelompok ilmu lain yang sering di acu sebagai        kelompok Humaniora seperti Hukum, Pendidikan dan        komunikasi pun menunjang dan memberi pengetahuan sangat        berharga untuk sosiologi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam zaman penjajahan        Belanda masyarkat Indonesia yang belum dipersepsikan        sebagai satu kesatuan, lebih dipelajari dari sudut        pandang Ethnologi dan Antropologi budaya. Berkaitan        dengan itu juga Hukum Adat sangat diminati baik oleh        sarjana Belanda maupun Indonesia, dan banyak diantara        mereka bergelar Sarjana Hukum. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Mungkin minat tersebut juga        merupakan kebutuhan pemerintah Hindia Belanda yang ingin        menghayati sifat dan tata kehidupan terutama suku-suku        bangsa yang berperan di Nusantara. Nama-nama besar        seperti Krom, Veth, dan Snouch Hurgronje boleh dikatakan        perintis ilmu-ilmu sosial ini di Indonesia sejak akhir        abad ke-19 sampai awal abad ke-20. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sejak tahun 1920-an        timbullah minat sarjana-sarjana Belanda untuk memahami        masyarakat lebih luas, karena gejala-gejala sosial yang        disoroti tidak terbatas pada lingkungan suku bangsa atau        group ethnis. Di antaranya adalah B. Schrieke        (1890-1945) yang menulis karangan-karangan ethnografis        dan sejarah, sehingga gabungan kedua konteks itu        bercorak Sosiologi. Salah satu variabel yang jelas        mencerminkan ilmu Sosiologi yang menjadi garapan        Schrieke adalah &lt;i&gt;Akulturasi&lt;/i&gt;. Misalnya Shcrieke        mengulas “Pergeseran kekuasaan Politik dan Ekonomi di        Nusantara antara abad ke 16 sampai abad ke-17”. Satu        sebab mengapa Schrieke kurang dikenal dan tulisannya        kurang dibaca ialah karena beliau menulis dalam bahasa        Belanda. Baru setelah tahun 1955 beredarlah kumpulan        karangan Schrieke yang diterjemahkan kedalam bahasa        Inggris (2 jilid. 1955). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Tokoh Belanda lain yang        melalui karangan sejarah melukiskan mayarakat Indonesia        adalah J.C. van Leur (1934-1942). Jelas konteks makronya        tercermin dari judul-judul karangan seperti a.l. &lt;i&gt;       Indonesian Trade and Society.&lt;/i&gt; Seorang Sarjana Hukum        lain yang dikenal dan menulis tentang Indonesia masa        kini (kontemporer), bahkan juga meletakkan Indonesia        dalam konteks lebih luas lagi adalah Prof. W.F. Wertheim        (1899-2001) yang pernah mengajar di Rechts Hogeschool di        Jakarta (1936) dan menjadi guru besar tamu di Fakultas&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Pertanian, UI (Bogor) 1957. Karena Wertheim        mengalami pendudukan Jepang di Indonesia dan sempat        mengamati kebangkitan Nasional Indonesia pula, beliau,        dapat merekam perubahan sosial dalam bukunya “Indonesia        Society in Transition” dari daerah jajahah menjadi        Republik yang berdaulat.   &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;        &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;II.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;PERKEMBANGAN TEORI SOSIOLOGI &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sarjana-sarjana Belanda yang        meminati Sosiologi dahulu banyak bergelar Sarjana Hukum,        dan aspek-aspek Sosiologi juga diajarkan di Fakultas        Hukum, mungkin warisan dari periode&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;       mempelajari Hukum Adat yang masih diminati. Ini sebabnya        mengapa baik di Universitas Indonesia dan di Universitas        Gadjah Mada dosen-dosen Indonesia banyak bergelar SH.        Seperti misalnya Soelaeman Soemardi, Soekanto,        Soetandiyo Wignyo Soebroto, Satjipto Raharjo dan        lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pengaruh sosiologi Eropa        memang juga menggali dan dari pemikir-pemikir falsafah        a.l. Bapak Sosiologi August Comte (1798-1857).        Pendekatan yang agak ethno-Antropologis tercermin juga        dalam buku E. Durkheim tentang agama, tetapi buku-buku        lain seperti mengenai “Pembagian Kerja” (1966) dan        “Bunuh Diri” sudah jelas dikarang dalam konteks makro        sosiologi. Memang penyebaran theori-theori klasik        Sosiologi di Indonesia tidak terlalu luas, nama-nama        seperti P. Sorokin, M. Weber, Znaniecki, Marx, Von        Wiese, G. Simmel, T. Shanin dan banyak lagi kurang        mengisi bahan kuliah para dosen. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sejak pertengahan 1950-an        Indonesia mulai mengirimkan mahasiswa untuk berbagai        ilmu sosial keluar negeri, tetapi ada kecenderungan        lebih banyak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ke Amerika Serikat        daripada ke Eropa. Antara lain Soedjito Djojohardjo        dikirim ke Inggris, tetapi lebih banyak lagi yang        belajar di Amerika dan menghasilkan thesis Ph.D. seperti        Prof. Selo Soemardjan, Mely Tan APU, Prof. Hasyah        Bachtiar (hanya sebentar di Universitas Amsterdam        sebelum ke Harvad) dan lain-lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Perlu dipahami bahwa        pengembangan dan perkembangan theori yang digubah pakar        Sosiologi tidak terlepas dari kejadian-kejadian besar        dalam masyarakat dan pengaruh-pengaruhnya kepada pemikir        / ilmuwan yang kemudian menerima sejumlah assumsi yang        mendasari theori. Demikian keperluan pemerintah jajahan        di Hindia Belanda mendorong ilmuwan menelusuri adat        kebiasaan suku-suku bangsa di Nusantara. Pengertian yang        diperoleh mengarahkan kebijaksanaan sedemikian rupa        sehingga mereka yang dijajah tidak menimbulkan penolakan        atau pembangkangan yang terlalu kuat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dalam masa 1800-1825,        dibawah pengaruh tumbuhnya kaum borjuis di Eropa dan        awal industrialisasi yang menimbulkan / menyuburkan        “budaya utilitarianisme” sosiologi seakan-akan hanya        mempelajari gejala-gejala yang tersisa (&lt;i&gt;unfinished        business&lt;/i&gt;) dalam perjalanan revolusi industri. A.        Gouldner (1973:92) mendeskripsikannya dalam kalimat        “Sociology made the &lt;i&gt;residual&lt;/i&gt;, Social, Element its        sphere”. Jadi ranah sosiologi seakan-akan dipisah dari        perkembangan ekonomi dan teknologi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Baru sekitar pertengahan        abad ke-19 sosiologi, ekonomi dan politik (Marx, 1848)        mulai difahami sebagai bidang-bidang ilmu yang saling        terjalin. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;i&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;“Sociology thus remains        concerned with society as a “whole” as some kind of        totality, but it now regards itself as responsible only        for one dimension of this totality. Society has been        parceled out analytically (Tj. Only) among the various        social sciences. From this analytic standpoint,        sociology is indeed, concerned with social systems or        society as a “whole”, but only as it is a social whole”.        (Gouldner, 1973:94) &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0pt 0pt 20px; text-indent: 0cm; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Theori dalam ilmu sosial pun        mencari keteraturan perilaku manusia serta pemahaman dan        sikap yang mendasarinya. Karena keadaan masyarakat yang        berubah-ubah, pemahaman, sikap dan perilaku warga /        pelaku social pun dapat berubah. Memang perubahaan        sosial bisa bersifat makro, tetapi juga bisa lebih mikro        mencakup kelompok-kelompok masyarakat yang relatif lebih        kecil dari satu bangsa, atau kumpulan bangsa-bangsa.        Theori juga mengandung sifat universalitas, artinya        dapat berlaku di lain masyarakat yang mana saja,        walaupun sering dibedakan atara Grand Theory dan theori        yang cakupannya tidak seluas itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Theori August Comte, Karl        Marx dan beberapa theory Max Weber dapat digolongkan ke        Grand Theory, sedangkan theori Parson relatif mikro        karena melepaskan diri dari kerangka sejarah dan        memfokuskan analisnya pada sistem sosial dan struktur,        lebih khusus dalam masyarakat Amerika Serikat. &lt;/span&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Seorang ahli Sosiologi Alwin        Gouldner (1971) yang bersifat kritis dan menulis buku        berjudul &lt;i&gt;“The Coming Crisis of Western Sociology”&lt;/i&gt;        mengungkapkan bahwa Talcott Parsons menghasilkan        “Academic Sosiology” dimasa Amerika Serikat mengalami        krisis ekonomi yang dahsyat (1930), bahkan aliran        tersebut kemudian mempengaruhi di luar A.S. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Parsons juga mencoba mencari        penyelesaian lebih prgamatis dalam zamannya yang        pemikirannya membuahkan theori &lt;i&gt;“Social System”&lt;/i&gt;.        Ini sebanya theori tesebut juga mempengaruhi pengajaran        dan pemahaman sosiologi, yang waktu tahun 1930-an        menarik banyak penganut pakar Sosiolog di luar AS.        Bahkan sedemikian rupa sehingga menggusur theori-theori        sosiologi dalam tradisi Eropa, seperti Max Weber, Karl        Mannheim dan lain-lain yang tidak mengesampingkan        dimensi falsafah dan sejarah. Jadi boleh dikatakan        sosiologi Meso timbul dengan theori Parsons, tetapi        dengan mengorbankan faktor “&lt;i&gt;dinamika&lt;/i&gt;” (perubahan        sosial makro yang ciri Sosiologi Eropa) dengan        mengunggulkan “&lt;i&gt;Struktur dan Fungsi&lt;/i&gt;”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Akibat pengaruh Amerika        Serikat sebagai negara adidaya setelah 1950 yang terus        meluas setelah perang dunia kedua, theori Sosiologi        dinegara berkembang pun terpengaruhi, karena menekuni        masalah yang tidak melampaui batas “&lt;i&gt;nation state&lt;/i&gt;”.        Negara-negara baru dengan kesadaran nasional yang tinggi        ingin mengatur struktur kelembagaan dalam masyarakat        masing-masing. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Sekarang di Indonesia mulai        terasa adanya dilemma, karena “&lt;i&gt;nation state&lt;/i&gt;”        belum mantap sudah timbul Globalisasi yang pasti merubah        pengelompokan dan perilaku-perilaku sosial yang lebih        universal. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; text-indent: 0cm; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;        &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; text-indent: 0cm; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;III.&lt;span style="font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;REORIENTASI SOSIOLOGI INDONESIA &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Baik lahirnya “&lt;i&gt;nation        state&lt;/i&gt;” Indonesia di pertengahan abad ke-20 dan        pembangunan nasional yang digalakkan selama periode        pemerintahan Orde Baru merangsang tumbuhnya theori        struktur dan fungsi Parsons. Bukan saja pragmatik (non-dinamika)        yang dipentingkan karena tujuannya adalah pertumbuhan        ekonomi, tetapi juga kurang mengulas perubahan sosial        dan konflik. Perubahan struktur sosial yang sebenarnya        di Indonesia akan dimulai tahun 1960 dengan mengatur        agraria, berhenti tetapi itu (1965) dan kemudian        andalannya adalah menumbuhkan klas menengah. Sering        dikatakan bahwa klas menengah merupakan prasyarat untuk        pertumbuhan demokrasi maupun ekonomi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Dialektika dalam masyarakat        yang mengandung potensi konflik , antara sentralisme        politik dan arus kebebasan generasi muda yang tertekan,        meletus waktu krisis 1997 dan Reformasi 1998 sampai        menggoncangkan sendi-sendi masyarakat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Gejala-gejala yang        sebelumnya latent, sekarang menjadi perhatian Rakyat,        dan aneka elite menjadi faktor yang penting dalam usaha        mecapai konsensus nasional baru. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Mengingat hal-hal tersebut        diatas, terasa bahwa buku P. Sorokin (1928) &lt;i&gt;       “Contemporary Sociological Theories”&lt;/i&gt; sudah diperluas        dengan theori-theori yang sudah lebih mengintegrasikan        beberapa cabang ilmu-ilmu sosial. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pertautan antara aspek-aspek        psikologi misalnya dapat ditemukan dalam buku R.        Presthus (1962) dan D. Riesman dkk. (1961). &lt;/span&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(128, 128, 0);"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#ffffff;"&gt;[1] &lt;/span&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;K. Boulding (1962)&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;seorang guru besar ekonomi menambahkan teori        konflik dan memperkaya theori klasik terdahulu (Marx,        Simel, Coser). &lt;/span&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(128, 128, 0);"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#ffffff;"&gt;[2]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Erat pula kaitannya dengan        gejala-gejala yang kita alami sejak Reformasi 1998        adalah buku-buku C. Wright MILLS (2959 dan 1963). &lt;/span&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(128, 128, 0);"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#ffffff;"&gt;[3]&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(128, 128, 0);"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;color:#ffffff;"&gt;[&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="background-color: rgb(255, 232, 255);"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;1]        Roberth Presthus (1962). “ The Organizational Society;        An Analysis and a Theory” New York, random House. &lt;br /&gt;      David RIESMAN, dkk. (1961) “The Lonely Crowd.” New        Haven, Yale University Press &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(255, 232, 255);"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;[2] Kenneth BOULDING (1962).        “ Conflict and Defensel; A General Theory”. New York,        Harper Torchbooks. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(255, 232, 255);"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;[3] C. Wright Mills (1959).        “The Power Elite”. New York, Oxford Univ. Press.&lt;br /&gt;      ________ (1963). “Power Politics and People.” London,        Oxford Univ. Press. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Analisa-analisa pakar-pakar        tersebut diatas menunjukkan pentingnya dinamika sosial        dalam masyarakat modern yang lebih memperkaya imajinasi        sosiologi kita. Jadi di Amerika Serikat setelah T.        Parsons timbul mazhab-mazhab Sosiologi muda yang lebih        memahami pentingnya gejala perubahan dan konflik sosial,        yang pada hemat penulis lebih merupakan warisan dari        tradisi Sosiologi Eropa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Ini dibenarkan oleh a.        Gouldner yang menulis dan menyimpulkan bahwa &lt;i&gt;       “Academic Sociology&lt;/i&gt; semakin terjalin dengan analisa        K. Marx, sehingga di Amerika misalnya menimbulkan        gerakan &lt;i&gt;“New Left”&lt;/i&gt; menentang &lt;i&gt;Establishment&lt;/i&gt;        atau di Eropa (Jerman) “Tentara Merah” dengan tokoh muda        Beader Meinhof. Mungkin P.R.D di Indonesia dapat        diketegorikan dalam pemberontakan generasi muda seperti        itu, yang sudah jenuh dengan elite Orde Baru di Jepang        pun ada gerakan-gerakan serupa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Pemberontakan menentang        tradisi dan pemikiran generasi &lt;i&gt;“arrive”&lt;/i&gt; yang        kolot oleh generasi muda selalu akan timbul dalam        masyarakat manusia sebagai terjadi tahun 1945, sebentar        di tahun 1965 dan dewasa ini sejak tahun 1998. Dalam&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;arti yang lebih murni memang paradigma yang umum        dianut sarjana Sosiologi di Indonesia perlu dirubah.        Kalau di Zaman Orde Baru sukar untuk menganalisa secara        terbuka gejala &lt;i&gt;stratifikasi sosial dan konflik antara        Klas&lt;/i&gt;, sekarang sudah lebih bisa diterima, karena        memang gejalanya sudah ada sejak zaman penjajahan        sekalipun. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Struktur feodal memang        berlapis-lapis dan eksploatasi jelas sudah ada. Jadi        perlu reorientasi sosiologi untuk banyak ilmuwan        Sosiologi dan cedekiawan yang memperhatikan perkembangan        kebudayaan karena keadaan sudah berubah. Tantangan bukan        hanya ada di dalam negeri, tetapi sekaligus juga dalam        hubungan kita dengan negara dan bangsa, bukan saja yang        geografis menjadi tetangga kita, tetapi juga dengan        negara-negara sebenua, bahkan di benua lain. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Satuan pelaku sosial bukan        saja lagi &lt;i&gt;“nation state”&lt;/i&gt; tetapi komunitas negara        atau bangsa yang sudah melintasi batas nation-state.        Mazhab-mazhab agama menjadi salah satu ilustrasi jelas,        tetapi juga “pendukung pelestarian alam dan lingkungan,        serta perjuangan untuk “Hak Azasi Manusia” dan “Gender”        dapat segera difahami sebagai komunitas besar yang        menjadi ciri pengelompokan Global. Sosiologi tidak dapat        lagi bertahan dengan membatasi diri dengan mempelajari        “residual social elements seperti pernah digagas oleh        cendekiawan Prancis Saint Simon di awal abad ke-19.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;Inilah sebabnya mengapa        perlu ada reorientasi Sosiologi di Indonesia; bukan        ekonomi lagi yang akan bertahan sebagai “&lt;i&gt;The Queen of        The Social Sciences&lt;/i&gt;”, tetapi sosiologi yang mengulur        tangan kepada cabang-cabang ilmu Sosial lain dan        Humaniora untuk menganalisa dan memecahkan masalah        kemasyarakatan secara terpadu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       &lt;span style="font-family: Arial;"&gt;Prof. Dr. Sediono MP        Tjondronegoro, Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI)        Pusat, 1999 - 2003.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;       &lt;span style="background-color: rgb(255, 232, 255);"&gt;Makalah        disampaikan pada Seminar Nasional “Menggalang Masyarakat        Indonesia Baru yang Berkemanusiaan”. Diselenggarakan        oleh Ikatan Sosiologi Indonesia, tanggal 28 Agustus 2002        di Bogor. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;SUMBER ACUAN &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;BOUMAN, P.J. (1976).        Sosiologi, Pengertian dan masalah. Yogyakarta, Penerbit&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;Yayasan Kanisius. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;COSER, L. (1964). The        Function of Social Conflict. New York, The Free Press.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;DURKHEIM, E. (1966). The        Division of Labour (Translation). New York, The Free        Press. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;_____________ (1962).        Socialism. London, Colliers Books &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;GOULDNER, Alvin W. (1973).        The Coming Crisis of Western Sociology. London, Heineman       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;HINDESS, Barry (ed. 1977).        Sociological theories of the Economy. London, the Mac        Millan Press. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;KAZACIGIL, Ali (ed. 1994).        Sociology: State of the Art I. International Social        Sciences Journal, February 1994:139. Paris, Blackwell        Publ. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;MARX, K. (1956). Selected        Writings in Sociology and Social Philosophy.        (Translation by T.B. Bottomore). New York, Mc Graw-Hill        Books. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;MARTINELLI, alberto (2002).        “Markets, Government and Global Governance”.        Presidential address, ISA XV Congress, Brisbane 2002       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;MILLS, C, Wright (1961). The        Sociological Imagination. New York, Grove Press, Inc.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;MUDIM BE, V.Y. (ed. Dkk,        1996). Open the Social Sciences. Refort of the        Guilbenkian Commission of the Gulbenkian Commission on        the Restructuring of the Social Science. Stanford,        Stanford Univ. Press. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;PARSONS, Talcot (1951). The        Social System; The Major Exposition of the Author’s        Conceptual Scheme. New York, Free Press. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;SIMMEL, G. (1955). Conflict        and the Web of Group Affixations. New York, The Free        Press. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;____________ (1950). The        sociology of George Simmel. New York, The Free Press of        Glencol &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;SIMONDS, A.P. (1978). Karl        Mennheim’s Sociology of Knowledge. Oxford, Clarendom        Press &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;SOROKIN, P.A. (1928).        Contemporary Sociological Theories; through the First        Quarter of the 20&lt;sup&gt;th&lt;/sup&gt; Century. New York, Harper        Torchbooks. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;STEINER, Philippe (2001).        “The Sociology of Economic Knowledge”. The Return of        Economic Sociology in Europe (a. Symposium) dalam        European Journal of Social Theory 4 (4). London, Sage        Publications &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;WEBER, M. (1964). The Theory        of Sociology Imagination. New York, Grove Press, Inc.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0pt 0pt 20px; line-height: 100%; word-spacing: 0pt; text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-family:Arial;font-size:78%;"&gt;WERTHEIM, W.F. et.al. (ed.s        1955-1957). Indonesian Sociological Studies; Selected        Writings of B. Schrieke (2 parts). The Haque, W. van        Hoeve.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber: &lt;/span&gt;&lt;b&gt;       &lt;a href="http://www.ekonomirakyat.org/"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;       Jurnal Ekonomi Rakya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2838357249048189826-608516493319326014?l=kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/feeds/608516493319326014/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2838357249048189826&amp;postID=608516493319326014' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/608516493319326014'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2838357249048189826/posts/default/608516493319326014'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kumpulan-tugas-makalah.blogspot.com/2008/11/perlunya-reorientasi-sosiologi-di.html' title='Perlunya Reorientasi Sosiologi di Indonesia'/><author><name>Nova</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='30' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_wEuzXXY9-fI/SN714wJwYOI/AAAAAAAAACw/nVzbskkkHxQ/S220/rhino.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2838357249048189826.post-3621488780427901557</id><published>2008-11-15T20:21:00.000+07:00</published><updated>2008-11-15T20:23:23.103+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosiologi'/><title type='text'>Ilmu Jaringan: Ketika Fisika dan Sosiologi Bertemu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       HAL yang menarik dari ilmu jaringan adalah ia        mempelajari hal-hal yang terjadi di seputar kita.        Bagaimana krisis moneter 1997 dapat menyebar hampir ke        seluruh Asia? Bagaimana gerakan mahasiswa 1998 berhasil        menumbangkan pemerintahan, tetapi gagal di waktu lain?        Bagaimana perselisihan antardua orang dapat bereskalasi        menjadi sebuah konflik regional? Bagaimana penyakit        menular menyebar menjadi epidemik? Bagaimana ide atau        tren budaya menyebar?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       MESKIPUN pertanyaan- pertanyaan di atas tampak        berbeda-beda, sebenarnya itu semua adalah variasi dari        satu pertanyaan: bagaimana perilaku individu berkumpul        (aggregate) menjadi perilaku kolektif? Masalah ini kita        sebut sebagai masalah agregasi yang merupakan salah satu        masalah paling besar dan mendasar dalam seluruh ilmu.        Sebagai contoh, otak manusia bisa dikatakan hanya        sebagai kumpulan miliaran sel saraf yang saling        terhubungkan membentuk jaringan elektrokimia. Tapi bagi        kita yang memilikinya tentu otak lebih dari itu, ia juga        memiliki kesadaran, ingatan, kepribadian yang tidak bisa        dijelaskan jika kita menganggap otak hanya sebagai        kumpulan sel saraf.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Selama lebih dari 300 tahun ilmu modern telah berhasil        menjelaskan banyak fenomena alam dengan cara        mereduksinya menjadi bagian-bagian terkecil yang        dianggap fundamental. Di sini diasumsikan jika kita        mengerti komponen paling dasar dari sistem, maka secara        prinsip kita dapat mengerti perilaku sistem. Cara        berpikir seperti ini dapat ditemukan di banyak cabang        ilmu terutama fisika. Ini bukanlah cara berpikir yang        tepat untuk mengatasi banyak masalah modern. Pemenang        Nobel Fisika Philip Anderson pada tahun 1971 menulis        sebuah artikel penting berjudul More is Different di        jurnal Science. Di artikel tersebut, Anderson        menjelaskan bahwa fisika telah sukses mengklasifikasi        partikel fundamental dan interaksinya untuk satu atom.        Tetapi, coba kumpulkan atom dalam jumlah besar, maka        ceritanya menjadi lain sama sekali. Oleh karena itu,        kimia adalah ilmu tersendiri, bukan bagian dari fisika.        Selanjutnya biologi tidak bisa direduksi menjadi kimia,        begitu pula ilmu kedokteran bukan sekadar bagian biologi.        Di skala yang lebih besar lagi kita temukan ilmu ekonomi        dan sosiologi yang tidak dapat dijelaskan hanya dari        pengetahuan psikologis, biologis, apalagi fisika. &lt;/span&gt;       &lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sampai akhir abad lalu, banyak ilmuwan kurang        memperhatikan masalah agregasi ini kecuali para sosiolog.        Hampir seluruh masalah di sosiologi adalah masalah        agregasi: bagaimana aktivitas sekolompok individu dapat        menimbulkan efek sosial yang diamati. Inilah yang        membuat sosiologi sangat sulit. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Sistem sosial adalah sistem kompleks yang terdiri dari        individu-individu yang tingkah lakunya sering        membingungkan dan tidak bisa diprediksi. Tetapi jika        individu berkumpul dalam jumlah cukup banyak kadang kita        dapat mengerti sifat dasar kelompok tanpa harus        mengetahui perilaku detail anggota kelompok. Di sinilah        uniknya penelitian mengenai sistem kompleks. Di satu        sisi, meskipun kita tahu pasti perilaku individu ini        tidak menjamin kita dapat mengetahui perilaku        kolektifnya. Sebaliknya, terkadang kita dapat mengerti        perilaku kolektif tanpa perlu mengetahui secara pasti        karakteristik dan sifat anggota kelompoknya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Cerita berikut bisa memberikan ilustrasi. Beberapa tahun        yang lalu para insinyur listrik di Inggris bingung        karena adanya lonjakan pemakaian listrik tiba-tiba        secara bersamaan di seluruh Inggris. Meskipun lonjakan        ini hanya berlangsung beberapa menit saja, tetapi cukup        membahayakan jaringan listrik di Inggris karena terjadi        secara simultan. Akhirnya mereka dapat mengetahui bahwa        lonjakan tiba-tiba tersebut terjadi paling parah ketika        sedang berlangsung pertandingan final sepak bola liga        Inggris, di mana seluruh penduduk Inggris menontonnya di        televisi masing-masing. Saat istirahat pergantian babak,        secara serentak mereka menyalakan kompor untuk memasak        teh. Secara individu orang Inggris sangatlah kompleks        seperti halnya setiap manusia di dunia. Tapi, kita tak        perlu mengetahui banyak tentang mereka untuk memprediksi        lonjakan pemakaian listrik jika kita tahu bahwa orang        Inggris menyukai sepak bola dan teh. Untuk kasus ini        individu dapat direpresentasikan secara sederhana.       &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;       &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;       Jika individu dapat direpresentasikan secara sederhana,     
